Penerimaan Mahasiswa Polbangtan 2019/2020 Dilaksanakan Secara Daring

Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) akan menerapkan sistem daring (online) untuk PMB Polbangtan Tahun Akademik 2019/2020. Penerapan sistem online tersebut dikemukakan dalam rapat pembahasan sistem PMB yang dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti di Bogor, Sabtu (13/4). Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Bidang Penyelenggaraan Pendidikan Pusdiktan Ismaya Nita Rianti Parawan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Subbidang Peserta Didik Pusdiktan Yudi Astoni, dan perwakilan dari enam polbangtan di Indonesia.

PMB Polbangtan secara daring ini dibuka untuk lima jalur penerimaan. Yakni, Jalur Umum; Tugas Belajar; Undangan; Kerja Sama; dan Jalur Prestasi, Olahraga, Seni, Keilmuan, dan Minat (POSKM). Seluruh informasi pendaftaran PMB Polbangtan Tahun Akademik 2019/2020 tersebut dapat disimak melalui laman https://pmb.pusdiktan.net.

Lokasi polbangtan terbagi atas enam provinsi, yakni Medan (Sumatra Utara), Bogor (Jawa Barat), Yoma (Yogyakarta-Magelang), Malang (Jawa Timur), Gowa (Sulawesi Selatan), dan Manokwari (Papua Barat).(Fika Artharini/EPN)

Petani Milenial Banjarbaru ‘Road to Taiwan’ Diseleksi

Kementerian Pertanian menggelar program magang peningkatan keterampilan dan kualitas petani muda Indonesia untuk mendongrak kemampuan berkompetitif dan berinovatif dalam bidang pertanian. Itulah yang tengah dilaksanakan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Banjarbaru, selaku unit pelaksana teknis pendidikan di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pekan silam, sebagai tempat seleksi bertahap program magang petani milenial ke Taiwan, Republik Rakyat Tiongkok. Seleksi angkatan pertama yang diikuti 160 orang akan memperebutkan 75 kuota magang ke Taiwan selama satu sampai dua tahun.

Menurut panitia seleksi dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Wiweko Setiawan, program magang ini adalah upaya riil peningkatan SDM bidang pertanian. Caranya, dengan mengirim peserta magang ke negara yang terbukti maju di bidang teknologi pertaniannya. Dengan begitu, Wiweko menambahkan, para generasi muda yang terlibat langsung tersebut bakal mampu meningkatkan wawasan dan kemampuan teknis di bidang usaha pertanian. Dia berharap, angkatan pertama magang ke Taiwan bakal mengantongi segudang pengalaman dalam hal teknologi, pemasaran produk, etos kerja, dan inovasi pertanian.

Proses seleksi magang yang dilaksanakan tim Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) BPPSDMP Kementerian Pertanian melalui tahapan seleksi administrasi dan seleksi teknis pertanian.
Peserta magang pun akan menerima pembekalan pengetahuan seperti minimal bahasa Inggris sebelum diberangkatkan. Maklum, bahasa Inggris adalah bahasa pengantar internasional yang dipakai narasumber atau pakar untuk menyampaikan materi pembelajaran ke peserta magang.(Willy Darmawan/WHT)

Pusdiktan Siapkan Kurikulum Sawit Sesuai Kebutuhan Industri

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menunjukkan keseriusan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang berkompeten dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Langkah konkretnya terlihat dalam pertemuan dengan perwakilan PT Cargill Indonesia, Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro), Pusat Pelatihan Pertanian (Puslattan), dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Sembawa di Ruang Rapat Pusdiktan Jakarta, Selasa (26/2).

Pertemuan kali ini membahas persiapan pemantapan penyusunan kurikulum pendidikan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, khususnya kelapa sawit. Government Relations Director PT Cargill Indonesia Zulham Koto menuturkan, sinergitas antara pemerintah, pengusaha, profesi atau planter, dan akademisi sangat diperlukan. Ada dua poin yang perlu diterapkan untuk menghasilkan kurikulum tersebut: melibatkan beberapa perusahaan dan fokus pada vokasional komoditi. “Sebab, ketahanan dan passion generasi muda bekerja di kebun masih rendah,” kata dia.

Bak gayung bersambut, Mona Nur Moulia merespons. Menurut guru SMK-PP Sembawa di Sumatra Selatan itu, memang sudah ada rencana program studi (prodi) budi daya perkebunan dan pengolahan hasil perkebunan. Di SMK-PP Sembawa, misalnya.

Executive Director PISAgro Martini pun angkat bicara. Menurut dia, banyak perusahaan yang paham praktik sektor kelapa sawit, tetapi perlu orang yang ahli untuk menuangkannya menjadi sebuah kurikulum. “[Contoh], sebaiknya dibentuk tim sawit,” ujar Martini.

Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Tugas Belajar Pusdiktan Abdul Roni Angkat mengamini. Bahkan menurut dia, rencana tindak lanjut dari pertemuan ini memang membentuk tim vokasional kelapa sawit. Short term-nya adalah kompetensi kelapa sawit yang disisipkan ke dalam pokok bahasan mata kuliah Budi Daya Perkebunan. Sementara long term, Roni menambahkan, adalah pembentukan Program Studi Budi Daya Kelapa Sawit atau Pengolahan Hasil Kepala Sawit.

Sedianya, pertemuan selanjutnya akan mengundang lebih banyak praktisi dunia usaha dan industri khusus di bidang perkebunan kelapa sawit.(Ageng Hasanah/FIK)

Transformasi Pendidikan Pertanian di Era Milenial

Perubahan zaman modern yang terus mengikuti di era milenial merupakan pendorong perkembangan bangsa dan negara untuk menyejahterahkan kehidupan rakyatnya, hal ini merupakan sikap nasionalis setiap individu, di mana kita berpijak disitulah bumi dijunjung, maka dimana kita dilahirkan di situlah kita dibesarkan. Indonesia adalah negara tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, merupakan negara yang kaya, dari segi jumlah penduduk maupun sumber daya alamnya. Pertama kita lihat dari SDM nya, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha dan dunia industri. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan yang teramat besar di bidang kehidupan seperti perdagangan, pertanian, transportasi, pemerintahan hingga dunia pendidikan. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam pengembangan pendidikan nasional saat ini menjadi sesuatu yang wajib. Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan konvensional (tatap muka) ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat dua arah, kompetitif, multidisipliner, serta tingginya produktivitas. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu? Kerena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisi lain, berpotensi menyebabkan dekadensi moral dan spiritual.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian – BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti mengungkapkan bahwa peran orangtua, guru, dan dosen sebagai pengawas dan pengarah, menjadi sangat penting agar generasi muda memiliki pondasi moral yang kuat di dalam diri, dalam arti bisa membedakan mana yang baik dan buruklah yang bisa menjamin masa depan generasi muda Indonesia tetep cerah. Selain itu, dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan yang mampu menangkal dan menyaring pengaruh buruk yang berpotensi masuk ke dalam diri generasi muda. Elemen-elemen tersebut seperti: Penguatan Pendidikan Karakter, dimana semenjak 2017 Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Akademi Militer Magelang – Jawa Tengah, berupaya memaksimalkan implementasi pendidikan karakter tersebut dengan menyelenggarakan “Pelatihan Bimbingan Teknis dan Bimbingan Asuh bagi Pengasuh Taruna Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan 2019”. Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain dan juga membentuk karakter peserta didik menjadi SDM yang tangguh, handal dan professional. (Fka)

PEPI Serpong: Sinergi Pendidikan, Penelitian dan Rekayasa Teknologi Pertanian

Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) di Serpong, Tangerang merupakan bukti sinergi pendidikan, penelitian, dan rekayasa teknologi pertanian yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian RI untuk mendukung modernisasi pertanian dan menghasilkan petani milenial di seluruh Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro mengatakan sinergi pendidikan, penelitian, dan rekayasa teknologi pertanian untuk menyiapkan SDM pertanian dan pengembangan engineering pertanian terstruktur dan berkelanjutan, dari hulu sampai hilir.

“Modernisasi pertanian melalui pendidikan tinggi bukan lagi mimpi bagi Kementan. Saat ini telah berkoordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah,” kata Sekjen Kementan Syukur I usai visitasi di kampus PEPI Serpong dalam kesatuan lahan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian – BBPMektan, Senin (7/1).

Kementerian yang dimaksud adalah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dan Pemprov Banten serta Pemkab Tangerang.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono menargetkan PEPI Serpong akan menerima mahasiswa baru tahun ajaran 2019/2020 dari seluruh Indonesia, sebagai komitmen mencetak petani milenial terdidik dan berdaya saing.

“BPPSDMP Kementan akan mengerahkan kemampuan untuk mempercepat dan pembangunan kampus PEPI, dan penyiapan proses pendidikannya,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti melalui keterangan tertulis. (Inneke)

Michael Böhme Berbagi Ilmu Holtikultura Versi Jerman

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kedatangan tamu penting, Selasa (4/12). Dalam acara kuliah umum bertema holtikultura, kampus di kawasan Cibalagung, Bogor, Jawa Barat itu berkesempatan mendapat paparan langsung dari sang pembicara utama, Michael Henry Böhme dari Humboldt University of Berlin, Faculty of Life Sciences, Horticultural Plant Systems Department. Acara kuliah umum itu dibuka Wakil Direktur I Tri Ratna Saridewi, seraya memperkenalkan keberadaan dan kiprah Polbangtan Bogor kepada Profesor Böhme.

