PWMP SMK-PP Negeri Kupang Unjuk Penerapan Ilmu

Tulisan “Jual Ayam Potong” boleh jadi menyita perhatian siapa pun yang berlalu-lalang di depan pagar Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Negeri Kupang di Jalan Timor Raya Kilometer 39. Kalimat pendek dan tegas itu pun hanya dibuat secara sederhana pada sebuah papan kayu berwarna merah dan hijau. Beberapa menduga, ada yang iseng menempel iklan berjualan. Maklum, tentu tak sembarang informasi bisa bebas terpampang di areal sekolahan. Dan memang, jarang pula ada lembaga pendidikan yang mengizinkan siswa buat menerapkan ilmu yang didapat, langsung di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan vokasional sektor pertanian yang satu ini sepertinya mau menegaskan, bahwa teori dan praktik bakal efektif bila dijalankan berbarengan. Dan itu terbukti, di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para pencetus aksi pemelihara ayam broiler tersebut adalah tiga anggota kelompok Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) asal SMK-PP Negeri Kupang Tahun Angkatan 2018. Jino, Riki, dan Haji–begitu mereka biasa disapa–memang aktif serius berkutat dengan urusan ayam. Kiprahnya dimulai dengan 200 ekor ayam broiler sejak Mei 2019. Terhitung hingga pertengahan November silam, ketiganya sudah memasuki periode keempat pemeliharaan bisnis unggas. Total hingga saat itu, jumlah ayam broiler yang dipelihara sudah mencapai seribu ekor.

Karena memang ‘berilmu’, mereka tak mengalami kendala berarti dalam memelihara ayam broiler tadi. Produk ayam peternakan kelompok bernama Unggas Makmur dan Ternak Maju Bersama ini selalu mencapai target bobot badan dan habis diborong pelanggan. Belakangan PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mulai membudidayakan ayam buras beberapa bulan belakangan. Bahkan, mereka pun mengembangkan usaha sebagai broker, membeli ayam dari peternak untuk dijual kembali.

Belum lama berselang, ide melebarkan pasar ayam peliharaan mengemuka. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang mulai mencoba menjual ayam broiler di Pasar Lili, di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Sepuluh ekor ayam pertama yang sedianya dijual hari itu. “Alhamdulillah, semua ayam habis terjual saat menjelang siang,” kata Haji, yang bernama lengkap Mahdi Saleh Ajizi Lenamah, senang bukan kepalang.

Sebenarnya, trio pencetus ide memelihara dan menjual ayam broiler tak sendirian. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang terdiri dari Claris Fransiska Tanmenu, Kristofel Nathan Maliti, Nikolaus Oemolos, Anwar Ricardo Bees, Dominggus Jino Antonius Parera, dan Mahdi Saleh Ajizi Lenamah. Dalam usaha budi daya ayam broiler pun mereka dibantu sang pembimbing, Yusuf Mozes.

Kiprah PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran pimpinan sekolah. “Kalau bisa, ketika lulus mereka terus berwirausaha sehingga dapat berkontribusi untuk pembangunan pertanian di NTT,” ujar Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stepanus Bulu.

Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga menggandeng kerja sama dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) RAN28. KUB RAN28 adalah kelompok PWMP alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang yang berbasis di Kupang, yang juga berwirausaha komoditas ayam broiler, khususnya pemotongan ayam. Kerja sama yang diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) antara KUB RAN28 dan Kepala Sekolah SMK-PP Negeri Kupang tersebut meliputi penyediaan bibit, pakan, persiapan kandang, manajemen pemeliharaan, hingga pemasaran.

Nikodemus Luku Usfinit dan Matheus Mado dari KUB RAN28 mengamini Stepanus. Mereka berharap, melalui wirausaha ini siswa-siswi SMK-PP Negeri Kupang tidak lagi mencari kerja ketika lulus (job seeker), tapi justru hadir sebagai pembuka lapangan pekerjaan (job creator).(Aisy Karima Dewi/EPN)

Gebrakan Mentan: Humas Pilar Informasi Kedaulatan Pangan

Penyebarluasan informasi menjadi permasalahan penting menyoal beragam kebijakan yang dilaksanakan pemerintah demi memakmurkan negeri, khususnya dari Kementerian Pertanian. Pasalnya jelas, berbagai terobosan tengah gencar dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan, tepatnya sebagai bagian dari Program 100 Hari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Misalnya tentang konsep Single Data buat mengembangkan Agriculture War Room (AWR), membangun Komando Strategis Pertanian hingga ke tingkat kecamatan, serta membangun ketersediaan komoditas pangan. Sang penyebar informasi adalah pelaku internal kementerian yang memang ditunjuk selaku ujung tombak sosialisasi program, di setiap lini kementerian.

