PWMP SMK-PP Negeri Kupang Unjuk Penerapan Ilmu

Tulisan “Jual Ayam Potong” boleh jadi menyita perhatian siapa pun yang berlalu-lalang di depan pagar Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Negeri Kupang di Jalan Timor Raya Kilometer 39. Kalimat pendek dan tegas itu pun hanya dibuat secara sederhana pada sebuah papan kayu berwarna merah dan hijau. Beberapa menduga, ada yang iseng menempel iklan berjualan. Maklum, tentu tak sembarang informasi bisa bebas terpampang di areal sekolahan. Dan memang, jarang pula ada lembaga pendidikan yang mengizinkan siswa buat menerapkan ilmu yang didapat, langsung di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan vokasional sektor pertanian yang satu ini sepertinya mau menegaskan, bahwa teori dan praktik bakal efektif bila dijalankan berbarengan. Dan itu terbukti, di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para pencetus aksi pemelihara ayam broiler tersebut adalah tiga anggota kelompok Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) asal SMK-PP Negeri Kupang Tahun Angkatan 2018. Jino, Riki, dan Haji–begitu mereka biasa disapa–memang aktif serius berkutat dengan urusan ayam. Kiprahnya dimulai dengan 200 ekor ayam broiler sejak Mei 2019. Terhitung hingga pertengahan November silam, ketiganya sudah memasuki periode keempat pemeliharaan bisnis unggas. Total hingga saat itu, jumlah ayam broiler yang dipelihara sudah mencapai seribu ekor.

Karena memang ‘berilmu’, mereka tak mengalami kendala berarti dalam memelihara ayam broiler tadi. Produk ayam peternakan kelompok bernama Unggas Makmur dan Ternak Maju Bersama ini selalu mencapai target bobot badan dan habis diborong pelanggan. Belakangan PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mulai membudidayakan ayam buras beberapa bulan belakangan. Bahkan, mereka pun mengembangkan usaha sebagai broker, membeli ayam dari peternak untuk dijual kembali.

Belum lama berselang, ide melebarkan pasar ayam peliharaan mengemuka. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang mulai mencoba menjual ayam broiler di Pasar Lili, di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Sepuluh ekor ayam pertama yang sedianya dijual hari itu. “Alhamdulillah, semua ayam habis terjual saat menjelang siang,” kata Haji, yang bernama lengkap Mahdi Saleh Ajizi Lenamah, senang bukan kepalang.

Sebenarnya, trio pencetus ide memelihara dan menjual ayam broiler tak sendirian. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang terdiri dari Claris Fransiska Tanmenu, Kristofel Nathan Maliti, Nikolaus Oemolos, Anwar Ricardo Bees, Dominggus Jino Antonius Parera, dan Mahdi Saleh Ajizi Lenamah. Dalam usaha budi daya ayam broiler pun mereka dibantu sang pembimbing, Yusuf Mozes.

Kiprah PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran pimpinan sekolah. “Kalau bisa, ketika lulus mereka terus berwirausaha sehingga dapat berkontribusi untuk pembangunan pertanian di NTT,” ujar Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stepanus Bulu.

Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga menggandeng kerja sama dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) RAN28. KUB RAN28 adalah kelompok PWMP alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang yang berbasis di Kupang, yang juga berwirausaha komoditas ayam broiler, khususnya pemotongan ayam. Kerja sama yang diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) antara KUB RAN28 dan Kepala Sekolah SMK-PP Negeri Kupang tersebut meliputi penyediaan bibit, pakan, persiapan kandang, manajemen pemeliharaan, hingga pemasaran.

Nikodemus Luku Usfinit dan Matheus Mado dari KUB RAN28 mengamini Stepanus. Mereka berharap, melalui wirausaha ini siswa-siswi SMK-PP Negeri Kupang tidak lagi mencari kerja ketika lulus (job seeker), tapi justru hadir sebagai pembuka lapangan pekerjaan (job creator).(Aisy Karima Dewi/EPN)

Gebrakan Mentan: Humas Pilar Informasi Kedaulatan Pangan

Penyebarluasan informasi menjadi permasalahan penting menyoal beragam kebijakan yang dilaksanakan pemerintah demi memakmurkan negeri, khususnya dari Kementerian Pertanian. Pasalnya jelas, berbagai terobosan tengah gencar dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan, tepatnya sebagai bagian dari Program 100 Hari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Misalnya tentang konsep Single Data buat mengembangkan Agriculture War Room (AWR), membangun Komando Strategis Pertanian hingga ke tingkat kecamatan, serta membangun ketersediaan komoditas pangan. Sang penyebar informasi adalah pelaku internal kementerian yang memang ditunjuk selaku ujung tombak sosialisasi program, di setiap lini kementerian.

