Samakan Persepsi Panitia Pusat dan Daerah, Pusdiktan Gelar Koordinasi PWMP

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menggelar pertemuan koordinasi Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) tahun 2020 di Ballroom Hotel Savero Depok.  Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti membuka acara ini secara resmi, Rabu (12/2). PWMP adalah salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk regenerasi petani. Untuk menarik generasi muda di bidang pertanian, pemerintah membuka akses untuk membuka usaha di sektor pertanian. “Harapannya dapat mencetak agrosociopreneur,” ujar Santi saat memberikan arahan.

Hadir dalam pertemuan ini 80 peserta, meliputi panitia dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Perguruan Tinggi Mitra, Politeknik Negeri Mitra, Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP), Pondok Pesantren, Narasumber, beserta panitia pusat Pusdiktan. Sejak tahun 2016, telah dihasilkan 1515 kelompok PWMP yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Melalui pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan dan pemahaman tentang mekanisme kerja PWMP tahun 2020. (Ageng Sulaiman)

Tim EPIS Korea Selatan Kunjungi Polbangtan Bogor

Direktur Politeknik Pertanian Pembangunan (Polbangtan) Bogor Siswoyo menerima kunjungan The Korea Agency of Education, Promotion And Information Service in Food, Agriculture, Forestry, And Fisheries (EPIS) pada penghujung Januari 2020. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat peluang kerja sama yang dapat dilakukan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Korea Selatan di bidang penyuluhan dan pengembangan sumberdaya manusia pertanian.

Ketua tim EPIS Sanghun Lee disambut oleh Siswoyo beserta jajarannya setiba di kampus Cibalagung, Polbangtan Bogor. Tampak hadir perwakilan dari sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Pelatihan Pertanian, dan Pusat Pendidikan Pertanian.

Polbangtan Bogor menjadi kunjungan terakhir setelah sebelumnya tim EPIS mengunjungi beberapa lokasi pertanian di Jawa Barat. Dalam pertemuan ini, Siswoyo mempresentasikan profil Polbangtan Bogor. Dilanjutkan Sanghun Lee mempresentasikan teknologi  Korea Smart Farm atau K-Smart Farm. Pertemuan diakhiri dengan kunjungan ke lahan praktikum.

Tindak lanjut kunjungan ini disepakati Polbangtan Bogor akan mengajukan proposal smart green house. Salah satu syarat dapat dibangunnya smart green house adalah membutuhkan luas lahan 1 hektar dengan tanah yang datar. “Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dengan tim, tanah di Kampus Cibalagung tersedia dan cocok untuk melaksanakan proyek ini,” ujar Siswoyo. Tim EPIS berharap proposal tersebut dapat disampaikan sebelum Juni 2020. (Ageng Sulaiman)

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

“Ketahanan suatu negara ditentukan oleh ketahanan pangan”

Demi Mutu, Pusdiktan Mengkaji Kurikulum PEPI

Mutu pendidikan di Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) adalah persoalan penting bagi sektor pertanian di Tanah Air. Dalam rangka itulah, Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menyelenggarakan pertemuan dengan fokus pembahasan menyoal dokumen kurikulum PEPI, di Kampus PEPI di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Rabu (8/1).

Pertemuan kali ini dihadiri perwakilan Kepala Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) Agung Prabowo, Direktur Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Andi Nur Alamsyah, Kepala Pusdiktan Idha Widi Arshanti, jajaran pucuk pimpinan tertinggi PEPI, perwakilan Program Studi PEPI, wakil dari Perekayasa Balai Besar Mekanisasi Pertanian, jajaran Eselon 3 dan 4 Pusdiktan, serta staf Pusdiktan dan PEPI.

Pengkajian draf komisi mekanisasi memutuskan untuk menitikberatkan pada penyiapan sumber daya manusia (SDM) 4.0. “Yang meliputi Sistem Informasi Manajemen, Precision Farming, dan Cyber Physical System,” kata Agung Prabowo.

Direktur Alsintan pun memaparkan, bahwa dasar pendirian PEPI adalah adanya Balai Mekanisasi Pertanian dengan berbagai sinergi. Mulai dari sinergi yang kuat antara PEPI dan BB Mektan karena menghasilkan karya yang sama serta sinergi PEPI dan Direktorat Alsintan dalam pembuatan Teaching Factory. Selain itu, Andi Nur menegaskan, pengembangan PEPI bisa tercipta dari Sinergi tiga eselon 2 dari BB Mektan, Pusdiktan, dan Direktorat Alsintan.