Merujuk hal itulah, Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menyelenggarakan pelatihan dengan jendela besar soal sosialisasi kebijakan kepada 10 instansi di bawah Pusdiktan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan. Acara yang berlangsung di Hotel Platinum Adisucipto, Yogyakarta, yang dilaksanakan selama tiga hari di pertengahan November silam itu dihadiri sejumlah perwakilan dari politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) dan sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP) se-Indonesia.

Perubahan pola komunikasi yang terjadi di era digital ini menjadikan arus informasi mengalir deras dan masif. Pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola komunikasi simetris. Pemanfaatan teknologi informasi pun semakin mempercepat akses berita ke berbagai elemen media komunikasi di masyarakat. Pola komunikasi yang telah berubah di kalangan masyarakat inilah yang mesti diikuti juga dengan strategi yang sama yang dilakukan Tim Hubungan Masyarakat (humas) Kementerian Pertanian.

Menurut Kepala Bagian Humas Kementan Moch. Arief Cahyono, membangun keterlibatan publik (public engagement) bisa dilakukan dengan cara membangun kepercayaan publik dan menumbuhkan sifat kemanusiaan. “Dengan begitu, publik akan lebih respect (menghargai) dan positive thinking (berpikir positif) terhadap citra pemerintahan,” kata dia.

Arief berharap, nantinya Tim Humas Kementan bisa menjadi pemberi sinyal pertama kepada para petani yang ada di sekitar instansi. Utamanya, agar proses sosialisai program Kementan bisa cepat tersalurkan. Dan, Menteri Syahrul, Arief menambahkan, amat mengapresiasi jika Tim Humas Kementan sukses membuat dan menginformasikan content kreatif dan positif yang bertemakan pertanian kepada publik.(Rohman Jaya Anwari/EPN)

Pusdiktan Gagas Penguatan Akreditasi Polbangtan

Kualitas pendidikan vokasional dan sumber daya manusia sektor pertanian adalah hal penting yang harus mendapat perhatian penuh Kementerian Pertanian. Satu dari sejumlah upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan pendidikan pertanian yang bermutu dan mengarah pada standar pendidikan bertaraf internasional (world class polytechnic) melalui akreditasi perguruan tinggi. Langkah penjaminan mutu eksternal sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi itulah yang dilaksanakan Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) selaku pembina pendidikan lingkup Kementan dengan menyelenggarakan pertemuan terfokus bertema Penguatan Akreditasi Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian di Hotel Arch, Bogor, Jawa Barat, 22-24 Oktober.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu dihadiri perwakilan Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, Polbangtan Manokwari, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia Serpong (PEPI). Diharapkan, polbangtan di masing-masing wilayah segera melakukan persiapan akreditasi dengan baik dan sesuai standar yang telah ditetapkan. “Diharapkan kebijakan penguatan kelembagaan dan ketenagaan pendidikan di politeknik kementerian pertanian dapat tersosialisasikan dengan baik sehingga rencana aksi akreditasi program studi baru politeknik dapat tersusun,” kata Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty.

Inneke menambahkan, saat ini politeknik di lingkup Kementan baru saja melakukan transformasi kelembagaan. Imbasnya adalah, ada beberapa program studi baru yang masih memiliki akreditasi minimum (C). Berdasarkan peraturan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), program studi baru harus mengusulkan akreditasi setelah 2 (dua) tahun beroperasi. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi, maka program studi baru tersebut akan meluluskan peserta didik dengan akreditasi C.

Sejumlah narasumber hadir dalam acara Penguatan Akreditasi Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian tersebut. Di antaranya perwakilan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pembinaan Kelembagaan, wakil Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; wakil Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT); perwakilan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS); dan pembicara dari Pusdiktan.

