Tertarik Budidaya Hidroponik, Mahasiswa STPP Gowa ini Langsung Beraksi

Mahasiswa Tingkat II Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa, Reza Pahlawan yang berasal dari Kabupaten Pangkep ini dengan cekatan merangkai pipa-pipa paralon yang rencananya akan dibuat tempat budidaya sayuran hidroponik. Reza sangat ingin mengembangkan budidaya tanaman hidroponik dengan memanfaatkan lahan yang ada di Kampus STPP Gowa.

“Saya sudah mempersiapkan pipa ini sejak beberapa minggu, hari ini saya akan tanam perdana. Ini dilakukan setelah 21 hari melaksanakan praktik kerja lapangan di salah satu perusahaan yang memproduksi sayuran secara hidroponik. Saya sangat termotivasi dengan apa yang saya lihat selama melakukan PKL diperusahaan tersebut dan pemilik perusahaan juga aktif memberikan informasi yang saya butuhkan. Pokoknya saya manfaatkan waktu PKL untuk berguru ilmu hidroponik,” ujar Reza penuh semangat.

Reza, anak penyuluh pertanian di Kabupaten Pangkep ini tertarik dengan sistem hidroponik karena ternyata metode budidaya ini mudah dan praktis. “Seperti yang saya bayangkan sebelumnya, tidak memerlukan banyak biaya dan tenaga kerja, dan sangat cocok digeluti oleh mahasiswa yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan, doakan saya semoga panen nanti sesuai dengan harapan saya, saya ingin budidaya tanaman bayam merah,” ujarnya penuh harap.

Michael Böhme Berbagi Ilmu Holtikultura Versi Jerman

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kedatangan tamu penting, Selasa (4/12). Dalam acara kuliah umum bertema holtikultura, kampus di kawasan Cibalagung, Bogor, Jawa Barat itu berkesempatan mendapat paparan langsung dari sang pembicara utama, Michael Henry Böhme dari Humboldt University of Berlin, Faculty of Life Sciences, Horticultural Plant Systems Department. Acara kuliah umum itu dibuka Wakil Direktur I Tri Ratna Saridewi, seraya memperkenalkan keberadaan dan kiprah Polbangtan Bogor kepada Profesor Böhme.

Dalam paparannya, Böhme mempresentasikan sejarah ilmu hortikultura. Penyandang gelar profesor dan doktor ilmu pertanian plus doktor peraih gelar honoris causa bidang multimedia itu pun membeberkan fakta perkembangan holtikultura dan permasalahan seputar konsumsi sayuran beserta fakta-fakta hasil penelitiannya di Negeri Tembok Berlin.

Para peserta kuliah umum yang terdiri dosen dan mahasiswa jurusan Pertanian tampak antusias. Di acara yang dipandu dosen jurusan Pertanian Yull Harry Bahar itu, mereka melontarkan sejumlah pertanyaan. Termasuk, kiat bila mau mengaplikasikan ilmu ala Michael di Polbangtan Kota Hujan.

Di penghujung acara, Böhme bertestimoni di hadapan sejumlah awak media massa. Ahli hortikultura itu mengaku bangga dan gembira, telah berbagi ilmu di Polbangtan Bogor. Menurut dia, antusiasme peserta layak mendapatkan apresiasi.

“Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP)”, Semangat Baru Para Generasi Muda Bidang Pertanian

Inilah saatnya membangkitkan kembali pertanian di Indonesia, Petani Indonesia terancam punah. Saat ini rata-rata usia petani nasional mayoritas berumur 45 tahun ke atas. Bahkan, rata-rata usia petani di tiga desa pertanian padi di Jawa Tengah mencapai 52 tahun.

Namun, kaum muda yang bersedia melanjutkan usaha tani keluarga di sana hanya sekitar 3 persen. Ini artinya, ke depan tidak ada lagi generasi baru petani. Tragisnya, ketika banyak orang meninggalkan desa maka kebutuhan pangan akan diimpor dari luar. Apalagi jika lahan tersebut diubah menjadi lahan perkebunan untuk keperluan ekspor, seperti sawit dan lain-lain. Desa yang dulunya eksportir pangan akan berubah menjadi importir. Tak cuma itu, jika lahan produktif berubah fungsi menjadi properti komersial, bayangan tentang masa depan kawasan itu menjadi kawasan bencana alam bakal tak terhindarkan. Air bersih akan menurun drastis, keseimbangan alam akan rusak oleh tatanan gedung bertingkat, dan kemiskinan sudah pasti akan kian merebak.