Merujuk hal itulah, Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menyelenggarakan pelatihan dengan jendela besar soal sosialisasi kebijakan kepada 10 instansi di bawah Pusdiktan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan. Acara yang berlangsung di Hotel Platinum Adisucipto, Yogyakarta, yang dilaksanakan selama tiga hari di pertengahan November silam itu dihadiri sejumlah perwakilan dari politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) dan sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP) se-Indonesia.

Perubahan pola komunikasi yang terjadi di era digital ini menjadikan arus informasi mengalir deras dan masif. Pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola komunikasi simetris. Pemanfaatan teknologi informasi pun semakin mempercepat akses berita ke berbagai elemen media komunikasi di masyarakat. Pola komunikasi yang telah berubah di kalangan masyarakat inilah yang mesti diikuti juga dengan strategi yang sama yang dilakukan Tim Hubungan Masyarakat (humas) Kementerian Pertanian.

Menurut Kepala Bagian Humas Kementan Moch. Arief Cahyono, membangun keterlibatan publik (public engagement) bisa dilakukan dengan cara membangun kepercayaan publik dan menumbuhkan sifat kemanusiaan. “Dengan begitu, publik akan lebih respect (menghargai) dan positive thinking (berpikir positif) terhadap citra pemerintahan,” kata dia.

Arief berharap, nantinya Tim Humas Kementan bisa menjadi pemberi sinyal pertama kepada para petani yang ada di sekitar instansi. Utamanya, agar proses sosialisai program Kementan bisa cepat tersalurkan. Dan, Menteri Syahrul, Arief menambahkan, amat mengapresiasi jika Tim Humas Kementan sukses membuat dan menginformasikan content kreatif dan positif yang bertemakan pertanian kepada publik.(Rohman Jaya Anwari/EPN)

Pusdiktan Gagas Penguatan Akreditasi Polbangtan

Kualitas pendidikan vokasional dan sumber daya manusia sektor pertanian adalah hal penting yang harus mendapat perhatian penuh Kementerian Pertanian. Satu dari sejumlah upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan pendidikan pertanian yang bermutu dan mengarah pada standar pendidikan bertaraf internasional (world class polytechnic) melalui akreditasi perguruan tinggi. Langkah penjaminan mutu eksternal sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi itulah yang dilaksanakan Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) selaku pembina pendidikan lingkup Kementan dengan menyelenggarakan pertemuan terfokus bertema Penguatan Akreditasi Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian di Hotel Arch, Bogor, Jawa Barat, 22-24 Oktober.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu dihadiri perwakilan Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, Polbangtan Manokwari, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia Serpong (PEPI). Diharapkan, polbangtan di masing-masing wilayah segera melakukan persiapan akreditasi dengan baik dan sesuai standar yang telah ditetapkan. “Diharapkan kebijakan penguatan kelembagaan dan ketenagaan pendidikan di politeknik kementerian pertanian dapat tersosialisasikan dengan baik sehingga rencana aksi akreditasi program studi baru politeknik dapat tersusun,” kata Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty.

Inneke menambahkan, saat ini politeknik di lingkup Kementan baru saja melakukan transformasi kelembagaan. Imbasnya adalah, ada beberapa program studi baru yang masih memiliki akreditasi minimum (C). Berdasarkan peraturan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), program studi baru harus mengusulkan akreditasi setelah 2 (dua) tahun beroperasi. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi, maka program studi baru tersebut akan meluluskan peserta didik dengan akreditasi C.

Sejumlah narasumber hadir dalam acara Penguatan Akreditasi Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian tersebut. Di antaranya perwakilan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pembinaan Kelembagaan, wakil Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; wakil Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT); perwakilan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS); dan pembicara dari Pusdiktan.

Mutu penyelenggaraan pendidikan yang sesuai standar dapat dilihat dari akreditasi sebuah perguruan tinggi. Akreditasi adalah Sistem Penjaminan Mutu Eksternal sebagai bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Hasil dari proses akreditasi tersebut dinyatakan dengan status akreditasi program studi dan akreditasi perguruan tinggi. Sebagai bagian dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Pusdiktan mengemban tugas pengawasan atas akreditasi tujuh politeknik dan tiga sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP) yang tersebar di sejumlah wilayah di Tanah Air.