PEPI adalah politeknik vokasional di bidang teknologi pertanian murni dengan target alumnus yang mampu diberdayakan di masa mendatang. Para mahasiswanya diharapkan dapat membaca permasalahan dalam mekanisasi, sehingga mampu menciptakan inovasi yang dibutuhkan. Lantaran itulah PEPI memiliki keunikan khusus di dalam kurikulumnya.(Dahlia Murwaningsih/EPN)

Pusdiktan Kawal Peserta Tugas Belajar di Unhas

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) mengawal kemajuan studi mahasiswa peserta tugas belajar Kementerian Pertanian di berbagai lembaga pendidikan nasional. Dalam rangka itulah, Tim Pusdiktan hadir langsung ke Kampus Universitas Hasanuddin di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, di penghujung Desember 2019 silam. Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti serta Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Tugas Belajar Pusdiktan Abdul Roni Angkat yang hadir mewakili Tim Pusdiktan disambut Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas Jamaluddin Jompa, perwakilan Dekan I Bidang Akademik Unhas, wakil Kepala Sub Bagian Tata Usaha Sekolah Pascasarjana Unhas, perwakilan Direktur I Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, dan perwakilan peserta tugas belajar angkatan 2015, 2018, dan 2019.

Dalam pertemuan di Ruang Rapat Sekolah Pascasarjana Unhas tersebut, Arsanti meminta agar Sekolah Pascasarjana memberikan dukungan penuh kepada peserta tugas belajar untuk segera menyelesaikan studi. Di sisi lainnya, para mahasiswa pun diimbau belajar optimal, fokus pada penelitian yang mendukung program kebijakan Kementan, menjalin komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing, dan fokus pada waktu penyelesaian studi. Tak lupa Santi juga menyarankan sesama peserta tugas belajar mau saling menyemangati untuk menyelesaikan studi tepat waktu.

Dekan Sekolah Pascasarjana spontan menanggapi. Menurut dia, secara umum perkembangan perkuliahan sebenarnya sudah berjalan baik. Pasalnya jelas, terkait program Kementan, Unhas siap menjadi mediasi antara pemerintah dan masyarakat dalam Kostratani, serta berkomitmen mendukung kontribusi mahasiswa tugas belajar.

Walau begitu Jamal pun menyarankan sumber daya manusia di wilayah timur lebih ditingkatkan. Termasuk kerja sama penelitian dosen antara polbangtan dan Unhas.(Ristiana/AHS)

Pusdiktan-PPKMP Gelar Capacity Building

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menggelar pelatihan capacity building (CB) bagi seluruh pegawai di penghujung 2019 ini. Tim fasilitator Pusat Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi dipercaya untuk memfasilitasi kegiatan ini di Komplek Bumi PPMKP Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Secara formal simbolis prosesi pelatihan dibuka Kepala Bidang Program dan Kerja Sama Pusdiktan Setya Budhi Udrayana dengan menyerahkan seluruh pegawai Pusdiktan kepada Tim Fasilitator PPMKP Ciawi, Kamis (26/12).

Kegiatan CB ini dihadiri seluruh pegawai Pusdiktan. Mulai dari kepala pusat, kepala bidang, kepala sub-bidang, hingga staf yang kompak berkaos putih dan celana jins itu tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Pelatihan capacity building ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalime seluruh pegawai Pusdiktan.

Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa kegiatan CB amat bermanfaat membangkitkan kembali energi para peserta. Khususnya, usai melaksanakan beragam kegiatan Pusdiktan yang amat padat sejak awal 2019. Arsanti berharap, seluruh pegawai akan bersiap kembali bekerja menyambut berbagai agenda kegiatan di tahun mendatang.(Ageng Hasanah Sulaiman/EPN)

Pusdiktan Pantau Peserta Tugas Belajar di Undip

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian berkunjung ke Universitas Diponegoro (Undip) dalam rangka membina dan mengawal peserta tugas belajar. Wakil Dekan I Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Limbang Kustiawan Nuswatara dan perwakilan dari Program Studi Magister Ilmu Ternak, wakil dari Program Studi Magister Agribisnis, dan mahasiswa peserta tugas belajar menyambut kehadiran Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti yang didampingi Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Tugas Belajar Pusdiktan Abdul Roni Angkat di Ruang Rapat Pascasarjana Fakultas Peternakan dan Pertanian, Kampus Undip, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/12).

