Lulusan Polbangtan Manokwari Akan Diwisuda Menteri

Puluhan calon wisudawan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Angkatan I akan diwisuda di Kantor Kementerian Pertanian RI di Jakarta. “Insya Allah, ke-65 mahasiswa kita yang di yudisium ini akan diwisuda secara nasional,” kata Direktur Polbangtan Manokwari Purwanta, Senin (12/8), di Manokwari, Papua Barat.

Sedianya, 65 wisudawan Manokwari tadi akan diwisuda bersama-sama dengan peserta polbangtan lainnya. Seperti Polbangtan Medan, Bogor, Yogyakarta, Magelang, Malang, dan Polbangtan Gowa. “Kurang lebih ada 800-an orang calon wisudawan,” kata dia.

Menurut rencana, para calon wisudawan polbangtan nasional tersebut akan diwisuda langsung Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada 20 Agustus mendatang.(EPN)

Kepala BPPSDMP: Soal Pangan, Perlu Revolusioner

Sektor pangan adalah potret hidup matinya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan tidak dipenuhi, maka malapetaka. “Oleh karena itu, perlu usaha besar-besaran, radikal, dan revolusioner,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi, di Aula Kampus Cibalagung, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, awal Agustus silam. Dedi—yang mengutip pernyataan Presiden pertama RI Soekarno—hadir sebagai pemapar dalam gelar Kuliah Umum Polbangtan Bogor bagi dosen dan mahasiswa Jurusan Pertanian dan Jurusan Peternakan.

“Kuliah Umum hari ini sangat istimewa, karena Polbangtan Bogor menjadi tujuan pertama kunjungan Kabadan setelah dilantik,” ujar Direktur Polbangtan Bogor Siswoyo saat  menyambut Kepala BPPSDMP. Siswoyo didampingi Kepala Bagian Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni (BAAKA) Iwan Patria dan perwakilan dosen, Maspur Makhmudi.

Dalam presentasinya, Dedi mengangkat tema Petani Milenial Masa Depan Bangsa. Sosok penyandang gelar profesor riset alumni Institut Pertanian Bogor itu menekankan upaya pemerintah bernama Program Upaya Khusus. Kerja keras tersebut memetik sukses dan menjadikan Indonesia mampu berswasembada pada 2015 lampau. “Di tahun 2045, kita bertekad menjadi lumbung pangan dunia,” cetus Dedi penuh semangat. Dan tentunya, itu pula yang kelak menjadi tugas para milenial mahasiswa polbangtan.

Puluhan Mahasiswa Polbangtan Manokwari Magang di PTPN XIV

Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) Batch II secara resmi digelar. Wakil dari ke-28 mahasiswa Polbangtan Manokwari peserta PMMB menandatangani kontrak dengan perwakilan PTPN XIV. Sedianya, para mahasiswa magang itu akan ditempatkan di perkebunan kelapa sawit milik PTPN XIV yang berlokasi di Kera-Maroangin, Luwuk, dan Malili selama enam bulan. Acara yang dibuka Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV Makassar Doni P. Gandamihardja di Kantor Dreksi PTPN XIV Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/7), ini juga dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti dan Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Purwanta.

Bagi Pusdiktan, kesempatan yang diberikan PTPN XIV kepada mahasiswa polbangtan patut diapresiasi. Karena momentum magang adalah kesempatan para mahasiswa meningkatkan kompetensi, yang juga sejalan dengan pelaksanaan PMMB sebagai program Kementerian Pertanian untuk meningkatkan sumber daya manusia pertanian. “Kami sangat berharap kerja sama ini dapat berkesinambungan,” ujar Santi.

Agenda kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan mahasiswa Polbangtan Manokwari yang akan menjadi peserta PMMB Batch II 2019 . Kultur teknis tanaman adalah materi yang diberikan dalam pembekalan ini. Usai mengikuti magang, mahasiswa yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat kompetensi yang diakui dunia usaha dan dunia industri bidang perkebunan kelapa sawit.(Ageng Hasanah Sulaiman/EPN)

Solusi Krisis Pakan ala Mahasiswa Polbangtan Manokwari

Bagi para petani di wilayah Papua Barat, keberadaan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari sangat diperhitungkan dan terbukti bermanfaat. Itulah yang terlihat saat sejumlah mahasiswa Polbangtan Manokwari terjun langsung memberikan penyuluhan ke Kampung Aimas, Satuan Perumahan (SP) 3, Distrik Prafi (TDKPP), Manokwari, Papua Barat, Sabtu (23/2). Kunjungan itu adalah tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Polbangtan Manokwari dan peternak kambing setempat. “Mahasiswa kami libatkan dalam membantu peternak untuk menangani krisis pakan,” kata Wakil Direktur I Polbangtan Manokwari yang sekaligus sebagai dosen pembimbing lapangan Susan C. Labatar.

Berdasarkan temuan di lapangan, peningkatan jumlah populasi ternak sempat membuat peternak kesulitan memperoleh pakan dengan jumlah yang lebih besar lagi. Contohnya, seperti yang dirasakan Samio. Awalnya, lelaki pemilik 36 ekor kambing peranakan etawa (PE) itu mengaku tak bermasalah dalam proses penggemukan piaraannya. Namun seiring berkembang usaha, dia mulai kerepotan mencari pakan. Apalagi kini, populasi kambing PE Samio sudah sebanyak 48 ekor.

Kondisi Samio tentu tak bisa diabaikan. Berbekal itulah Susan mendaulat para mahasiswa semester tujuh Program Studi Peternakan dan Kesejehteraan Hewan untuk berbagi ilmu pemanfaatan batang dan kulit pisang sebagai pakan alternatif ternak kambing kepada Samio dan peternak lain di Kampung Aimas.

Di sesi penyuluhan terlihat proses pembuatan pakan yang cukup mudah. Batang dan kulit pisang dicampur ampas tahu serta dedak yang difermentasi menggunakan suplemen organik cair (SOC). Setelah proses fermentasi usai, Samio diajak memberikan pakan tadi pada ternaknya. Terlihat jelas, pakan fermentasi tersebut disantap lahap kambing-kambing milik Samio. “Saya sangat terbantu dengan kedatangan rekan-rekan dari Polbangtan Manokwari, khususnya dalam mengatasi masalah kekurangan pakan,” ujar Samio. Dia berkeyakinan pengembangan usaha pertaniannya sudah bisa teratasi hingga di masa mendatang dengan solusi pemanfaatan batang dan kulit pisang.

Kesempatan ini juga dijadikan momentum penting para mahasiswa untuk melihat langsung aktivitas Samio, sang peternak. Selain beternak kambing, Samio pun menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system) di lahan seluas dua hektare miliknya. Seluruh kotoran kambing diolah menjadi pupuk sebagai sumber nutrisi beragam tanaman. Mulai dari kelengkeng, labu madu, buah naga, hingga pohon kapuk. Sebagai penyangga buah naga, Samio sengaja menggunakan pohon kapuk sebagai media lilitan batang buah naga.(Nurtania Sudarmi/EPN)

Ngudi Rahayu Bertandang ke Polbangtan YoMa

Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Yogyakarta Magelang Jurusan Peternakan kedatangan 30 orang anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti, pertengahan Februari 2019. Kunjungan rombongan pelaku peternakan dari wilayah Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu adalah untuk mempelajari Sapta Usaha Peternakan yang diterapkan di Polbangtan YoMa. Para tamu disuguhi beragam materi penjelasan dan diskusi tentang Sapta Usaha Peternakan oleh Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Akimi, plus agenda berkeliling lapangan di sejumlah kandang pendidikan peternakan milik Polbangtan YoMa.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti Sumantri, kehadiran mereka kali ini adalah untuk melihat dan menerima informasi langsung perihal Sapta Usaha Peternakan. Yaitu mulai dari persoalan bibit unggul, pemberian dan jenis pakan ternak yang baik, kandang, kesehatan hewan, reproduksi, manajemen, hingga langkah pemasaran ternak. “Kesempatan ini sangat menguntungkan, dan kami ingin lebih paham,” kata Sumantri.

Para petani ternak asal Magelang ini pun berkesempatan berkeliling melihat kandang ternak besar dan kecil. Bahkan, rombongan yang juga didampingi sejumlah ketua jurusan dan dosen bidang Kesehatan Hewan, Reproduksi Hewan, dan Pakan Ternak itu diajak menengok langsung sosok sapi unggulan yang diberi nama Roro Mendut. Field trip kelompok tani ini juga didampingi Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) dari masing- masing laboratorium ternak kecil, ternak besar, unggas, dan Lab Pakan.

Para peserta terlihat antusias dan kerap mengajukan sederet pertanyaan. Selain menyoal materi, mereka pun menggali informasi seputar kegiatan usaha peternakan yang digeluti sehari-hari.(Tantyanuar/EPN)

Polbangtan Bogor Gandeng Swasta buat Wujudkan Tefa

 

Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Bogor, Jawa Barat membuat gebrakan. Dalam rangka pelaksanaan nyata sistem belajar Teaching Factory (Tefa)–model pembelajaran yang mengintegrasikan suasana kerja industri ke dalam proses belajar, Polbangtan Bogor menggalang kerja sama dengan tiga perusahaan besar nasional, belum lama berselang. Tujuan kerja sama ini adalah untuk meningkatkan kualitas lulusan dan mengintegrasikan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi di tempat kerja dan menghasilkan produk lulusan polbangtan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketiga perusahaan yang digandeng bersama untuk Tefa ini adalah PT Sido Muncul, PT Nestle Indonesia, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Kepala Unit Tefa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan dan Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor Dedy Kusnadi menyatakan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) dengan dunia industri tersebut sangat membantu dan mendukung pelaksanaan pembelajaran Tefa pada jurusan pertanian. Berbekal itulah Polbangtan Bogor berkomitmen dengan menyiapkan lahan seluas empat hektare. “Kita siapkan lahan dua hektare untuk tanaman jahe merah dengan PT Sido Muncul. Satu hektare lagi kita tanami kelapa sawit bekerja sama dengan PTPN VIII,” kata Dedy.

Achmad Musyadar mengamini. Kepala Unit TEFA Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor itu menambahkan bahwa sudah menjalin komitmen dengan PT Nestle Indonesia bernama “Nestle Intercropping Program” dalam bentuk penanaman kopi, cabe, dan sayuran di lahan seluas satu hektare. Tujuan penggalangan kerja sama ini diharapkan mampu mewujudkan generasi muda lulusan pertanian milenial yang berdaya saing global, berkualitas, dan berdedikasi tinggi. Para lulusan polbangtan itu pun harus mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator), bukan sebagai pencari kerja (job seeker).

Kehadiran era Revolusi Industri 4.0. memang mengubah tatanan pola pikir generasi muda pertanian. Kementerian Pertanian memahami konsekuensi ini dengan upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui sektor pendidikan pertanian. Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pun berbenah melalui transformasi kelembagaan pendidikan. Transformasi kelembagaan dilakukan kepada enam sekolah tinggi penyuluhan perrtanian (STPP) menjadi polbangtan, tiga sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP), serta Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI). Polbangtan Bogor adalah institusi pendidikan hasil transformasi kelembagaan yang mulai melakukan revolusi institusi melalui kerja sama industri.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)

Putra Subang Magang di Polbangtan Malang

Putra daerah dari Kabupaten Sumba Barat datang ke Polbangtan Malang hari ini Jumat (8/09/2017) didampingi staf dari Bappeda mereka bermaksud untuk melaksanakan magang kerja.

Ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Master of Understanding (MoU) yang sebelumnya telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dengan STPP Malang, keduanya bersepakat untuk saling bekerja sama guna meningkatkan mutu sumberdaya manusia khususnya di bidang pertanian. Enam orang putra daerah akan tinggal di STPP Malang selama enam bulan mulai Senin 11 September 2017, mereka akan mengikuti kegiatan di instalasi dan laboratorium. Harapannya enam orang ini bisa membaur, bekerja bersama para mahasiswa walaupun status mereka magang.

“nantinya enam orang ini akan memiliki skill yang tidak kalah dengan mahasiswa, sehingga ada oleh-oleh yang bisa disampaikan ke Bapak Bupati,“ kata Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si menyemangati para peserta magang. Ketua STPP Malang juga berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian dan jadwal magang dengan sungguh-sungguh.

“Jangan putus asa, kesempatan saat ini manfaatkan sebaik-baiknya. Supaya tahun depan layak mewakili daerah menjadi mahasiswa STPP”. Pesan Munifah diakhir sambutannya. (YF)

Tertarik Budidaya Hidroponik, Mahasiswa STPP Gowa ini Langsung Beraksi

Mahasiswa Tingkat II Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa, Reza Pahlawan yang berasal dari Kabupaten Pangkep ini dengan cekatan merangkai pipa-pipa paralon yang rencananya akan dibuat tempat budidaya sayuran hidroponik. Reza sangat ingin mengembangkan budidaya tanaman hidroponik dengan memanfaatkan lahan yang ada di Kampus STPP Gowa.

