PWMP SMK-PP Negeri Kupang Unjuk Penerapan Ilmu

Tulisan “Jual Ayam Potong” boleh jadi menyita perhatian siapa pun yang berlalu-lalang di depan pagar Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Negeri Kupang di Jalan Timor Raya Kilometer 39. Kalimat pendek dan tegas itu pun hanya dibuat secara sederhana pada sebuah papan kayu berwarna merah dan hijau. Beberapa menduga, ada yang iseng menempel iklan berjualan. Maklum, tentu tak sembarang informasi bisa bebas terpampang di areal sekolahan. Dan memang, jarang pula ada lembaga pendidikan yang mengizinkan siswa buat menerapkan ilmu yang didapat, langsung di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan vokasional sektor pertanian yang satu ini sepertinya mau menegaskan, bahwa teori dan praktik bakal efektif bila dijalankan berbarengan. Dan itu terbukti, di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para pencetus aksi pemelihara ayam broiler tersebut adalah tiga anggota kelompok Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) asal SMK-PP Negeri Kupang Tahun Angkatan 2018. Jino, Riki, dan Haji–begitu mereka biasa disapa–memang aktif serius berkutat dengan urusan ayam. Kiprahnya dimulai dengan 200 ekor ayam broiler sejak Mei 2019. Terhitung hingga pertengahan November silam, ketiganya sudah memasuki periode keempat pemeliharaan bisnis unggas. Total hingga saat itu, jumlah ayam broiler yang dipelihara sudah mencapai seribu ekor.

Karena memang ‘berilmu’, mereka tak mengalami kendala berarti dalam memelihara ayam broiler tadi. Produk ayam peternakan kelompok bernama Unggas Makmur dan Ternak Maju Bersama ini selalu mencapai target bobot badan dan habis diborong pelanggan. Belakangan PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mulai membudidayakan ayam buras beberapa bulan belakangan. Bahkan, mereka pun mengembangkan usaha sebagai broker, membeli ayam dari peternak untuk dijual kembali.

Belum lama berselang, ide melebarkan pasar ayam peliharaan mengemuka. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang mulai mencoba menjual ayam broiler di Pasar Lili, di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Sepuluh ekor ayam pertama yang sedianya dijual hari itu. “Alhamdulillah, semua ayam habis terjual saat menjelang siang,” kata Haji, yang bernama lengkap Mahdi Saleh Ajizi Lenamah, senang bukan kepalang.

Sebenarnya, trio pencetus ide memelihara dan menjual ayam broiler tak sendirian. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang terdiri dari Claris Fransiska Tanmenu, Kristofel Nathan Maliti, Nikolaus Oemolos, Anwar Ricardo Bees, Dominggus Jino Antonius Parera, dan Mahdi Saleh Ajizi Lenamah. Dalam usaha budi daya ayam broiler pun mereka dibantu sang pembimbing, Yusuf Mozes.

Kiprah PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran pimpinan sekolah. “Kalau bisa, ketika lulus mereka terus berwirausaha sehingga dapat berkontribusi untuk pembangunan pertanian di NTT,” ujar Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stepanus Bulu.

Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga menggandeng kerja sama dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) RAN28. KUB RAN28 adalah kelompok PWMP alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang yang berbasis di Kupang, yang juga berwirausaha komoditas ayam broiler, khususnya pemotongan ayam. Kerja sama yang diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) antara KUB RAN28 dan Kepala Sekolah SMK-PP Negeri Kupang tersebut meliputi penyediaan bibit, pakan, persiapan kandang, manajemen pemeliharaan, hingga pemasaran.

Nikodemus Luku Usfinit dan Matheus Mado dari KUB RAN28 mengamini Stepanus. Mereka berharap, melalui wirausaha ini siswa-siswi SMK-PP Negeri Kupang tidak lagi mencari kerja ketika lulus (job seeker), tapi justru hadir sebagai pembuka lapangan pekerjaan (job creator).(Aisy Karima Dewi/EPN)

