Solusi Krisis Pakan ala Mahasiswa Polbangtan Manokwari

Bagi para petani di wilayah Papua Barat, keberadaan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari sangat diperhitungkan dan terbukti bermanfaat. Itulah yang terlihat saat sejumlah mahasiswa Polbangtan Manokwari terjun langsung memberikan penyuluhan ke Kampung Aimas, Satuan Perumahan (SP) 3, Distrik Prafi (TDKPP), Manokwari, Papua Barat, Sabtu (23/2). Kunjungan itu adalah tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Polbangtan Manokwari dan peternak kambing setempat. “Mahasiswa kami libatkan dalam membantu peternak untuk menangani krisis pakan,” kata Wakil Direktur I Polbangtan Manokwari yang sekaligus sebagai dosen pembimbing lapangan Susan C. Labatar.

Berdasarkan temuan di lapangan, peningkatan jumlah populasi ternak sempat membuat peternak kesulitan memperoleh pakan dengan jumlah yang lebih besar lagi. Contohnya, seperti yang dirasakan Samio. Awalnya, lelaki pemilik 36 ekor kambing peranakan etawa (PE) itu mengaku tak bermasalah dalam proses penggemukan piaraannya. Namun seiring berkembang usaha, dia mulai kerepotan mencari pakan. Apalagi kini, populasi kambing PE Samio sudah sebanyak 48 ekor.

Kondisi Samio tentu tak bisa diabaikan. Berbekal itulah Susan mendaulat para mahasiswa semester tujuh Program Studi Peternakan dan Kesejehteraan Hewan untuk berbagi ilmu pemanfaatan batang dan kulit pisang sebagai pakan alternatif ternak kambing kepada Samio dan peternak lain di Kampung Aimas.

Di sesi penyuluhan terlihat proses pembuatan pakan yang cukup mudah. Batang dan kulit pisang dicampur ampas tahu serta dedak yang difermentasi menggunakan suplemen organik cair (SOC). Setelah proses fermentasi usai, Samio diajak memberikan pakan tadi pada ternaknya. Terlihat jelas, pakan fermentasi tersebut disantap lahap kambing-kambing milik Samio. “Saya sangat terbantu dengan kedatangan rekan-rekan dari Polbangtan Manokwari, khususnya dalam mengatasi masalah kekurangan pakan,” ujar Samio. Dia berkeyakinan pengembangan usaha pertaniannya sudah bisa teratasi hingga di masa mendatang dengan solusi pemanfaatan batang dan kulit pisang.

Kesempatan ini juga dijadikan momentum penting para mahasiswa untuk melihat langsung aktivitas Samio, sang peternak. Selain beternak kambing, Samio pun menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system) di lahan seluas dua hektare miliknya. Seluruh kotoran kambing diolah menjadi pupuk sebagai sumber nutrisi beragam tanaman. Mulai dari kelengkeng, labu madu, buah naga, hingga pohon kapuk. Sebagai penyangga buah naga, Samio sengaja menggunakan pohon kapuk sebagai media lilitan batang buah naga.(Nurtania Sudarmi/EPN)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *