Archive for month: Juni, 2020

Jangan Lewatkan MAF IV: Gaung Pertanian 4.0 Bersama Petani Milenial

Mari ikuti Milenial Agriculture Forum (MAF) IV dengan topik Gaung Pertanian 4.0 Bersama Petani Milenial. Acara akan dilaksanakan pada 1 Juli 2020 (pukul 13.00 WIB) melalui zoom meeting

ID : 835 0976 5081

Password: milenial

Pembukaan dan Arahan:

  • H. Dedi Mulyadi, SH (Komisi IV DPR RI)
  • Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr (Kepala Badan PPSDMP Kementerian Pertanian RI)

Moderator:

Dr. Ir. Idha Widi Arsanti, MP (Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP, Kementan RI)

Narasumber:

  • Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc (Kepala BPPT)
  • Nursyamsu Mahyudin (Direktur Utama PT. Nudira)
  • Sanny Gaddafi (Founder 8village)
  • Endang Rahman Hakim (Community Development Specialist TaniHub

Yuk Catat Tanggalnya dan Ikuti Acaranya ;)

BPPSDMP Kementan- Ditjen Vokasi Kemendikbud Bahas Program Link and Match

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi bertemu dengan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto, dalam rangka koordinasi pendidikan tinggi vokasi melalui video conference, Selasa (23/6). Pertemuan ini membahas link and match pendidikan vokasi dengan industri dan dunia usaha.

Acara ini turut dihadiri Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri Kemendikbud Ahmad Saufi, Direktur Politeknik lingkup Kementan beserta jajarannya, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) lingkup Kementan beserta jajarannya, dan juga para pejabat lingkup Pusat Pendidikan Pertanian.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menyampaikan kontribusi terbesar dari produktivitas sektor pertanian dan sektor lainnya adalah sumberdaya manusia (SDM). “Kita semua yakin pendidikan vokasi memegang peran penting dalam peningkatan kapasistas SDM pertanian,” ujar Dedi dalam memberikan arahan. Ia memaparkan tugas BPPSDMP adalah mewujudkan SDM pertanian yg profesional, mandiri, daya saing, dan wirausaha.

Kementan memiliki 7 politeknik yang tersebar di seluruh tanah air dan 3 SMK-PP yang saat ini sedang proses transformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). “Salah satu indikasi keberhasilan pendidikan vokasi adalah alumninya dapat diserap oleh dunia usaha dan dunia industri. Kita harus bangun dudi sebanyak-banyaknya melalui dunia vokasi, dan menghasilkan SDM yang profesional dan mandiri,” ujar Dedi.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto sepakat dengan apa yang disampaikan Dedi. “Kalau mendengarkan penjelasan tadi, sepertinya kita tau apa yang harus kita lakukan, we know exactly what we have to do,” kata Wikan. Ia menekankan link and match harus bisa sampai ‘menikah’. Harapannya menghasilkan lulusan yang kompeten bukan hanya dengan ijazah saja.

“Pertanian jelas potensi bangsa kita. Kita ingin menghasilkan output SDM unggul yang kompeten dan itu harus terwujud dalam kurikulum. Kurikulum harus dibentuk bersama,” lanjut Wikan. “Masalah kita ada pada input yang tidak passion sehingga menguap tidak berefek pada output yang ingin dicapai,” jelasnya.

Wikan menyampaikan kolaborasi perlu dilakukan secara rutin, “kita campaign masuk ke SMP dan SMA, kita ubah mindset mereka, pilih prodi sesuai passion bukan karena temen atau karena orang tua”. Ia berharap anak-anak sejak mendaftar masuk kuliah sudah ada passion. Kita fokus pada output yang kita sepakati bersama yaitu SDM yang kompeten, jelasnya.

Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri Kemendikbud Ahmad Saufi mengamini apa yang disampaikan Dirjen Vokasi. Ia menyampaikan komunikasi dengan Kementan sudah cukup bagus, tataran teknis dapat dibicarakan setelah pertemuan ini.