Dalam paparannya, Böhme mempresentasikan sejarah ilmu hortikultura. Penyandang gelar profesor dan doktor ilmu pertanian plus doktor peraih gelar honoris causa bidang multimedia itu pun membeberkan fakta perkembangan holtikultura dan permasalahan seputar konsumsi sayuran beserta fakta-fakta hasil penelitiannya di Negeri Tembok Berlin.

Para peserta kuliah umum yang terdiri dosen dan mahasiswa jurusan Pertanian tampak antusias. Di acara yang dipandu dosen jurusan Pertanian Yull Harry Bahar itu, mereka melontarkan sejumlah pertanyaan. Termasuk, kiat bila mau mengaplikasikan ilmu ala Michael di Polbangtan Kota Hujan.

Di penghujung acara, Böhme bertestimoni di hadapan sejumlah awak media massa. Ahli hortikultura itu mengaku bangga dan gembira, telah berbagi ilmu di Polbangtan Bogor. Menurut dia, antusiasme peserta layak mendapatkan apresiasi.

Polbangtan Diluncurkan, Mentan: “Lulusan Harus jadi Job Creator, Bukan Cari Kerja”

Kementerian Pertanian RI meluncurkan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) di Bogor, Selasa pagi (18/9) sebagai implementasi UU Pendidikan Tinggi No 12/2012, dan Mentan Andi Amran Sulaiman mengingatkan kepada 4.487 mahasiswa angkatan pertama Polbangtan untuk lulus sebagai job creator, “bukan lagi mencari kerja.”

Mentan Amran Sulaiman mengatakan transformasi Polbangtan dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) merupakan pengejawantahan komitmen Pemerintah RI mengantisipasi perubahan dan tantangan sektor pertanian ke depan, sekaligus implementasi UU Pendidikan Tinggi, yang mensyaratkan konsep pembelajaran yang menekankan praktik 70 % melalui teaching factory disingkat TeFa ketimbang teori hanya 30 %.

 

“Perubahan ini tidak dimaksudkan sekadar mencetak tenaga terampil di sektor pertanian. Lebih dari itu, menciptakan para wirausahawan muda pertanian. Lulus dari Polbangtan harus menjadi job creator, bukan mencari kerja,” kata Mentan. Menurutnya, Polbangtan akan menerapkan konsep pembelajaran yang menekankan pada kegiatan praktik melalui TeFa, untuk meluluskan sarjana sains terapan dengan orientasi menjadi wirausahawan muda pertanian melalui konsep pendidikan dan pengajaran 30 % teori dan 70 % praktik.

“Model pembelajaran ini mengajak mahasiswa masuk ke lingkungan sesungguhnya di tempat kerja. Tujuannya menumbuhkan kemampuan kewirausahaan dari mahasiswa yang mengembangkan produk berorientasi pasar dan diminati konsumen,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono kepada pers. Menurutnya, STPP yang semula berorientasi menghasilkan penyuluh pertanian dan peternakan, maka lulusan Polbangtan diarahkan menjadi job creator yang berjiwa wirausaha atau socioagropreneur dengan keahlian tertentu di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Enam Kampus Kelembagaan Polbangtan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 25/2018 tentang Organisasi Tata Kerja Polbangtan berlaku untuk enam kampus STPP di seluruh Indonesia yang beralih peran dan fungsi STPP Medan menjadi Polbangtan Medan, STPP Bogor menjadi Polbangtan Bogor, STPP Magelang menjadi Polbangtan Yogyakarta – Magelang, STPP Malang menjadi Polbangtan Malang, STPP Gowa menjadi Polbangtan Gowa, dan STPP Manokwari menjadi Polbangtan Manokwari. “Polbangtan mengusung 13 Prodi untuk meningkatkan pengembangan pendidikan dan kualitas sarjana terapan sesuai visi Polbangtan menjadi politeknik pembangunan pertanian unggulan,” kata Momon Rusmono.

Dari 13 Prodi, sembilan di antaranya dengan jenjang sarjana terapan disingkat S.Tr antara lain Penyuluh Pertanian Berkelanjutan, Penyuluh Perkebunan Presisi, Teknologi Produksi, Penyuluhan Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agribisnis Hortikultura, Teknologi Benih, Teknologi Pakan Ternak, Produksi Ternak, dan Agribisnis Peternakan.