Kepala Pusdiktan mengapresiasi dukungan dan upaya yang dilakukan lembaga Pascasarjana Undip yang turut mendorong peserta tugas belajar untuk menyelesaikan studi. Santi, begitu dia biasa disapa, meminta agar peserta tugas belajar lebih fokus lagi pada penelitian dan termotivasi untuk segera menyelesaikan studi tepat waktu. Pada kesempatan ini, para peserta tugas belajar S2 dan S3 pun menyampaikan tantangan dan kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian studi.

Limbang mengamini harapan Santi. Dia menyumbang saran, sebaiknya persiapan publikasi jurnal justru sudah dilakukan sejak semester 1. Alasannya jelas, supaya tidak mengganggu proses penyelesaian studi dan mengurangi permasalahan yang mungkin timbul dalam publikasi jurnal terindeks scopus, yang dapat meningkatkan reputasi di kancah komunikasi ilmiah secara internasional.

Santi juga menengarai bahwa sebenarnya hasil penelitian peserta tugas belajar dapat menjadi bahan masukan bagi kebijakan program di Kementerian Pertanian. Namun dengan catatan, tetap berkomunikasi dengan instansi asal untuk menindaklanjuti hasil penelitian.
Sedianya, akan dirancang bantuan penelitian sesuai dengan pengajuan proposal penelitian peserta tugas belajar di masa mendatang. Lulusan S2 dengan predikat cum laude berpeluang mengikuti program lanjutan S3 jika mendapat rekomendasi dari perguruan tinggi negeri dan izin instansi asal.(Ristiani/AHS)

Program Kostratani Maksimalkan Penggunaan Drone

Pelaksanaan program Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas, komoditas, kualitas, dan kuantitas produk pertanian telah merambah ke berbagai penjuru Tanah Air. Khususnya menyoal ketersediaan data bidang pertanian yang meliputi luas lahan, kondisi dan tekstur lahan, jenis tanah pertanian, dan lainnya. Konsolidasi persepsi kebijakan Kostratani tersebut di antaranya seperti yang berlangsung di Provinsi Sulawesi Tengah, pertengahan Desember 2019 silam di Aula Pertemuan Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Sulteng.

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan menjadi penyelenggara acara sosialisasi program Kostratani, sekaligus menyediakan dan memberi pelatihan pengoperasian pesawat tanpa awak dengan kendali jarak jauh (drone) untuk balai penyuluhan pertanian (BPP) dalam meningkatkan kualitas data pertanian. Pertemuan ini dihadiri perwakilan Pusdiktan BPPSDMP, wakil BPTP Sulteng, perwakilan dari Badan Karantina Sulteng, wakil Dinas Pertanian Provinsi Sulteng, serta sedikitnya 50 kepala balai penyuluhan pertanian (BPP), serta operator wilayah.

Peserta workshop perwakilan BPP penerima bantuan paket drone antusias dan penuh semangat mengikuti setiap alur kegiatan. Satu di antaranya saat teleconference menggunakan aplikasi di Android untuk melaporkan kondisi nyata perkembangan pertanian di kawasan masing-masing. Di ruang lainnya peserta workshop diajarkan pengenalan drone, cara pengoperasian drone, serta teknik mengaktifkan aplikasi, dan teknik perawatan drone. Para peserta tampak termotivasi untuk segera mengoperasikan alat bantu baru ini di wilayahnya.