Mutu penyelenggaraan pendidikan yang sesuai standar dapat dilihat dari akreditasi sebuah perguruan tinggi. Akreditasi adalah Sistem Penjaminan Mutu Eksternal sebagai bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Hasil dari proses akreditasi tersebut dinyatakan dengan status akreditasi program studi dan akreditasi perguruan tinggi. Sebagai bagian dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Pusdiktan mengemban tugas pengawasan atas akreditasi tujuh politeknik dan tiga sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP) yang tersebar di sejumlah wilayah di Tanah Air.

Sijamu, Cara Pusdiktan Audit Kualitas Pendidikan

Pola kerja efektif dan efisien adalah langkah strategis Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) dalam mengawasi keberlangsungan sistem kelembagaan pendidikan vokasional pertanian di lingkup Kementerian Pertanian. Berbasis itulah, Pusdiktan mulai menerapkan aplikasi Sistem Informasi Jaminan Mutu (Sijamu) untuk memantau langsung mutu internal pendidikan tinggi pertanian. Pelatihan operasional Sijamu bertajuk Workshop Audit Mutu Internal Pendidikan Tinggi tersebut diselenggarakan di Bogor, 8-10 Oktober silam.

Menurut Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty, pelatihan kali ini dalam rangka memfasilitasi Audit Mutu Internal (AMI) agar sesuai standar Auditor Politeknik yang sudah ditetapkan. Tujuannya jelas, supaya meningkatkan kinerja manajemen unit kerja di lingkungan polbangtan, memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, dan mendongkrak akreditasi institusi dan program studi polbangtan.

Pelatihan Sijamu diikuti 16 orang perwakilan dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) dari seluruh Indonesia. Yakni dari Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang (YoMa), Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari. Mereka mendapatkan bimbingan dan pendampingan langsung kiat mengoperasikan Sijamu yang berbasis laman online. Syaratnya, para peserta mesti melengkapi berbagai dokumen yang akan dijadikan acuan standar mutu pendidikan.

Program YESS Bakal “Serbu” Empat Provinsi

Ada kabar baik buat kaum muda milenial di perdesaan di Tanah Air. Sedianya, tak kurang dari 340-an ribu generasi muda di kawasan perdesaan bakal menjadi target bergabung dengan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang diluncurkan Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program selama enam tahun yang diresmikan pada 11 Oktober 2019 itu akan dilaksanakan di empat provinsi, pada 15 kabupaten. Yakni di Provinsi Kalimantan Selatan (Kabupaten Banjarbaru, Tanah Laut, dan Kabupaten Tanah Bumbu); Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Bantaeng, Bone, Bulukumba, dan Kabupaten Maros); Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Kabupaten Subang); serta di Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Kabupaten Pacitan).

Sasaran Program YESS ini adalah kaum muda di perdesaan, khususnya dari keluarga kurang mampu serta generasi milenial yang berisiko besar terhadap kemiskinan. Indikator hasil kegiatan program di sektor pertanian tersebut meliputi lima bagian utama. Pertama, 32.500 orang memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian. Kedua, 33.500 orang pedesaan meningkat pendapatannya. Ketiga, 50.600 orang mengembangkan usaha di bidang pertanian. Keempat, seratus ribu orang sudah mampu menggunakan jasa keuangan, yang 4.300 di antaranya adalah rumah tangga migran muda. Yang terakhir, sebanyak 120 ribu pemuda dan pemudi memperoleh pendidikan keuangan.

Menurut perencanaan, seluruh indikator tersebut akan dicapai melalui empat kegiatan utama. Yakni, Peningkatan Kapasitas Pemuda Perdesaan di Bidang Pertanian (Rural Youth Transition to Work), Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan (Rural Youth Entrepeneurship), Fasilitasi Akses Permodalan (Investing to Rural Youth), dan Membangun Lingkungan Usaha yang Kondusif (Enabling Environment fo Rural Youth).(EPN)

Kapusdiktan: Program YESS Pas buat Petani Milenial

Kehadiran wirausaha milenial di sektor pertanian menjadi perhatian penuh Kementerian Pertanian. Di antaranya melalui Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang diluncurkan beberapa waktu lampau. Dan kini, Kementan bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) kembali fokus melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). “Program ini dibuat untuk menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas serta siap menghadapi era milenial,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Idha Widi Arsanti, sesaat setelah acara peresmian Program YESS di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (11/10).

Santi merinci, Program YESS sangat mendukung upaya pengembangan SDM pertanian. Caranya dengan memberdayakan para pemuda tani untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian di pedesaan, secara optimal, profesional, menguntungkan, dan berkelanjutan. “Mereka akan siap menghadapi era milenial,” ujar Santi optimistis.

Kementan memang selalu memfasilitasi generasi milenial untuk bisa terjun menjadi wirausaha pertanian. Mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, upaya mengedukasi generasi milenial gencar dilaksanakan dengan memberi pemahaman bahwa berusaha di sektor pertanian sangatlah menguntungkan. Pengembangan pembangunan pertanian di Tanah Air pun bisa mendongkrak nilai tambah ekonomi bila proses pengolahan dapat dilakukan sendiri. Jika di hulu, budi daya pertanian dilakukan secara modern dan pengolahan di hilir menggunakan teknologi canggih seperti pengemasan, bisa meningkatkan nilai komoditas hingga 200 persen.

Dana yang digelontorkan IFAD untuk Program YESS mencapai US$ 55,3 juta untuk pelaksanaan selama enam tahun, 2019-2025. Menurut Manager IFAD Program YESS Nicholas Syed, sektor pertanian di seluruh dunia menghadapi persoalan senada: jumlah petani muda yang mau turun di sektor pertanian semakin berkurang. Padahal, melalui teknologi dan daya kreativitas generasi milenial, peluang menjadi wirausaha sektor pertanian justru terbuka lebar. Dan IFAD hadir memberikan stimulan dalam bentuk dana pengembangan bagi wirausahawan di Indonesia. “Program wirausaha yang dirintis Kementan sudah sangat baik dan bisa menjadi contoh,” kata dia.(EPN)

Pusdiktan Jajaki Kerja Sama dengan SEAMEO BIOTROP

Persoalan peningkatan produktivitas pertanian di lahan terbatas seperti perkotaan menjadi persoalan tersendiri. Satu di antara solusi tersebut adalah kegiatan kultur jaringan dan urban farming, yang mampu memanfaatkan lahan sempit untuk tetap produktif dan menghasilkan produk pertanian yang maksimal. Usulan tersebut mengemuka dalam kunjungan Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pendidikan Pertanian Inneke Kusumawaty ke South East Asian Ministry Education Organization for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP), Bogor, Jawa Barat, awal Oktober 2019.

Dalam kunjungannya, Inneke menekankan kembali perhatian utama Kementerian Pertanian untuk mewujudkan sektor pertanian yang maju, modern, berkualitas, dan berdaya saing global. Termasuk sektor pertanian Indonesia yang diharapkan mampu meningkatkan kreativitas, berbarengan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian Indonesia. Di antaranya dengan upaya kerja sama dalam bidang pertanian di area perkotaan (urban farming) dan kultur jaringan, khususnya untuk sistem pendidikan dan kurikulum yang tepat.

Menurut Inneke yang diamini Kepala Sub Bidang Ketenagaan Pusdiktan Kodrad Winarno yang ikut hadir dalam pertemuan itu sistem pendidikan dan kurikulum yang tepat akan turut mendorong hasil lulusan pendidikan yang mampu menciptakan lahan pekerjaan (job creator). Kodrad pun berharap rencana kerja sama tersebut juga menyentuh program pengembangan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)

Polbangtan Yo-Ma Terapkan Tefa Biofarmaka

Peningkatan kualitas pendidikan tinggi vokasional di lingkup Kementerian Pertanian terus dilakukan demi peningkatan regenerasi petani dan terciptanya petani-petani generasi milenial. Satu di antaranya melalui pengembangan Teaching Factory (Tefa). “Sarana dan prasarana sudah mulai digunakan untuk pembelajaran mahasiswa Polbangtan [Politeknik Pembangunan Pertanian] Yo-Ma [Yogyakarta-Malang],” kata Direktur Polbangtan Yo-Ma Rajiman, saat mendampingi Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Inneke Kusumawaty yang berkunjung ke Tefa Sempu, Polbangtan Yo-Ma, Yogyakarta, menjelang akhir September 2019.