Polbangtan Yo-Ma Komitmen Dukung Sektor Pertanian Kabupaten Lingga

Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang [Polbangtan YoMa] menegaskan komitmennya mendukung pembangunan sektor pertanian Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, selaras dengan target Lingga menjadi ´lumbung pangan´ di kawasan perbatasan dengan mengirimkan 34 mahasiswa/i untuk mengikuti pendidikan vokasi jurusan pertanian di Yogyakarta 23 orang, dan 11 orang di jurusan peternakan Magelang.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Polbangtan YoMa, Rajiman saat menerima kunjungan Wakil Bupati Lingga M. Nizar didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan [PKP] Hernowo Andrianto, Kabid Pertanian Amran Salim; Kasie Peningkatan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Ahmad Zahari, Kasie Sarana Prasarana dan Pemasaran Hasil Pertanian, Camat Lingga Yulius, dan Taufik S.P. selaku penyuluh pertanian dan petani Lingga.

Rajiman mengapresiasi komitmen Pemkab Lingga membangun pertanian sebagai sektor andalan ekonomi daerah, mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan negeri jiran. Hasil pertanian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan daerah secara mandiri, kelebihan produksi untuk ekspor ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia. “Ketahanan pangan adalah keniscayaan. Pertanian masa depan adalah pertanian modern, efektif dan efisien dengan aplikasi teknologi. Bukan lagi zamannya mengolah lahan pertanian dengan cangkul,” katanya.

Pertemuan diisi dengan penyampaian informasi program dan kegiatan Polbangtan Yoma untuk mendukung pembangunan pertanian Kabupaten Lingga. Manfaat proses pembelajaran mahasiswa asal Kabupaten Lingga, pengenalan kampus dan kebun praktik, budidaya tanaman pangan dan pengelolaannya, serta kunjungan lapang di kelompok tani mitra.

Wakil Bupati M. Nizar menyampaikan bahwa Pemkab Lingga bertekad menjadikan ´Bumi Bunda Tanah Melayu´. Yakni, sebagai kawasan unggul sektor pertanian didukung kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka, salah satunya adalah Polbangtan Yoma.

Pertemuan dengan para mahasiswa/i utusan Pemkab Lingga diisi diskusi tentang pengalaman kehidupan kampus dan pelaksanaan pendidikan.

Diharapkan, kunjungan wakil bupati beserta rombongan dapat memotivasi mahasiswa dan memperkuat sinergi antara Pemkab Lingga dengan Polbangtan YoMa, serta harapan kontribusi saat menjadi mahasiswa, maupun setelah lulus kelak dapat menjadi pelopor dan inovator sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Lingga mendukung pembangunan pertanian Indonesia.

Opal Polbangtan Manokwari Contoh Pemanfaatan Pekarangan

Merujuk Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10 Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 22 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10 Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019. Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari diharapkan menjadi sarana percontohan program Opal, dimana memanfaatkan pekarangan untuk ditanami aneka tanaman buah dan sayuran. “Program Kementan yang mengharapkan semua UPT Kementerian Pertanian yang ada di daerah maupun pusat menjadi show window bagi masyarakat sekitar,” ujar Direktur Polbangtan Manokwari Purwanta, Rabu, (11/9/2019).

Lanjut, kata dia, tujuan dan sasaran OPAL sendiri yaitu pemanfaatan lahan perkantoran untuk penyediaan pangan dan gizi. Sebagai sarana percontohan untuk masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi. “Paling tidak bisa menjadi contoh untuk internal UPT dan juga dijadikan contoh untuk lahan pekarang

Peringati Sumpah Pemuda, Polbangtan Malang Deklarasikan Agen Perubahan

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Polbangtan Malang, Senin (28/10/2019) dilakukan dengan menggelar upacara dan deklarasi. Pimpinan dan dosen kampus pertanian ini mendeklarasikan agen perubahan. Deklarasi yang berlangsung di lapangan rektorat di sela upacara yang diikuti oleh seluruh civitas akademika. Direktur Polbangtan Malang Bambang Sudarmanto memimpin langsung upacara Hari Sumpah Pemuda ke-91 dan deklarasi tersebut.

Pembacaan Deklarasi Agen Perubahan lingkup Polbangtan Malang dilakukan oleh beberapa unsur pimpinan, dosen, dan tenaga pendidik. Deklarasi berisikan ikrar dan komitmen dalam melaksanakan tugas dan fungsi, antara lain mendorong dan menggerakkan pegawai turut menjadi bagian dalam perubahan yang lebih baik, mengembangkan nilai-nilai budaya kerja pegawai, penegakan disiplin, monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana aksi.

Direktur Polbangtan Malang mengatakan bahwa agen perubahan dibentuk agar ada perubahan yang lebih baik lagi baik dari pegawai dan mahasiswa. “Deklarasi agen perubahan sebagai momentum pula sebagai tonggak, sebagai tokoh, sebagai tim yang diharapkan bisa menggerakkan pegawai dan mahasiswa menuju perubahan yang lebih baik,” kata Bambang Sudarmanto. Harapannya dengan agen perubahan, lanjut dia, ada percepatan serta muncul ide ide kreatif untuk terus memajukan Polbangtan Malang ini.

Sementara dalam sambutan saat menjadi inspektur upacara, Bambang menyebut Sumpah Pemuda merupakan momentum luar biasa. Dulu, kata dia, di tahun 1928 semua berjuang untuk mencapai kemerdekaan, maka sekarang memasuki zaman mengisi kemerdekaan. “Kami berharap kita semua tetap semangat, tetap kompak untuk mengisi kemerdekaan ini,” kata Bambang.

Memaknai Sumpah Pemuda, Bambang mengajak segenap civitas akademika Polbangtan Malang mengisi kemerdekaan dengan turut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Polbangtan Bogor Bersama MSM-Belanda Siap Merealisasikan Project LMSINDO

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor bersama MSM (Maastricht School Of Management)-Belanda melaksanakan pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Pusat, Sekolah Vokasi IPB, BPPP- Kupang, SMKPP Kupang dan SMKPP Waibakul Kupang sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya (Rabu, 9 Oktober 2019) sedangkan Pusat Pendidikan Pertanian- Kementan dan Kemendikbud serta Universitas Nusa Cendana yang sebelumnya dijadwalkan hadir karena beberapa hal belum bisa bergabung dalam pertemuan perdana ini.

Adapun agenda pada pertemuan kali ini meliputi: Perkenalan dengan semua mitra Indonesia LMSINDO, penjelasan MSM mengenai rencana kegiatan awal project LMSINDO dan persiapan Kick off resmi LMSINDO yang diagendakan pada tanggal 17-19 Desember 2019 di Polbangtan Bogor.

Tujuan dari project LMSINDO yaitu meningkatkan kompetensi SDM para guru-guru SMKPP di Kupang dan Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian program ini lebih difokuskan pada pengembangan produk local NTT yaitu jagung, kopi dan coklat. Kupang dan Sumba tengah dipilih menjadi lokasi project dengan pertimbangan bahwa dua lokasi tersebut mewakili daerah 3T (Tertinggal, Terluar dan Terpencil). “MSM menargetkan program ini akan berlangsung selama 2.5 tahun dan diharapkan bisa diteruskan oleh Kementerian terkait”. Ujar Mr Huub selaku Project Director. Harapan besar project ini setelah sukses dengan NTT maka akan dikembangkan menjangkau kawasan lebih besar menjadi project regional, nasional bahkan internasional.

Mitra project LMSINDO mengemukakan harapan dan ekspektasi terhadap project ini, salah satu harapan itu diungkapkan oleh Kepala SMK PP Negeri Kupang: “Agar memperhatikan kebutuhan kegiatan wilayah, kebutuhan saat ini adalah ternak sapi potong, kemudian pengembangan tanaman hortikultura serta ternak ayam petelur bagi daerah kabupaten Kupang, oleh karenanya mohon adanya bimbingan dan pelatihan dari pusat kepada guru dan para siswa-siswa kami di SMKPP Kupang-NTT”.

”Tindak lanjut pertemuan ini adalah Kick off resmi LMSINDO yang akan di gelar pada tanggal 17 dan 19 Desember 2019 di Polbangtan Bogor dan selanjutnya di susul dengan kegiatan di Kupang dengan melihat langsung lokasinya”. Ujar Rara Dewayanti.

Lulusan Polbangtan Manokwari Akan Diwisuda Menteri

Puluhan calon wisudawan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Angkatan I akan diwisuda di Kantor Kementerian Pertanian RI di Jakarta. “Insya Allah, ke-65 mahasiswa kita yang di yudisium ini akan diwisuda secara nasional,” kata Direktur Polbangtan Manokwari Purwanta, Senin (12/8), di Manokwari, Papua Barat.