Sijamu, Cara Pusdiktan Audit Kualitas Pendidikan

Pola kerja efektif dan efisien adalah langkah strategis Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) dalam mengawasi keberlangsungan sistem kelembagaan pendidikan vokasional pertanian di lingkup Kementerian Pertanian. Berbasis itulah, Pusdiktan mulai menerapkan aplikasi Sistem Informasi Jaminan Mutu (Sijamu) untuk memantau langsung mutu internal pendidikan tinggi pertanian. Pelatihan operasional Sijamu bertajuk Workshop Audit Mutu Internal Pendidikan Tinggi tersebut diselenggarakan di Bogor, 8-10 Oktober silam.

Menurut Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty, pelatihan kali ini dalam rangka memfasilitasi Audit Mutu Internal (AMI) agar sesuai standar Auditor Politeknik yang sudah ditetapkan. Tujuannya jelas, supaya meningkatkan kinerja manajemen unit kerja di lingkungan polbangtan, memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, dan mendongkrak akreditasi institusi dan program studi polbangtan.

Pelatihan Sijamu diikuti 16 orang perwakilan dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) dari seluruh Indonesia. Yakni dari Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang (YoMa), Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari. Mereka mendapatkan bimbingan dan pendampingan langsung kiat mengoperasikan Sijamu yang berbasis laman online. Syaratnya, para peserta mesti melengkapi berbagai dokumen yang akan dijadikan acuan standar mutu pendidikan.

Polbangtan Yo-Ma Komitmen Dukung Sektor Pertanian Kabupaten Lingga

Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang [Polbangtan YoMa] menegaskan komitmennya mendukung pembangunan sektor pertanian Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, selaras dengan target Lingga menjadi ´lumbung pangan´ di kawasan perbatasan dengan mengirimkan 34 mahasiswa/i untuk mengikuti pendidikan vokasi jurusan pertanian di Yogyakarta 23 orang, dan 11 orang di jurusan peternakan Magelang.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Polbangtan YoMa, Rajiman saat menerima kunjungan Wakil Bupati Lingga M. Nizar didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan [PKP] Hernowo Andrianto, Kabid Pertanian Amran Salim; Kasie Peningkatan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Ahmad Zahari, Kasie Sarana Prasarana dan Pemasaran Hasil Pertanian, Camat Lingga Yulius, dan Taufik S.P. selaku penyuluh pertanian dan petani Lingga.

Rajiman mengapresiasi komitmen Pemkab Lingga membangun pertanian sebagai sektor andalan ekonomi daerah, mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan negeri jiran. Hasil pertanian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan daerah secara mandiri, kelebihan produksi untuk ekspor ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia. “Ketahanan pangan adalah keniscayaan. Pertanian masa depan adalah pertanian modern, efektif dan efisien dengan aplikasi teknologi. Bukan lagi zamannya mengolah lahan pertanian dengan cangkul,” katanya.

Pertemuan diisi dengan penyampaian informasi program dan kegiatan Polbangtan Yoma untuk mendukung pembangunan pertanian Kabupaten Lingga. Manfaat proses pembelajaran mahasiswa asal Kabupaten Lingga, pengenalan kampus dan kebun praktik, budidaya tanaman pangan dan pengelolaannya, serta kunjungan lapang di kelompok tani mitra.

Wakil Bupati M. Nizar menyampaikan bahwa Pemkab Lingga bertekad menjadikan ´Bumi Bunda Tanah Melayu´. Yakni, sebagai kawasan unggul sektor pertanian didukung kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka, salah satunya adalah Polbangtan Yoma.

Pertemuan dengan para mahasiswa/i utusan Pemkab Lingga diisi diskusi tentang pengalaman kehidupan kampus dan pelaksanaan pendidikan.

Diharapkan, kunjungan wakil bupati beserta rombongan dapat memotivasi mahasiswa dan memperkuat sinergi antara Pemkab Lingga dengan Polbangtan YoMa, serta harapan kontribusi saat menjadi mahasiswa, maupun setelah lulus kelak dapat menjadi pelopor dan inovator sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Lingga mendukung pembangunan pertanian Indonesia.

Opal Polbangtan Manokwari Contoh Pemanfaatan Pekarangan

Merujuk Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10 Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 22 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10 Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019. Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari diharapkan menjadi sarana percontohan program Opal, dimana memanfaatkan pekarangan untuk ditanami aneka tanaman buah dan sayuran. “Program Kementan yang mengharapkan semua UPT Kementerian Pertanian yang ada di daerah maupun pusat menjadi show window bagi masyarakat sekitar,” ujar Direktur Polbangtan Manokwari Purwanta, Rabu, (11/9/2019).