Keberadaan pemuda untuk melanjutkan usaha tani sangatlah penting dalam mendukung program pemerintah menjadikan Indonesia lumbung padi dunia tahun 2045. Selain untuk menjaga keberlanjutan pertanian, juga sebagai generasi penerus yang diharapkan melanjutkan usaha pertanian, melalui program yang diluncurkan Kementerian Pertanian tahun 2016 yaitu PWMP dilaksanakan dalam 3 tahapan selama 3 (tiga) tahun. Tahap pertama, dimulai dari penyadaran dan penumbuhan minat dan bakat, ini merupakan tahapan awal dengan melakukan program penyadaran akan pentingnya kewirausahaan pemuda. Tahapan awal ini juga merupakan tahapan untuk memberikan motivasi membentuk sikap dan mental serta semangat untuk berwirausaha, menggali ide-ide dan minat untuk berusaha yang sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki, dan mulai merumuskan perencanaan usaha yang akan dikembangkan berdasarkan ide-ide yang sudah muncul. Selanjutnya tahap kedua, mengembangkan usaha yang dimulai dari Rencana usaha yang telah dibuat baik secara rinci maupun global, tertulis maupun tidak tertulis selanjutkan akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha.

Rencana usaha akan menjadi panduan bagi pelaksanaan usaha yang akan dilakukan seorang wirausahawan. Dalam kegiatan implementasi rencana usaha, seorang wirausahawan akan mengerahkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan seperti modal, material dan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan usaha. Setelah

itu tahap ketiga, yaitu tahap pemandirian, dimana keadaan ketika kelompok mampu memutuskan dan melakukan sesuatu secara bersama dengan anggota kelompoknya. Pada tahapan ini kelompok peserta PWMP memiliki sikap mandiri, hampir selalu bisa mengusahakan keperluan usahanya dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Kelompok peserta PWMP merupakan alumni Perguruan Tinggi Mitra yang menerima manfaat bantuan operasional sebesar Rp. 35,000,000,-/per-kelompok, selanjutnya untuk mahasiswa/i Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, dan siswa/i Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan menerima manfaat bantuan beasiswa sebesar Rp. 15,000,000,-/per-kelompok.

Pelaksanaan PWMP di tahun 2017 merupakan proses pengembangan wirausaha yang mana kelompok peserta sudah siap mengembangkan produk-produknya dari segi kualitas dan kuantitasnya. Melalui Tahap Pengembangan Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian, Generasi Muda Pertanian diberikan kesempatan untuk mengembangkan usahanya dibidang pertanian, peternakan dan perkebunan baik budidaya, pengolahan maupun sampai pemasarannya. Tahap ini diarahkan untuk scaling up start up kemikro, mikro keusaha kecil dan usaha kecil ke menengah melalui proses inkubator, mentoring, coaching, accelerator, kolaborasi, dan partnership. Kemudian, Tahap ini dilakukan melalui bantuan promosi dalam berbagai event dan kesempatan. Untuk tahap pengembangan ini dibutuhkan pendamping dengan kompetensi lebih khusus lagi sebagai coach, certifified trainer, livelihood adviser, ahli klaster dll.
-Fika Artarini-

Polbangtan Diluncurkan, Mentan: “Lulusan Harus jadi Job Creator, Bukan Cari Kerja”

Kementerian Pertanian RI meluncurkan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) di Bogor, Selasa pagi (18/9) sebagai implementasi UU Pendidikan Tinggi No 12/2012, dan Mentan Andi Amran Sulaiman mengingatkan kepada 4.487 mahasiswa angkatan pertama Polbangtan untuk lulus sebagai job creator, “bukan lagi mencari kerja.”

Mentan Amran Sulaiman mengatakan transformasi Polbangtan dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) merupakan pengejawantahan komitmen Pemerintah RI mengantisipasi perubahan dan tantangan sektor pertanian ke depan, sekaligus implementasi UU Pendidikan Tinggi, yang mensyaratkan konsep pembelajaran yang menekankan praktik 70 % melalui teaching factory disingkat TeFa ketimbang teori hanya 30 %.

 

“Perubahan ini tidak dimaksudkan sekadar mencetak tenaga terampil di sektor pertanian. Lebih dari itu, menciptakan para wirausahawan muda pertanian. Lulus dari Polbangtan harus menjadi job creator, bukan mencari kerja,” kata Mentan. Menurutnya, Polbangtan akan menerapkan konsep pembelajaran yang menekankan pada kegiatan praktik melalui TeFa, untuk meluluskan sarjana sains terapan dengan orientasi menjadi wirausahawan muda pertanian melalui konsep pendidikan dan pengajaran 30 % teori dan 70 % praktik.