Sedianya, 65 wisudawan Manokwari tadi akan diwisuda bersama-sama dengan peserta polbangtan lainnya. Seperti Polbangtan Medan, Bogor, Yogyakarta, Magelang, Malang, dan Polbangtan Gowa. “Kurang lebih ada 800-an orang calon wisudawan,” kata dia.

Menurut rencana, para calon wisudawan polbangtan nasional tersebut akan diwisuda langsung Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada 20 Agustus mendatang.(EPN)

Kepala BPPSDMP: Soal Pangan, Perlu Revolusioner

Sektor pangan adalah potret hidup matinya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan tidak dipenuhi, maka malapetaka. “Oleh karena itu, perlu usaha besar-besaran, radikal, dan revolusioner,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi, di Aula Kampus Cibalagung, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, awal Agustus silam. Dedi—yang mengutip pernyataan Presiden pertama RI Soekarno—hadir sebagai pemapar dalam gelar Kuliah Umum Polbangtan Bogor bagi dosen dan mahasiswa Jurusan Pertanian dan Jurusan Peternakan.

“Kuliah Umum hari ini sangat istimewa, karena Polbangtan Bogor menjadi tujuan pertama kunjungan Kabadan setelah dilantik,” ujar Direktur Polbangtan Bogor Siswoyo saat  menyambut Kepala BPPSDMP. Siswoyo didampingi Kepala Bagian Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni (BAAKA) Iwan Patria dan perwakilan dosen, Maspur Makhmudi.

Dalam presentasinya, Dedi mengangkat tema Petani Milenial Masa Depan Bangsa. Sosok penyandang gelar profesor riset alumni Institut Pertanian Bogor itu menekankan upaya pemerintah bernama Program Upaya Khusus. Kerja keras tersebut memetik sukses dan menjadikan Indonesia mampu berswasembada pada 2015 lampau. “Di tahun 2045, kita bertekad menjadi lumbung pangan dunia,” cetus Dedi penuh semangat. Dan tentunya, itu pula yang kelak menjadi tugas para milenial mahasiswa polbangtan.

Puluhan Mahasiswa Polbangtan Manokwari Magang di PTPN XIV

Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) Batch II secara resmi digelar. Wakil dari ke-28 mahasiswa Polbangtan Manokwari peserta PMMB menandatangani kontrak dengan perwakilan PTPN XIV. Sedianya, para mahasiswa magang itu akan ditempatkan di perkebunan kelapa sawit milik PTPN XIV yang berlokasi di Kera-Maroangin, Luwuk, dan Malili selama enam bulan. Acara yang dibuka Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV Makassar Doni P. Gandamihardja di Kantor Dreksi PTPN XIV Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/7), ini juga dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti dan Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Purwanta.

Bagi Pusdiktan, kesempatan yang diberikan PTPN XIV kepada mahasiswa polbangtan patut diapresiasi. Karena momentum magang adalah kesempatan para mahasiswa meningkatkan kompetensi, yang juga sejalan dengan pelaksanaan PMMB sebagai program Kementerian Pertanian untuk meningkatkan sumber daya manusia pertanian. “Kami sangat berharap kerja sama ini dapat berkesinambungan,” ujar Santi.

Agenda kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan mahasiswa Polbangtan Manokwari yang akan menjadi peserta PMMB Batch II 2019 . Kultur teknis tanaman adalah materi yang diberikan dalam pembekalan ini. Usai mengikuti magang, mahasiswa yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat kompetensi yang diakui dunia usaha dan dunia industri bidang perkebunan kelapa sawit.(Ageng Hasanah Sulaiman/EPN)

Solusi Krisis Pakan ala Mahasiswa Polbangtan Manokwari

Bagi para petani di wilayah Papua Barat, keberadaan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari sangat diperhitungkan dan terbukti bermanfaat. Itulah yang terlihat saat sejumlah mahasiswa Polbangtan Manokwari terjun langsung memberikan penyuluhan ke Kampung Aimas, Satuan Perumahan (SP) 3, Distrik Prafi (TDKPP), Manokwari, Papua Barat, Sabtu (23/2). Kunjungan itu adalah tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Polbangtan Manokwari dan peternak kambing setempat. “Mahasiswa kami libatkan dalam membantu peternak untuk menangani krisis pakan,” kata Wakil Direktur I Polbangtan Manokwari yang sekaligus sebagai dosen pembimbing lapangan Susan C. Labatar.