Lanjut, kata dia, tujuan dan sasaran OPAL sendiri yaitu pemanfaatan lahan perkantoran untuk penyediaan pangan dan gizi. Sebagai sarana percontohan untuk masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi. “Paling tidak bisa menjadi contoh untuk internal UPT dan juga dijadikan contoh untuk lahan pekarang

Peringati Sumpah Pemuda, Polbangtan Malang Deklarasikan Agen Perubahan

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Polbangtan Malang, Senin (28/10/2019) dilakukan dengan menggelar upacara dan deklarasi. Pimpinan dan dosen kampus pertanian ini mendeklarasikan agen perubahan. Deklarasi yang berlangsung di lapangan rektorat di sela upacara yang diikuti oleh seluruh civitas akademika. Direktur Polbangtan Malang Bambang Sudarmanto memimpin langsung upacara Hari Sumpah Pemuda ke-91 dan deklarasi tersebut.

Pembacaan Deklarasi Agen Perubahan lingkup Polbangtan Malang dilakukan oleh beberapa unsur pimpinan, dosen, dan tenaga pendidik. Deklarasi berisikan ikrar dan komitmen dalam melaksanakan tugas dan fungsi, antara lain mendorong dan menggerakkan pegawai turut menjadi bagian dalam perubahan yang lebih baik, mengembangkan nilai-nilai budaya kerja pegawai, penegakan disiplin, monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana aksi.

Direktur Polbangtan Malang mengatakan bahwa agen perubahan dibentuk agar ada perubahan yang lebih baik lagi baik dari pegawai dan mahasiswa. “Deklarasi agen perubahan sebagai momentum pula sebagai tonggak, sebagai tokoh, sebagai tim yang diharapkan bisa menggerakkan pegawai dan mahasiswa menuju perubahan yang lebih baik,” kata Bambang Sudarmanto. Harapannya dengan agen perubahan, lanjut dia, ada percepatan serta muncul ide ide kreatif untuk terus memajukan Polbangtan Malang ini.

Sementara dalam sambutan saat menjadi inspektur upacara, Bambang menyebut Sumpah Pemuda merupakan momentum luar biasa. Dulu, kata dia, di tahun 1928 semua berjuang untuk mencapai kemerdekaan, maka sekarang memasuki zaman mengisi kemerdekaan. “Kami berharap kita semua tetap semangat, tetap kompak untuk mengisi kemerdekaan ini,” kata Bambang.

Memaknai Sumpah Pemuda, Bambang mengajak segenap civitas akademika Polbangtan Malang mengisi kemerdekaan dengan turut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Polbangtan Bogor Bersama MSM-Belanda Siap Merealisasikan Project LMSINDO

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor bersama MSM (Maastricht School Of Management)-Belanda melaksanakan pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Pusat, Sekolah Vokasi IPB, BPPP- Kupang, SMKPP Kupang dan SMKPP Waibakul Kupang sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya (Rabu, 9 Oktober 2019) sedangkan Pusat Pendidikan Pertanian- Kementan dan Kemendikbud serta Universitas Nusa Cendana yang sebelumnya dijadwalkan hadir karena beberapa hal belum bisa bergabung dalam pertemuan perdana ini.

Adapun agenda pada pertemuan kali ini meliputi: Perkenalan dengan semua mitra Indonesia LMSINDO, penjelasan MSM mengenai rencana kegiatan awal project LMSINDO dan persiapan Kick off resmi LMSINDO yang diagendakan pada tanggal 17-19 Desember 2019 di Polbangtan Bogor.

Tujuan dari project LMSINDO yaitu meningkatkan kompetensi SDM para guru-guru SMKPP di Kupang dan Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian program ini lebih difokuskan pada pengembangan produk local NTT yaitu jagung, kopi dan coklat. Kupang dan Sumba tengah dipilih menjadi lokasi project dengan pertimbangan bahwa dua lokasi tersebut mewakili daerah 3T (Tertinggal, Terluar dan Terpencil). “MSM menargetkan program ini akan berlangsung selama 2.5 tahun dan diharapkan bisa diteruskan oleh Kementerian terkait”. Ujar Mr Huub selaku Project Director. Harapan besar project ini setelah sukses dengan NTT maka akan dikembangkan menjangkau kawasan lebih besar menjadi project regional, nasional bahkan internasional.

Mitra project LMSINDO mengemukakan harapan dan ekspektasi terhadap project ini, salah satu harapan itu diungkapkan oleh Kepala SMK PP Negeri Kupang: “Agar memperhatikan kebutuhan kegiatan wilayah, kebutuhan saat ini adalah ternak sapi potong, kemudian pengembangan tanaman hortikultura serta ternak ayam petelur bagi daerah kabupaten Kupang, oleh karenanya mohon adanya bimbingan dan pelatihan dari pusat kepada guru dan para siswa-siswa kami di SMKPP Kupang-NTT”.