“Model pembelajaran ini mengajak mahasiswa masuk ke lingkungan sesungguhnya di tempat kerja. Tujuannya menumbuhkan kemampuan kewirausahaan dari mahasiswa yang mengembangkan produk berorientasi pasar dan diminati konsumen,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono kepada pers. Menurutnya, STPP yang semula berorientasi menghasilkan penyuluh pertanian dan peternakan, maka lulusan Polbangtan diarahkan menjadi job creator yang berjiwa wirausaha atau socioagropreneur dengan keahlian tertentu di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Enam Kampus Kelembagaan Polbangtan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 25/2018 tentang Organisasi Tata Kerja Polbangtan berlaku untuk enam kampus STPP di seluruh Indonesia yang beralih peran dan fungsi STPP Medan menjadi Polbangtan Medan, STPP Bogor menjadi Polbangtan Bogor, STPP Magelang menjadi Polbangtan Yogyakarta – Magelang, STPP Malang menjadi Polbangtan Malang, STPP Gowa menjadi Polbangtan Gowa, dan STPP Manokwari menjadi Polbangtan Manokwari. “Polbangtan mengusung 13 Prodi untuk meningkatkan pengembangan pendidikan dan kualitas sarjana terapan sesuai visi Polbangtan menjadi politeknik pembangunan pertanian unggulan,” kata Momon Rusmono.

Dari 13 Prodi, sembilan di antaranya dengan jenjang sarjana terapan disingkat S.Tr antara lain Penyuluh Pertanian Berkelanjutan, Penyuluh Perkebunan Presisi, Teknologi Produksi, Penyuluhan Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agribisnis Hortikultura, Teknologi Benih, Teknologi Pakan Ternak, Produksi Ternak, dan Agribisnis Peternakan.

Berumur 1 tahun, UKM English Club Polbangtan Gowa Makin Eksis

Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa saat ini menjalankan 1 program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan bagi Polbangtan Gowa yang saat ini menuju World Class University.

UKM English Club Polbangtan Gowa ini digawangi oleh Miftahul Fauzie, Risha, Lukas, Asrul dan Elvira yang menurut mereka, hal ini untuk mengakomodir minat dan bakat mereka dalam hal pengusaaan bahasa inggris dan club ini sudah terbentuk setahun yang lalu.

Kami berharap dengan kegiatan ini dapat menambah modal kami sebagai mahasiswa kedepannya. Kita tahu bahwa penguasaan asing menjadi salah satu tolak ukur ke-profesionalan seseorang, ujar Miftahul Fauzie, Ketua UKM EC.

Program English Club dilaksanakan setiap Kamis, pukul 16.00. Sebagai fasilitator kami dibantu Bapak Sultan Baa, S.S., M.Ed., PhD dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Untuk saat ini, sebanyak 35 mahasiswa dari 4 prodi di Polbangtan Gowa yang antusias mengikuti kegiatan. Kami tidak membatasi, silahkan bagi siapa saja, selama mereka adalah mahasiswa Polbangtan Gowa, silahkan bergabung.

Sebagai fasilitator, Sultan Baa cukup memberikan apresiasi dengan peserta mahasisaa Polbangtan Gowa karena rata-rata level mereka sudah pada level intermediete jadi tinggal dipacu di practicing speakingnya dan listening.

Direktur Polbangtan Gowa, Dr. Ir. Syaifuddin, MP sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ini dapat merubah stigma bahwa mahasiswa pertanian itu juga dapat menguasai bahasa asing. Kegiatan ini akan kami dukung, ini juga senada dengan arahan Menteri Pertanian yang mengharapkan agar mahasiswa Polbangtan itu Profesional, Mandiri dan Berdaya Saing.

Mahasiswa Polbangtan Bogor Siap Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Permasalahan sampah di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor sudah sejak lama ditangani, yang diinisiasi oleh alumni dan mahasiswa melalui program SEMESTA. Akan tetapi kegiatan ini belum dilaksanakan secara maksimal. Hari ini 8/12/2018 Polbangtan Bogor membuktikan keseriusannya mendorong mahasiswa mengubah sampah menjadi berkah dengan mengadakan sosialisasi penanganan sampah (waste management) di Aula Kampus Cibalagung.