Bertindak sebagai moderator Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti. Saat menutup pertemuan ini, Idha menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak dan mengajak bersama-sama memajukan vokasi khususnya di bidang pertanian. (Ageng HS)

Kementan Gelar Forum Diskusi Bahas Petani Milenial Adaptif Teknologi

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF) III bertajuk Kiprah Petani Milenial Adaptif Teknologi Wujudkan Pertanian Modern (17/6). Forum diskusi ini dibuka oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan menghadirkan narasumber kompeten yaitu Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, IFAD Country Director for Indonesia sekaligus Head of the IFAD South East Asia and Pacific Hub Ivan Cossio Cortez. Tampak hadir para Duta Petani Milenial, Duta Petani Andalan, beserta petani milenial di seluruh wilayah Indonesia. Forum ini turut dihadiri pula oleh para pejabat lingkup Kementan, Pimpinan dan dosen perguruan tinggi mitra Kementan, Direktur dan dosen Politeknik lingkup Kementan, Kepala SMKPP lingkup Kementan, dan widyaiswara.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo didampingi Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono

Mentan SYL mengapresiasi dan mengaku senang dengan terselenggaranya forum diskusi online ini. “Kita harus beradaptasi dengan tuntutan di era yang kita hadapi, Covid ini menjadi tanda perubahan paradigma. itulah tantangan kita hari ini” ujar Mentan saat memberikan arahan melalui zoom meeting dari Kantor Pusat Kementan, Jakarta. Ia menuturkan bahwa di saat krisis yang menyelamatkan sebuah negara adalah pertanian, ekspor di bidang pertanian tetap jalan, tidak ada yang membatalkan kontrak karena Covid. “Pertanian terbuka untuk semua usia, anak-anak milenial harus diajak dan diyakinkan untuk melihat teman-temannya yang sukses. Online sistem, startup, digital sistem menjadi jawaban peluang bisnis pertanian.” kata SYL memberikan semangat kepada seluruh peserta.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi dalam paparannya menyampaikan bahwa regenerasi petani adalah suatu keniscayaan. “Petani milenial kita sudah banyak berkiprah di bidang pertanian. Alhamdulillah sudah relatif menggembirakan,” ujar Dedi. Ia mengungkapkan bahwa petani milenial mempunyai kreativitas yang sangat tinggi, adaptif dan inovatif. Ini menjadi modal untuk membangun pertanian di masa yang akan datang, kata Dedi optimis.

Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi

Dedi menambahkan, Kementan mendukung pembangunan petani milenial ini. Berbagai program terus digenjot, seperti Program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services) melalui peningkatan kapasitas pemuda di perdesaaan, pengembangan wirausawan muda pertanian, dan memfasilitasi akses permodalan. Target penumbuhan pengusaha pertanian milenial selama 5 tahun mulai dari tahun 2020 s/d 2024 mencapai 2.500.000 di seluruh subsektor pertanian, jelas Dedi.

Rektor IPB Arif Satria menyampaikan, sektor pendidikan mempunyai peran untuk transformasi entrepreneurship. IPB bertujuan menghasilkan techno-sociopreneur. “Goal pendidikannya, menghasilkan powerful agile-learner,” ungkap Arif. Di kesempatan berikutnya, IFAD Country Director for Indonesia Ivan Cossio Cortez menyampaikan bahwa generasi milenial memiliki kemampuan berpikir lebih baik, lebih cepat, dan tanggap dengan teknologi dibanding dengan generasi lanjut.

Seorang petani milenial mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab

Berlaku sebagai moderator Kepala Penyuluhan Pertanian Leli Nuryati. Sebelum menutup acara, Leli mengutip paparan Kepala BPPSDMP yaitu yang pertama regenerasi petani adalah suatu keniscayan dan harus dilakukan saat ini juga. Kedua, petani milenial sangat potensial utk melanjutkan pembangunan pertanian di Indonesia karena cerdas, muda, kreatif dan inovatif. Ketiga, petani milenial kita sudah berkiprah dan mendorong pertanian untuk lebih maju lagi. (Ageng Hasanah)

Yuk Ikuti International Webinar ini 19 Juni Mendatang!

Ayo Ikuti International Webinar :

🇲🇨 🇳🇿 THE INDONESIA NEW ZEALAND PARTNERSHIP: DEFINING A STRATEGY FOR INDONESIAN RESILIENCE AND RECOVERY TO COVID-19 THROUGH AGRICULTURE AND HORTICULTURE

Menghadirkan:
1. Kepala BPPSDMP – Prof. Dr. Ir. Dedy Nursyamsi, M.Agr
2. Dubes RI untuk Selandia Baru di Welington – Tantowi Yahya
3. First Secretary, New Zealand Embassy di Jakarta – Jack Lee
4. Massey University – Prof. Julian Hayes and Dr. Janet Reid

Buruan daftar sekarang ⬇️
https://bit.ly/3f6NDIK

Jangan lupa gabung Video Conferencenya via Aplikasi Zoom (hanya untuk 300 orang)
Jumat, 19 Juni 2020
⏰ 13.00 – 15.30 WIB
Meeting ID : 858 5422 4530
Password : pusdiktan

Live Streaming Youtube https://youtu.be/9m2iE8XkulM –> jika quota Zoom full🙏🏻

Supported by : BPPSDMP Kementan – KBRI Wellington – NZ Embassy – Massey University NZ
🇲🇨 🇳🇿

Pusdiktan Apresiasi Aktivitas SMK N 2 Slawi

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa pendidikan vokasi mempunyai peran penting menghasilkan petani milenial berjiwa entrepreneur. “Pendidikan vokasi telah dituntun dengan era yang baru. Saat ini pendidikan vokasi menjadi jawaban karena sekarang tidak hanya mengajarkan keterampilan dalam pendekatan intelektual tetapi juga sekaligus menyatukan sistem intelektual dengan manajemen orientasi seperti lapangan, dan praktis,” ujar SYL dalam keterangan pers Jumat (1/5) lalu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi menambahkan, “Kementan fokus mempercepat regenerasi petani ini, salah satunya melalui pendidikan vokasi. Dari pendidikan vokasi ini akan mendorong lahirnya petani milenial yang entrepreneurship.”

“Kementan juga memiliki sejumlah Politeknik Pertanian dan SMK PP Binaan yang bisa mencetak para alumni yang betul-betul job seeker maupun job creator, sehingga nantinya diharapkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan rekan-rekannya yang lain,” imbuh Dedi.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti melakukan kunjungan ke SMK N 2 Slawi pada Sabtu (13/6) dalam rangka memberikan apresiasi terhadap sekolah penggiat pendidikan pertanian. Dalam kunjungan tersebut, Kapusdiktan mengapresiasi kinerja SMK N 2 Slawi dalam kontribusinya membangun sektor pertanian dan peternakan melalui pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada praktek. “Kita perlu mengapresiasi sekolah penggiat pendidikan di bidang pertanian. Karena dari mereka lah petani-petani muda dapat tercetak, apalagi saat ini kita mengalami krisis regenerasi petani,” ujar Idha.

Idha juga memberi semangat agar SMKN 2 Slawi ke depan menjadi SMK yang dibanggakan dan diapresiasi oleh masyarakat serta stake holder untuk menyiapkan dan mencetak lulusan yang memiliki keunggulan, baik akademis maupun non akademis.

“Seperti halnya yang dikatakan Pak SYL, saat ini sekolah vokasi pertanian perlu menerapkan strategi yang tepat dalam menyikapi perkembangan kebutuhan dan teknologi di bidang pertanian untuk dapat diinplementasikan pada tataran pembelajaran yang efektif dan berhasil. Dan itu perlu kita dukung,” imbuh Idha.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMK N 2 Slawi AR Hartono menyampaikan “Saat ini, SMK N 2 Slawi sendiri telah memiliki tujuh kompetensi keahlian, lima di antaranya merupakan jurusan pertanian yaitu Agribisnis Teknologi Pangan dan Hortikultura (ATPH), Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), Agribisnis Ternak Unggas (ATU), Agribisnis Organik Ekologi (AOE – Program 4 tahun), dan Alat Mesin Pertanian (AMP).”

“Selain fasilitas yang saat ini telah tersedia, kami juga sedang mengembangkan laboratorium kultur jaringan. Komoditas yang akan kami kembangkan ialah anggrek, pisang cavendish, dan pisang susu. Dalam mengembangkan laboratorium kultur jaringan ini, kami juga telah bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Akan tetapi karena pandemi Covid-19, proses pengkulturan ini baru dilakukan pada tataran guru karena siswa masih menerapkan kebijakan Learning From Home (LFH),” imbuh Hartono.

“Kami berharap mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian dalam upaya meningkatkan kompetensi guru yang berorientasi pada penguasaan teknologi di bidang pertanian dan peternakan. Adapun saat ini kami lebih mengedepankan orientasi siswa ke wirausaha setelah lulus,” pungkasnya. Kegiatan kunjungan ini diakhiri dengan meninjau area Riset Hortikultura di Kampus-1 Procot Slawi dan Laboratorium Kultur Jaringan. (Vanelly Rahutami Santosa)

SMK-PP Kupang Manfaatkan Pekarangan dengan Budidaya Sayuran

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), menyatakan bahwa pemanfaatan setiap jengkal tanah kosong untuk ditanami bibit tanaman pangan merupakan alternatif yang strategis untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Komoditas pangan yang dapat ditanam ialah komoditas pangan selain beras, contohnya umbi-umbian seperti singkong, hingga sayuran maupun buah-buahan. Dengan begitu masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan alternatif selain beras.

Hal ini juga didukung oleh Dedi Nursyamsi, Kepala BPPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian). Ia mengatakan banyak hal yang bisa dilakukan dalam pemanfaatkan lahan pekarangan, salah satunya dengan melakukan budidaya sayuran. “Manfaatkan semua limbah rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk organik,kemudian aplikasikan pada tanaman yang ada di pekarangan. Jika tidak memungkinkan melakukan budidaya dengan menanam secara langsung di media tanah, bisa juga dengan melakukan budidaya secara hidroponik,” ujar Dedi.

Di masa pandemi ini, menanam di pekarangan ialah langkah cerdas untuk memenuhi kebutuhan pangan sembari berusaha memutus mata rantai penyebaran. Tidak hanya rumah penduduk saja yang bisa memanfaatkan lahan pekarangan. Pekarangan lingkungan asrama pendidikan juga dapat dimanfaatkan.

Hal ini seperti yang bisa dilihat di pekarangan asrama putra di SMK-PP Negeri Kupang. Pekarangan yang luasnya kurang dari 100 meter2 itu ditanami berbagai tanaman sayuran seperti terong, pepaya, dan cabai. Beberapa tanaman seperti wortel, kubis, kaylan, lengkuas, jahe dan kunyit ditanam di polybag. Pemanfaatan pekarangan ini telah dilakukan sejak Agustus 2019 lalu. Jenis tanaman yang ditanam pun berganti-ganti, disesuaikan dengan musim serta kondisi yang ada.

Dibalik pemanfaatan pekarangan itu ada pembimbing asrama serta siswa-siswa yang punya kreativitas tinggi serta tidak kenal lelah. Kegiatan budidaya seluruhnya dilakukan di luar jam sekolah. Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya pun memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Pupuk misalnya, merupakan feses ternak sapi di instalasi. Sedangkan polybag atau pot dapat memanfaatkan limbah seperti bungkus minyak goreng maupun gelas plastik bekas minuman.

Kreativitas di pekarangan asrama itu pun berbuah manis. Hasil panen dapat dinikmati sendiri atau dijual kepada civitas SMK-PP Negeri Kupang hingga masyarakat luas. Sebagian hasil penjualan pun disisihkan agar budidaya di pekarangan bisa berkelanjutan. Di masa pandemi ini, siswa-siswi SMK-PP Negeri Kupang belajar dari rumah. Akhirnya, Nikodemus Usfinit, atau yang biasa dipanggil Niko, sebagai pembimbing asrama meneruskan budidaya di pekarangan itu. Lewat kegiatan di pekarangan itu, ia berharap siswa-siswa bisa terlatih untuk kreatif dalam menerapkan ilmu pertanian dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan Perilaku Pertanian ini merupakan kegiatan positif yang harus terus didukung dan difasilitasi agar berlanjut. Itu sudah menjadi komitmen dari SMK-PP Negeri Kupang”, jelas Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stepanus Bulu.

Pandemi Covid-19, Mahasiswa Politeknik Kementan Dampingi Petani di Daerah Asal

Sektor pertanian harus tetap produktif untuk tetap memastikan ketersediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tak hentinya menyerukan aktivitas pertanian tidak boleh berhenti.

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan pendekatan pangan bisa menjadi solusi melawan Covid-19, selain pendekatan kesehatan. “Pendekatan pangan tidak kalah penting dari kesehatan. Karena dalam situasi dan kondisi apa pun, pangan tidak boleh bersoal. Apalagi dalam kondisi seperti pandemi Covid-19 sekarang. Oleh karena itu, seluruh insan pertanian di mana pun berada, Kementerian Pertanian punya tugas menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Politeknik Kementan yaitu Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) pun turut mengambil bagiannya dengan menggerakkan mahasiswanya. Kembali ke daerah asal sebagai imbas dari pandemi, seluruh mahasiswa mengawal dan mendampingi petani yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan dengan membantu memecahkan masalah yang ada di kelompok tani. Kegiatan ini telah berlangsung sejak Mei 2020 dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Politeknik lingkup Kementan selama masa pembelajaran daring on-line.

Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Polbangtan dan PEPI secara virtual melalui video conference. Kegiatan ini telah dilakukan oleh Polbangtan Medan pada Jumat (5/6) melalui zoom meeting. Direktur Polbangtan Medan Yuliana Kansrini saat memberikan arahan mengatakan tujuan kegiatan pendampingan ini adalah menjamin kualitas mahasiswa Polbangtan Medan untuk menghasilkan job creator dan job seeker , serta membantu petani selama penyebaran wabah Covid-19. “Ada 606 orang mahasiswa dengan rencana waktu pelaksanaan selama 2 bulan yakni tanggal 13 Mei sampai 30 Juni 2020,” kata Yulia.

Distribusi lokasi pendampingan tidak hanya pada provinsi Sumatera Utara tetapi juga provinsi lainnya seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, dan lainnya bahkan hingga Sulawesi Selatan. Dalam kegiatan evaluasi tersebut Yulia juga menyajikan video-video yang menunjukkan kegiatan yang dilakukan mahasiswa di lapangan. Video menampilkan kegiatan mahasiswa melakukan pendampingan pembibitan sawi, cabai merah, tomat di pekarangan rumah.
Beberapa mahasiswa menyampaikan kegiatan yang telah mereka lakukan, Dendi salah satunya. Mahasiswa asal Desa Lalang Sembawa, Banyuasin ini menyampaikan salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mendampingi ibu-ibu rumah tangga dalam pemanfaatan pekarangan rumah. Ia pun menyampaikan keluhan petani karet di daerah tempat tinggalnya karena harga jual yang rendah sebagai imbas dari pandemi Covid-19. Tak hanya Dendi, Nia yang berlokasi di Desa Serba Jadi, Kabupaten Deli Serdang turut menyampaikan kegiatan pendampingan yang dilakukan diantaranya adalah membuat media hidroponik sederhana dari barang-barang bekas yang ada di rumah.

Tampak hadir Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti. Ia menyampiakan untuk memecahkan masalah di lapangan harus dilakukan melalui sinergi, tidak bisa dilakukan mahasiswa sendiri ataupun petani sendiri. “Kita semua harus tetap mendorong para pelaku utama pertanian terutama petani untuk tetap melakukan aktivitas produksi di lapangan tentu saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan di lapangan,” ujar Idha. Tampak hadir pula dalam kegiatan ini seluruh Direktur Politeknik Kementan, Kepala Dinas terkait, dan para pembimbing mahasiswa. (Ageng Hasanah S)

Siapkan Business Development Services Providers (BDSP) Program YESS, P4S Mitra Tani Parahyangan sebagai Calon Lembaga Potensial

Kementerian Pertanian memiliki target melahirkan 2,5 juta petani milenial dalam jangka waktu 5 tahun (2020-2024). Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa generasi muda masa kini adalah pemuda pemudi yang tanggap teknologi, yang siap terjun ke dunia kerja dan wirausaha agribisnis, berorientasi ekspor, serta menjadi agent of changes dalam pembangungan pertanian. Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi menegaskan, “generasi milenial harus mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia.”

Guna mewujudkan target tersebut, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan IFAD, menjalankan program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Terdapat 4 provinsi yang akan menjadi lokasi program YESS, yaitu Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Subang), Jawa Tmur (Malang, Pasuruan, Tulungagung, Pacitan), Sulawesi Selatan (Bantaeng, Bone, Bulukumba, Maros), dan Kalimantan Selatan (Banjarbaru, Tanah Laut, Tanah Bumbu). Kegiatan yang dilakukan dalam program YESS di antaranya adalah pemilihan Business Development Service Providers (BDSP) di masing-masing lokasi.

 

Sabtu (6/6), Idha Widi Arsanti, selaku Kepala Pusat Pendidikan Pertanian melakukan kunjungan ke salah satu Duta Petani Milenial, yaitu Sandi Octa Susila sebagai pemilik Mitra Tani Parahyangan. Mitra Tani Parahyangan senbagai kelembagaan agribisnis, yang berlokasi di Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat dan berserk di bidang Agribisnis Hortikultura. Perusahaan ini merupakan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang memiliki potensi menjadi calon BDSP program YESS. “Mitra Tani Parahyangan (MTP) ini sudah memiliki beberapa fasilitas pendukung, yaitu tempat pelatihan, packing house, lokasi pertanian 8 ha, kemitraan dengan lebih dari 300 orang petani, dan juga kerja sama pemasaran dengan kedai sayur Indonesia di Jakarta. Tentu saja, MTP memiliki beberapa kriteria yang sesuai, sehingga bisa dicalonkan sebagai BDSP YESS,” ujar Idha.

BPPSDMP Kementan dan Polbangtan Yoma Upayakan Inovasi Pangan Sehat Bergizi

Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk tetap menjamin ketahanan pangan atau ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia di tengah Pandemi Covid-19. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengungkapkan salah satu upaya tersebut adalah melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi serta bekerjasama dengan pihak lain seperti berbagai startup. Intinya adalah untuk mendekatkan petani sebagai produsen dengan masyarakat sebagai konsumen. Kementan juga memastikan distribusi pangan di tengah pandemi Covid-19 tetap berjalan dengan lancar.

Pesan Menteri Pertanian untuk petani di seluruh Indonesia adalah “sebesar apapun kesulitan saat ini kesuksesan pasti kau dapatkan bila kau berdoa, bekerja terus berjuang dan terus berjuang”.  Diharapkan, kita semua tetap bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam bertahan melawan pandemi Covid-19 dan menyediakan pangan lokal.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengungkapkan bahwa “Paradigma pertanian dulu tanam-petik-jual, sekarang setelah petik harus di olah dulu (Pascapanen atau pengolahan pascapanen) harus diproses terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai jual. Misalnya jika bergerak di bidang padi jangan jual gabah tetapi harus di giling dulu, di jemur dulu sehingga menjual beras dan dapat meningkatkan nilai jual dan meningkatkan keuntungan. Setelah diolah harus memikirkan packaging yang menarik dan bagus karena hal tersebut juga dapat meningkatkan nilai jual.”