”Tindak lanjut pertemuan ini adalah Kick off resmi LMSINDO yang akan di gelar pada tanggal 17 dan 19 Desember 2019 di Polbangtan Bogor dan selanjutnya di susul dengan kegiatan di Kupang dengan melihat langsung lokasinya”. Ujar Rara Dewayanti.

Program YESS Bakal “Serbu” Empat Provinsi

Ada kabar baik buat kaum muda milenial di perdesaan di Tanah Air. Sedianya, tak kurang dari 340-an ribu generasi muda di kawasan perdesaan bakal menjadi target bergabung dengan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang diluncurkan Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program selama enam tahun yang diresmikan pada 11 Oktober 2019 itu akan dilaksanakan di empat provinsi, pada 15 kabupaten. Yakni di Provinsi Kalimantan Selatan (Kabupaten Banjarbaru, Tanah Laut, dan Kabupaten Tanah Bumbu); Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Bantaeng, Bone, Bulukumba, dan Kabupaten Maros); Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Kabupaten Subang); serta di Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Kabupaten Pacitan).

Sasaran Program YESS ini adalah kaum muda di perdesaan, khususnya dari keluarga kurang mampu serta generasi milenial yang berisiko besar terhadap kemiskinan. Indikator hasil kegiatan program di sektor pertanian tersebut meliputi lima bagian utama. Pertama, 32.500 orang memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian. Kedua, 33.500 orang pedesaan meningkat pendapatannya. Ketiga, 50.600 orang mengembangkan usaha di bidang pertanian. Keempat, seratus ribu orang sudah mampu menggunakan jasa keuangan, yang 4.300 di antaranya adalah rumah tangga migran muda. Yang terakhir, sebanyak 120 ribu pemuda dan pemudi memperoleh pendidikan keuangan.

Menurut perencanaan, seluruh indikator tersebut akan dicapai melalui empat kegiatan utama. Yakni, Peningkatan Kapasitas Pemuda Perdesaan di Bidang Pertanian (Rural Youth Transition to Work), Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan (Rural Youth Entrepeneurship), Fasilitasi Akses Permodalan (Investing to Rural Youth), dan Membangun Lingkungan Usaha yang Kondusif (Enabling Environment fo Rural Youth).(EPN)

Kapusdiktan: Program YESS Pas buat Petani Milenial

Kehadiran wirausaha milenial di sektor pertanian menjadi perhatian penuh Kementerian Pertanian. Di antaranya melalui Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang diluncurkan beberapa waktu lampau. Dan kini, Kementan bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) kembali fokus melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). “Program ini dibuat untuk menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas serta siap menghadapi era milenial,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Idha Widi Arsanti, sesaat setelah acara peresmian Program YESS di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (11/10).

Santi merinci, Program YESS sangat mendukung upaya pengembangan SDM pertanian. Caranya dengan memberdayakan para pemuda tani untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian di pedesaan, secara optimal, profesional, menguntungkan, dan berkelanjutan. “Mereka akan siap menghadapi era milenial,” ujar Santi optimistis.

Kementan memang selalu memfasilitasi generasi milenial untuk bisa terjun menjadi wirausaha pertanian. Mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, upaya mengedukasi generasi milenial gencar dilaksanakan dengan memberi pemahaman bahwa berusaha di sektor pertanian sangatlah menguntungkan. Pengembangan pembangunan pertanian di Tanah Air pun bisa mendongkrak nilai tambah ekonomi bila proses pengolahan dapat dilakukan sendiri. Jika di hulu, budi daya pertanian dilakukan secara modern dan pengolahan di hilir menggunakan teknologi canggih seperti pengemasan, bisa meningkatkan nilai komoditas hingga 200 persen.

Dana yang digelontorkan IFAD untuk Program YESS mencapai US$ 55,3 juta untuk pelaksanaan selama enam tahun, 2019-2025. Menurut Manager IFAD Program YESS Nicholas Syed, sektor pertanian di seluruh dunia menghadapi persoalan senada: jumlah petani muda yang mau turun di sektor pertanian semakin berkurang. Padahal, melalui teknologi dan daya kreativitas generasi milenial, peluang menjadi wirausaha sektor pertanian justru terbuka lebar. Dan IFAD hadir memberikan stimulan dalam bentuk dana pengembangan bagi wirausahawan di Indonesia. “Program wirausaha yang dirintis Kementan sudah sangat baik dan bisa menjadi contoh,” kata dia.(EPN)