Sosialisasi kepada pengurus BEM dan para Lurah Asrama Polbangtan Bogor dengan nara sumber Taufan Budiarto dari PT Nestle Indonesia. Menurut Taufan, PT Nestle Indonesia yang  sudah  memiliki program Zero Waste to Landfill sejak Agustus 2018 di Head Office Nestle di Jakarta Selatan. “Program ini bisa diadopsi oleh Polbangtan Bogor dengan melakukan pemilahan sampah yang  dimulai di kamar asrama mahasiswa dan pembuatan lubang-lubang  biopori di sekitar kampus  khususnya di asrama dan rusun.”

“Dengan adanya lubang biopori tersebut  selain untuk lubang resapan air dan membuat tanah lebih sehat juga akan membantu penanganan terhadap  sampah/limbah organik,” jelas Taufan.

Semoga program pengelolaan sampah ini segera terwujud di Polbangtan Bogor, dengan mengoptimalkan potensi dan sumber daya untuk berkontribusi terhadap upaya melestarikan lingkungan. Kuncinya adalah komitmen civitas akademika untuk  turut berperan secara aktif bersama-sama sehingga memudahkan pencapaian zero waste to landfill. [WT & AP]

Polbangtan Harus disegani Dunia dan Berstandar Internasional

Yogyakarta, DIY,BeritaRaya Online,- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta agar Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang ada di Indonesia, disegani di dunia dengan menerapkan standar pendidikan Internasional. Amran menyampaikan hal ini dalam kunjungan kerjanya ke Polbangtan Yogyakarta, Selasa (27/11/2018). “Saya tugaskan staf khusus Mentan untuk melakukan audit di seluruh Polbantan di Indonesia. Saya ingin semua berstandar Internasional”, ujar Amran optimistis.

Mentan juga berpesan kepada para mahasiswa Polbangtan agar turut mewujudkan cita-cita ini. Salah satunya dengan mengubah kebiasaan. Ia memberi contoh misalnya dengan mulai membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. “Jangan takut salah gunakan bahasa Inggris, campur aduk bahasa Indonesia dan Inggris tak apa. Kamu tonton siaran BBC, CNN tiap malam 2 jam.

Ubah kebiasaan, lalu ulangi”, terang Amran. Dengan begitu, menurut Amran para mahasiswa Polbangtan yang ada dihadapannya akan merasakan manfaat The Power of Habbit The Power or Repetition. Mengubah dengan kebiasaan. “Itu akan menjadi kekuatan besar. Jadi mulai hari ini you speak english. Bisa kan? Ajak teman-temanmu. Jadi caranya pertama, my suggestion ajak teman pergi lalu kalian discuss about agriculture, about infrastructure,”lanjutnya.

Amran juga berpesan agar para mahasiswa Polbangtan tidak mudah mengeluh jika ingin menjadi orang besar. “Jangan mengeluh, kalau ada orang mengeluh gagal. Dan kalau gagal jangan menyerah. Gagal adalah cara Tuhan agar kita menikmatinya saat sudah sukses,” pesannya.

Setelah mengubah kebiasaan, meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan-kebiasaan baik, Amran memotivasi para mahasiswa agar memiliki mimpi besar.
“Aku tanya kalian, ingin sukses? Ingin jadi konglomerat? Hari ini kamu harus punya mimpi besar. Setelah punya mimpi besar, kamu harus yakin aku bisa jadi pemimpin besar, konglomerat dunia. Setelah yakin, buang kebiasaan yang buruk, buang mulai hari ini,”tambahnya.

Ia meyakini, jika semua mahasiswa berproses untuk melakukan kebiasaan baik insya ALLAH akan jadi orang hebat. Terlebih kini tengah berada dalam sistem yang teratur pada lingkungan lembaga pendidikan.
Transformasi Polbangtan Bangun Semangat Wirausaha Pertanian Polbangtan adalah institusi pendidikan tinggi vokasi, di bawah binaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), yang merupakan transformasi dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP).

Transformasi ini diharapkan akan melahirkan kembali tenaga terampil di bidang pertanian yang punya semangat wirausaha atau socioagripreneur. Untuk mencapai cita-cita ini Kementan menjalin kerjasama dengan 29 Perguruan Tinggi untuk Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), dan beberapa perusahaan swasta yang bergerak di sektor pertanian. Empat ribu lebih mahasiswa menyebar di enam Polbangtan di seluruh Indonesia. Yaitu Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta –Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari.
(Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian)
Editor : Lasman Simanjuntak