Rajiman menambahkan, ada beberapa kelengkapan fasilitas Tefa setempat yang sudah berjalan penggunaannya. Sebut saja lahan praktik khusus untuk tanaman biofarmaka. Selain itu, ada ruang transit mahasiswa, gudang alat mesin pertanian, dan berbagai sarana dan prasarana penunjang lainnya.

Penerapan Tefa diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa dan mencetak SDM pertanian yang dapat diandalkan.(Miasari Maharta Dewi/FIK)

Pusdiktan Ikuti Jambore Petani Muda 3 Petrokimia

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) melalui mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang ikut berpartisipasi di Jambore Petani Muda 3. Acara yang diselenggarakan Petrokimia Gresik bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut bertema “Agrosociopreneur untuk Kemajuan dan Kelangsungan Pertanian Indonesia” di Kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (25/9).

Pertemuan akbar kali ini dihadiri Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Jamhari, Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Inneke Kusumawaty, Co-Founder dan CEO Tanijoy Nanda Putra serta Founder dan CEO Agradaya Andhika Mahardika. Selain mahasiswa Polbangtan Yogya-Malang, Jambore Petani Muda 3 ini pun diikuti perwakilan mahasiswa dari Fakultas Pertanian UGM.

Menurut Rahmad Pribadi dalam paparannya, regenerasi petani adalah topik utama Jambore Petani Muda 3. Petrokimia Gresik berupaya melakukan regenerasi petani, lantaran ada penyusutan tenaga kerja pertanian hingga 15 juta orang petani dalam 10 tahun terakhir. Sementara, dia menambahkan, kehidupan Petrokimia Gresik di masa mendatang sangat bergantung pada sektor pertanian.

Mengamini soal regenerasi petani, Nanda Putra dan Andhika Mahardika melontarkan pandangan dari sisi lain dunia pertanian. Menurut mereka, bertani dapat dilakukan dengan cara yang modern, bahkan tidak harus memiliki lahan. Misalnya, bidang pendukung pertanian seperti fintech (financial and technology) serta pengembangan sosial yang memiliki tujuan sama: meningkatkan produktivitas pertanian Tanah Air.

Kementerian Pertanian memang sudah memiliki konsep regenerasi petani. “Dukungan pemerintah sangat berpengaruh,” kata Inneke. Cakupan strategi regenerasi petani tersebut di antaranya transformasi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi politeknik, dengan program studi yang berorientasi pada agribisnis dan mekanisasi pertanian. Seluruh Eselon 1 lingkup Kementan telah bersinergi dalam program regenerasi petani untuk menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang andal.

Tak hanya itu, Inneke merinci. Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) sudah menjalin kerja sama dengan 33 perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa, alumni, pemuda tani, juga terlibat langsung dalam pendampingan program Kementan. Upaya penumbuhan Kelompok Usaha Bersama (KUB) terfokus di bidang pertanian, dengan akses pelatihan dan magang bagi serta optimalisasi penyuluh bagi pemuda tani di bidang pertanian.(Miasari Maharta Dewi/FIK)

Pusdiktan-UGM Intensif Kerja Sama Bidang Pendidikan

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian gencar mempersiapkan berbagai persiapan pascapenandatanganan kerja sama di bidang pendidikan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Langkah tersebut di antaranya adalah kehadiran Tim Pusdiktan yang diwakili Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty dan Kepala Sub-Bidang Kelembagaan Pendidikan Siti Samsiah ke Kampus UGM di Yogyakarta, Rabu (25/9).

Kehadiran Tim Pusdiktan disambut langsung Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yudi Pranoto. Pembahasan bergulir menyoal tindak lanjut bidang pengembangan pendidikan politeknik di lingkup Kementan.

Pertemuan tersebut menyepakati implementasi selanjutnya yang akan dilakukan secara berkala. Di antaranya, pengiriman dosen tamu dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM sebagai pengajar di politeknik di bawah Pusdiktan.(Miasari Maharta Dewi/FIK)