Pusdiktan BPPSDMP optimistis melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan seperti ini dapat mendukung program dan kebijakan pemerintah untuk mendapatkan data akurat dalam mengidentifikasi berbagai macam potensi pertanian di Tanah Air. Harapannya jelas, demi mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan pada 2045.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)

Tim AWR Kementan Patok Target Kostratani

Kegiatan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kementerian Pertanian mulai gencar dilaksanakan. Satu di antaranya seperti yang dilaksanakan Tim Substansi Agriculture War Room (AWR) Kementan melalui rapat pengembangan di Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Jawa Barat, Senin (16/12). Rapat tersebut membahas target Kostratani hingga Maret 2020, terkait konsep, data, dan pengguna (user) khususnya dalam AWR Kementan. Rapat yang dihadiri Kepala Pusat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Leli Nuryati dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) BPPSDMP Idha Widi Arsanti ini juga diikuti Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Banun Harpini.

Rapat Tim AWR Kementan membahas kesepakatan soal data yang akan dibangun dari user di tingkat kecamatan. Data tersebut meliputi potensi lahan, luas tanam, luas panen, produktivitas, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), hingga alat mesin pertanian (alsintan). Data lainnya juga meliputi populasi ternak, harga produksi di level petani, informasi pasar, serta benih dan pupuk berikut harganya. Sementara untuk user level pimpinan, memerlukan ketersediaan data produksi, kredit usaha rakyat (KUR), investasi, jumlah dan nilai ekspor, jumlah kostratani, komoditas unggulan, hingga tenaga kerja.

Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti menengarai bahwa sebenarnya pengembangan AWR tidak harus dimulai dari nol. Sebab, Kementan dapat menyelenggarakan kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi yang sudah meluncurkan sistem berbasis Informasi Teknologi (IT) dalam bentuk aplikasi (start up). “Seperti Desa [Digital Extension Society for Agriculture] Apps dari UGM [Universitas Gadjah Mada], SPARS [Smart and Precision Agriculture Research Station] dari IPB (Institut Pertanian Bogor), sehingga dapat saling mendukung dan melengkapi,” kata Idha optimistis.

Sementara Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Retno Sri Hartati menekankan bahwa sesungguhnya konteks pemberdayaan masyarakat tak hanya di Kostratani, tetapi juga harus dibuka melalui peluang-peluang lainnya. Seperti di antaranya melalui koperasi atau sekolah menengah kejuruan pertanian, dengan memberdayakan unggulan lokal, atau penyuluh swadaya, dan lainnya.

Pusdiktan Dalami SPI demi Good Governance

Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (good government) adalah kalimat kunci yang tak bisa ditawar lagi. Pun demikian halnya yang diberlakukan di lingkup Kementerian Pertanian secara umum, dan khususnya Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP). Strategi pendalaman konsep itulah yang menjadi pembahasan penting dalam acara Sinkronisasi dan Implementasi Sistem Pengendalian Internal (SPI) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Pertanian yang dilaksanakan Pusdiktan di Bogor, Jawa Barat, pertengahan Desember silam.

Menurut Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti, SPI adalah proses pengawasan integral yang dilakukan secara terus menerus oleh pemimpin dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi. Di antaranya, melalui berbagai kegiatan yang efektif dan efisien, pengamanan aset negara, keandalan pelaporan keuangan, hingga ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. “Bila seluruh kegiatan di pemerintahan berjalan bersih dan transparan, tentunya akan membawa dampak positif bagi masyarakat luas pada umumnya dan pelaku dunia pertanian khususnya, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Idha. Penerapan SPI ini pun sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang selanjutnya dijabarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian No.23/Permentan/OT.140/5/2009 tentang Pedoman Umum SPI di Lingkungan Kementerian Pertanian.

Wujud nyata komitmen pelaksanaan SPI adalah melalui pembinaan peningkatan kinerja, akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, dan transparansi, yang mampu menumbuhkan tekad antikorupsi di lingkungan Kementan. Dukungan seluruh unsur di UPT Pendidikan—mulai dari pimpinan, pejabat struktural, pejabat fungsional, dan staf—sangat diperlukan. “Saya harap semua pihak bersinergi membangun sistem pengendalian intern agar menjamin semua kegiatan berjalan baik dan tercapai sesuai tujuan, serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme,” kata Idha tegas.

Kegiatan pendalaman SPI yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri peserta dari unit di bawah Pusdiktan. Yakni politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) seluruh Indonesia, Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI), Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Kupang, SMK-PP Sembawa, dan SMK-PP Banjarbaru. Wakil dari Pusdiktan dan Inspektorat Jenderal Pertanian menjadi narasumber pertemuan tersebut.