“Saya sudah mempersiapkan pipa ini sejak beberapa minggu, hari ini saya akan tanam perdana. Ini dilakukan setelah 21 hari melaksanakan praktik kerja lapangan di salah satu perusahaan yang memproduksi sayuran secara hidroponik. Saya sangat termotivasi dengan apa yang saya lihat selama melakukan PKL diperusahaan tersebut dan pemilik perusahaan juga aktif memberikan informasi yang saya butuhkan. Pokoknya saya manfaatkan waktu PKL untuk berguru ilmu hidroponik,” ujar Reza penuh semangat.

Reza, anak penyuluh pertanian di Kabupaten Pangkep ini tertarik dengan sistem hidroponik karena ternyata metode budidaya ini mudah dan praktis. “Seperti yang saya bayangkan sebelumnya, tidak memerlukan banyak biaya dan tenaga kerja, dan sangat cocok digeluti oleh mahasiswa yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan, doakan saya semoga panen nanti sesuai dengan harapan saya, saya ingin budidaya tanaman bayam merah,” ujarnya penuh harap.

Berumur 1 tahun, UKM English Club Polbangtan Gowa Makin Eksis

Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa saat ini menjalankan 1 program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan bagi Polbangtan Gowa yang saat ini menuju World Class University.

UKM English Club Polbangtan Gowa ini digawangi oleh Miftahul Fauzie, Risha, Lukas, Asrul dan Elvira yang menurut mereka, hal ini untuk mengakomodir minat dan bakat mereka dalam hal pengusaaan bahasa inggris dan club ini sudah terbentuk setahun yang lalu.

Kami berharap dengan kegiatan ini dapat menambah modal kami sebagai mahasiswa kedepannya. Kita tahu bahwa penguasaan asing menjadi salah satu tolak ukur ke-profesionalan seseorang, ujar Miftahul Fauzie, Ketua UKM EC.

Program English Club dilaksanakan setiap Kamis, pukul 16.00. Sebagai fasilitator kami dibantu Bapak Sultan Baa, S.S., M.Ed., PhD dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Untuk saat ini, sebanyak 35 mahasiswa dari 4 prodi di Polbangtan Gowa yang antusias mengikuti kegiatan. Kami tidak membatasi, silahkan bagi siapa saja, selama mereka adalah mahasiswa Polbangtan Gowa, silahkan bergabung.

Sebagai fasilitator, Sultan Baa cukup memberikan apresiasi dengan peserta mahasisaa Polbangtan Gowa karena rata-rata level mereka sudah pada level intermediete jadi tinggal dipacu di practicing speakingnya dan listening.

Direktur Polbangtan Gowa, Dr. Ir. Syaifuddin, MP sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ini dapat merubah stigma bahwa mahasiswa pertanian itu juga dapat menguasai bahasa asing. Kegiatan ini akan kami dukung, ini juga senada dengan arahan Menteri Pertanian yang mengharapkan agar mahasiswa Polbangtan itu Profesional, Mandiri dan Berdaya Saing.

Mahasiswa Polbangtan Bogor Siap Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Permasalahan sampah di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor sudah sejak lama ditangani, yang diinisiasi oleh alumni dan mahasiswa melalui program SEMESTA. Akan tetapi kegiatan ini belum dilaksanakan secara maksimal. Hari ini 8/12/2018 Polbangtan Bogor membuktikan keseriusannya mendorong mahasiswa mengubah sampah menjadi berkah dengan mengadakan sosialisasi penanganan sampah (waste management) di Aula Kampus Cibalagung.

Sosialisasi kepada pengurus BEM dan para Lurah Asrama Polbangtan Bogor dengan nara sumber Taufan Budiarto dari PT Nestle Indonesia. Menurut Taufan, PT Nestle Indonesia yang  sudah  memiliki program Zero Waste to Landfill sejak Agustus 2018 di Head Office Nestle di Jakarta Selatan. “Program ini bisa diadopsi oleh Polbangtan Bogor dengan melakukan pemilahan sampah yang  dimulai di kamar asrama mahasiswa dan pembuatan lubang-lubang  biopori di sekitar kampus  khususnya di asrama dan rusun.”

“Dengan adanya lubang biopori tersebut  selain untuk lubang resapan air dan membuat tanah lebih sehat juga akan membantu penanganan terhadap  sampah/limbah organik,” jelas Taufan.

Semoga program pengelolaan sampah ini segera terwujud di Polbangtan Bogor, dengan mengoptimalkan potensi dan sumber daya untuk berkontribusi terhadap upaya melestarikan lingkungan. Kuncinya adalah komitmen civitas akademika untuk  turut berperan secara aktif bersama-sama sehingga memudahkan pencapaian zero waste to landfill. [WT & AP]