Berdasarkan temuan di lapangan, peningkatan jumlah populasi ternak sempat membuat peternak kesulitan memperoleh pakan dengan jumlah yang lebih besar lagi. Contohnya, seperti yang dirasakan Samio. Awalnya, lelaki pemilik 36 ekor kambing peranakan etawa (PE) itu mengaku tak bermasalah dalam proses penggemukan piaraannya. Namun seiring berkembang usaha, dia mulai kerepotan mencari pakan. Apalagi kini, populasi kambing PE Samio sudah sebanyak 48 ekor.

Kondisi Samio tentu tak bisa diabaikan. Berbekal itulah Susan mendaulat para mahasiswa semester tujuh Program Studi Peternakan dan Kesejehteraan Hewan untuk berbagi ilmu pemanfaatan batang dan kulit pisang sebagai pakan alternatif ternak kambing kepada Samio dan peternak lain di Kampung Aimas.

Di sesi penyuluhan terlihat proses pembuatan pakan yang cukup mudah. Batang dan kulit pisang dicampur ampas tahu serta dedak yang difermentasi menggunakan suplemen organik cair (SOC). Setelah proses fermentasi usai, Samio diajak memberikan pakan tadi pada ternaknya. Terlihat jelas, pakan fermentasi tersebut disantap lahap kambing-kambing milik Samio. “Saya sangat terbantu dengan kedatangan rekan-rekan dari Polbangtan Manokwari, khususnya dalam mengatasi masalah kekurangan pakan,” ujar Samio. Dia berkeyakinan pengembangan usaha pertaniannya sudah bisa teratasi hingga di masa mendatang dengan solusi pemanfaatan batang dan kulit pisang.

Kesempatan ini juga dijadikan momentum penting para mahasiswa untuk melihat langsung aktivitas Samio, sang peternak. Selain beternak kambing, Samio pun menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system) di lahan seluas dua hektare miliknya. Seluruh kotoran kambing diolah menjadi pupuk sebagai sumber nutrisi beragam tanaman. Mulai dari kelengkeng, labu madu, buah naga, hingga pohon kapuk. Sebagai penyangga buah naga, Samio sengaja menggunakan pohon kapuk sebagai media lilitan batang buah naga.(Nurtania Sudarmi/EPN)

Ngudi Rahayu Bertandang ke Polbangtan YoMa

Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Yogyakarta Magelang Jurusan Peternakan kedatangan 30 orang anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti, pertengahan Februari 2019. Kunjungan rombongan pelaku peternakan dari wilayah Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu adalah untuk mempelajari Sapta Usaha Peternakan yang diterapkan di Polbangtan YoMa. Para tamu disuguhi beragam materi penjelasan dan diskusi tentang Sapta Usaha Peternakan oleh Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Akimi, plus agenda berkeliling lapangan di sejumlah kandang pendidikan peternakan milik Polbangtan YoMa.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti Sumantri, kehadiran mereka kali ini adalah untuk melihat dan menerima informasi langsung perihal Sapta Usaha Peternakan. Yaitu mulai dari persoalan bibit unggul, pemberian dan jenis pakan ternak yang baik, kandang, kesehatan hewan, reproduksi, manajemen, hingga langkah pemasaran ternak. “Kesempatan ini sangat menguntungkan, dan kami ingin lebih paham,” kata Sumantri.

Para petani ternak asal Magelang ini pun berkesempatan berkeliling melihat kandang ternak besar dan kecil. Bahkan, rombongan yang juga didampingi sejumlah ketua jurusan dan dosen bidang Kesehatan Hewan, Reproduksi Hewan, dan Pakan Ternak itu diajak menengok langsung sosok sapi unggulan yang diberi nama Roro Mendut. Field trip kelompok tani ini juga didampingi Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) dari masing- masing laboratorium ternak kecil, ternak besar, unggas, dan Lab Pakan.

Para peserta terlihat antusias dan kerap mengajukan sederet pertanyaan. Selain menyoal materi, mereka pun menggali informasi seputar kegiatan usaha peternakan yang digeluti sehari-hari.(Tantyanuar/EPN)