Diversifikasi pangan dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku dengan satu jenis makanan pokok sehingga terdorong untuk mengkonsumsi makanan pokok lainnya. Makan adalah kebutuhan utama makhluk hidup terutama manusia. Berbagai macam suku bangsa di dunia memiliki makanan pokok yang beragam, seperti beras, kentang, singkong, gandum, jagung dan umbi-umbian lainnya. Masyarakat Indonesia umumnya menggunakan nasi sebagai makanan pokok yang berasal dari beras.

Upaya mendukung ketahanan pangan dan ketahanan diri di era pandemi Covid adalah dengan diversifikasi pangan mencari sumber makanan alternatif yang mengandung nutrisi tinggi, meningkatkan inovasi serta teknologi pangan. Sistem pangan memengaruhi kesehatan manusia secara langsung dan tidak langsung, dan saat ini lebih mendesak daripada sebelumnya, sistem pangan dapat digambarkan sebagai proses yang mengubah sumber daya/input alam dan buatan manusia menjadi makanan. Sistem pangan memiliki hubungan erat dengan kesehatan dan gizi manusia karena tergantung pada kesehatan lingkungan alam.

Dengan mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin dan mengandung nutrisi tinggi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan virus, sebagai pertahanan diri di tengan pandemi ini. Berikut adalah contoh beberapa manfaat dari vitamin.
1. Ascorbic Acid / Vitamin C (mendukung fungsi kekebalan tubuh, memperbaiki semua jaringan tubuh dan meredakan kerentanan saluran pernapasan bagian bawah terhadap infeksi. Terdapat di dalam buah kiwi dan brokoli).
2. Vitamin A (terdiri dari sekelompok senyawa yang larut dalam lemak termasuk retinol, asam retinoat, dan-karoten yang memainkan peran penting dalam fungsi kekebalan tubuh dan diketahui dapat menurunkan kerentanan terhadap infeksi. Terdapat dalam wortel, bayam dan kentang)
3. Vitamin D & E (vitamin D dan E dapat meningkatkan resistensi kita terhadap Covid-19 karena penurunan kadar vitamin D dan E ternak dapat menyebabkan infeksi oleh bovine coronavirus)

Karena itulah, BPPSDMP dan Polbangtan Yoma upayakan inovasi pangan sehat dan bergizi. Contoh inovasi pangan sehat dan bergizi adalah sebagai berikut.
1. Jamu adalah istilah untuk obat tradisional dari Indonesia. Jamu dibuat dari bahan alami, berupa bagian tanaman seperti rimpang (akar), daun, kulit kayu, dan buah. Jamu populer dibuat dari tanaman obat seperti kunyit, jahe dan temulawak.

2. Tanaman obat Indonesia lainnya. Indonesia kaya akan tanaman obat, catatan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah menunjukkan bahwa ada sekitar 30.000 dari 40.000 tanaman obat di dunia. Tanaman obat memainkan peran penting dalam kebutuhan perawatan kesehatan orang di seluruh dunia terutama di negara-negara berkembang. Sebagai contoh tanaman obat adalah Daun Dewa, Sambiloto, Pegagan, Rosella.

Keamanan Pangan dalam Krisis Pandemi berkorelasi dengan kesehatan manusia. Penularan mungkin terjadi jika orang yang terinfeksi menyentuh makanan, dan tak lama kemudian, orang lain memegang makanan tersebut dan menyentuh mata atau selaput lendir mulut atau tenggorokannya. Penanganan keamanan pangan harus diikuti dengan mencuci tangan atau sanitasi yang luas untuk meminimalkan risiko terkena corona virus. FDA menyarankan bahwa sanitasi dan pembersihan permukaan adalah tindakan pencegahan yang lebih disukai untuk restoran makanan dan dapur dibandingkan dengan pengujian lingkungan untuk virus Covid-19. (Vitri Aryanti/AHS)

New Normal, Kementan Bahas Pendidikan Pertanian Bersama Sujiwo Tejo

Kebijakan New Normal yang menjadi wacana pemerintah Indonesia akibat Covid-19 saat ini perlu ditelaah dengan melibatkan praktisi, akademisi, dan pemangku kebijakan lintas sektor. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian mengundang budayawan Sujiwo Tejo dalam webinar bertajuk Penguatan Peran Pendidikan Pertanian di Era Covid-19 pada Kamis (28/05).

“Pandemi Covid-19 secara langsung maupun tidak langsung telah meluluhlantakkan sistem pertanian kita saat ini, baik produksi maupun distribusi. Oleh sebab itu, kita harus bekerjasama. Pangan kita tidak boleh bermasalah. Segala upaya sama-sama kita lakukan untuk meningkatkan produksi, baik melalui inovasi teknologi, infrastruktur, serta SDM yang berkualitas,” ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi saat membuka acara. “Dengan segala keterbatasan di tengah pandemi ini, guru, dosen, dan para widyaiswara diharapkan dapat memompa semangat para peserta didiknya dalam mengelola pertanian karena pertanian tidak boleh berhenti,” imbuh Dedi.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berulang kali menegaskan pentingnya percepatan tanam dan pemanfaatan lahan kosong untuk ditanami tanaman yang cepat panen di masa pandemi Covid-19. Selain itu, penguatan peran pendidikan vokasi juga dinilai tak kalah penting guna menghasilkan SDM yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.”Covid dan vokasi adalah bagian dari cerita baru dunia, di mana Covid mengubah ke arah yang lebih digital dan berbasis teknologi.”

Dalam webinar tersebut, Sujiwo Tejo menjelaskan definisi new normal versinya serta menekankan bahwa semua hal yang ada di alam adalah paradoks. Tugas pendidikan adalah bagaimana menghadapi paradoks tersebut. “Menurut versi saya, kondisi new normal yaitu kondisi ketika pertumbuhan atau penyebaran virus setiap harinya stabil di angka yang sama, namun kita tidak bisa kembali ke normal sehingga diterapkanlah new normal ini. Katakan jika new normal yang mungkin bagi pekerja ialah pendapatan berkurang. Pertanyaannya, apakah dengan pendapatan yang berkurang tersebut kita tetap bekerja all out? Saya jadi ingat ajaran semar yaitu tadah, pradah, ora wegah. Tadah artinya tidak ada doa selain alhamdulillah (bersyukur). Pradah artinya ketika dia komit, dibayar berapapun dia akan all out. Ora wegah artinya tidak pilih-pilih dan tidak setengah-setengah,” jelasnya.

Sujiwo Tejo

“Semua hal yang ada di alam adalah paradoks. Tugas pendidikan adalah bagaimana menghadapi paradoks tersebut. Hadirnya Covid-19 ini mencontohkan banyak paradoks dalam kehidupan, seperti semakin dekat hubungan dengan seseorang, semakin menjauh. Paradoks bagi pendidik saat ini ialah bagaimana mereka bisa all out bekerja di tengah pandemi?” imbuhnya.

“Covid-19 menyadarkan kita bahwa kita (manusia) bukan yang terpenting di alam, tetapi yang berbeda. New normal sektor pertanian ke depan saya harap meskipun sudah menggunakan teknologi canggih, tetap tidak melupakan keseimbangan alam dan mengesampingkan tradisi. Karena tradisi menghidupi sekitar. Kebijakan paling ideal adalah kolaborasi budaya, agama, dan negara.” (Vanelly RS)