Archive for month: Mei, 2020

Gandeng ACIAR, Kementan berbagi pengalaman menangani Pandemi COVID-19

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi seluruh elemen kehidupan manusia diseluruh dunia, termasuk sektor pertanian. Kondisi seperti ini juga dialami negara seperti Australia, ASIA dan Pasifik. Sementara itu, dalam rangka mengatasi pandemi COVID-19 ini, beberapa kebijakan telah diterapkan oleh negara-negara tersebut, seperti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh Pemerintah Daerah, arahan untuk tetap dirumah, menjaga jarak serta tidak berkerumun. Sementara itu, bagi sektor pertanian, kondisi pandemi COVID-19 telah mengganggu sistem produksi pertanian sehingga distribusi bahan pangan ke konsumen terancam dan terjadi permasalahan pemasaran produk pertanian di beberapa wilayah.

Mensikapi kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian terus melakukan terobosan dalam menghadapi COVID-19. Menteri Pertanian Republik Indonesia dalam arahannya terus menyampaikan bahwa peran sektor pertanian sangatlah penting dalam menyediakan pangan apalagi pada saat pandemi COVID-19 ini.”Pertanian tidak boleh berhenti karena bertanggung jawab dalam menyediakan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia”, ungkap Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan. Sementara itu, menindalkanjuti arahan Menteri Pertanian tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian menggandeng Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) dan Politeknik Pembangunan Pertanian menyelenggarakan International Webinar dengan tema “The Current Condition of Agriculture in Australia, Asia and the Pacific during the COVID-19 Pandemic and Its Strategies to Secure Food Supply” pada tanggal 29 Mei 2020 melalui video conference.

Dalam Webinar tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian menyampaikan strategi jangka pendek dan jangka menengah Kementerian Pertanian dalam menghadapi pandemi COVID-19.”Strategi jangka pendek adalah program padat karya, jaring pengaman sosial (social safety net) dan pemenuhan kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia. Sementara Strategi jangka menengah adalah selain pemenuhan kebutuhan pangan bagi 267 juta penduduk juga peningkatan kesejahteraan petani dan peningkatan ekspor”, ungkap Dedi Nursyamsi.

Sementara itu, Peter Horne dari ACIAR menyampaikan hasil asesment terkait ketahanan sistem pangan dalam konteks COVID-19. Dari asesment tersebut, diperoleh hasil bahwa COVID-19 telah mengekspose kekuatan dan kelemahan dari sistem pangan global baik sebelum dan sesudah COVID-19. Asesment dilakukan dalam 3 langkah yaitu langkah pertama adalah rapid assessment yang diselesaikan tanggal 20 Mei 2020. Kemudian langkah kedua adalah assesment terintegrasi dengan negara lain (berbagi pengalaman) serta langkah ketiga dengan assesment mendalam terkait hal-hal yang rawan terkena dampak COVID-19. Pada langkah pertama tersebut telah teridentifikasi setidaknya 10 area signifikan yang terdampak COVID-19. Beberapa diantaranya adalah perpindahan orang skala besar seperti mudik dari kota ke desa, pembatasan bepergian bagi orang, yang kesemuanya itu memberikan ancaman bagi sistem pangan yang sudah ada. Hasil assessment tersebut memberikan gambaran bagaimana sebaiknya pendekatan kebijakan yang dapat dilakukan oleh setiap negara dalam menghadapi COVID-19.

Dalam kesempatan tersebut, tiga Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yaitu Bogor, Yogyakarta – Magelang dan Malang berkesempatan membagikan pengalaman mengenai langkah-langkah yang telah diambil dari akademisi vokasi selama pandemi berlangsung. Seperti misalnya dengan menerapkan Learning From Home (LFH), mahasiswa melakukan pendampingan di wilayah sekitar tempat tinggal mereka untuk membantu petani meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian mereka. Kemudian melakukan kerjasama dengan instansi terkait dalam mengembangkan aktivitas pertanian khususnya bagi pemuda tani, kelompok wanita tani, dan petani tradisional dalam mengembangkan usahanya.

Webinar ini kurang lebih dihadiri oleh 300 peserta video conference dan disaksikan lebih dari 2400 pemirsa melalui siaran langsung/live streaming dari media sosial. Melalui webinar ini diharapkan dapat terinformasikan strategi yang akan diambil setelah mengetahui lesson learn dari Australia maupun Indonesia dan negara lainnya sehingga upaya penanganan dampak COVID-19 akan semakin optimal. (Kodrad Winarno)

 

Materi dapat diunduh dengan klik link berikut https://bit.ly/2ZO34WI

Gelar Forum Online, Kementan Sosialisasikan Akses KUR kepada Petani Milenial

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) II melalui media daring mengangkat topik Akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Petani Milenial pada Rabu (27/5). Sosialisasi KUR kepada para petani milenial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia ini tidak hanya membahas aksesnya tetapi juga diberikan tips penulisan business plan yang bankable.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa KUR dapat bermanfaat bagi petani agar terhindar dari sistem ijon yang merugikan. “Kami ingin mengedukasi petani melalui bantuan KUR ini,” pungkas Syahrul. Ia pun mengajak para petani untuk memanfaatkan KUR untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Sejalan dengan Mentan Syahrul, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi saat membuka forum MAF II menyampaikan, “Paradigma pertanian harus kita rubah, dulu tanam-petik-jual. Saat ini paradigma tersebut tidak cukup, sekarang setelah petik harus diolah dulu sehingga meningkatkan nilai jual dan menguntungkan.” KUR sangat membantu bisnis pertanian karena bunga rendah. Ia pun mengajak para petani milenial untuk transfer ilmu, sharing ilmu, sharing informasi, sharing pengalaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

Dedi pun menginformasikan bahwa pandemi Covid-19 berimbas kepada terganggunya sistem distribusi pangan dari produsen ke konsumen. Bukan hanya di Indonesia tetapi ini terjadi di seluruh dunia, kata Dedi. Saat ini pergerakan pangan di pasaran internasional sangat sedikit karena setiap negara menyimpan beras untuk negaranya sendiri. “Kita harus mandiri pangan. Setiap keluarga yang ada di Indonesia harus mampu mengakses pangan, baik harganya maupun barangnya. Kita harus menghentikan impor. Kita harus menyediakan pangan lokal dengan keringat dan lahan kita sendiri,” pungkasnya.

Narasumber pada forum ini didatangkan dari PT. Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai salah satu bank yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan KUR. Vice President Divisi Hubungan Kelembagaan BNI Muin Fikri menyampaikan bahwa covid bukan halangan tetapi peluang. “Kondisi sulit ini menjadi tantangan bagi kita” katanya memberi semangat. Ia mengapresiasi terselenggaranya forum ini karena bermanfaat nyata.

Manajer Riset Bisnis & Ekonomi BNI Chandra Bagus Sulistyo yang juga hadir sebagai narasumber menginformasikan KUR telah didistribusikan ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Pemberian modal kerja diberikan kepada debitur usaha perorangan atau kelompok yang produktif dengan bunga hanya 6 % dan administrasi yang mudah. Ia mengatakan bahwa pertanian adalah salah satu sektor yang mampu bertahan di era Covid-19. “Jangan ragu lagi untuk tetap menekuni bidang pertanian di tengah pandemi” kata dia.

Forum online ini dimoderatori langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti. “Antusiasme yang cukup besar dari para audience dalam mengikuti webinar tersebut menunjukkan bahwa salah satu aspek yang penting di dalam pengembangan usaha agribisnis adalah permodalan,” ujar Idha sebagai penutup seminar. (Ageng Hasanah)

 

Kondisi Pandemi, Halal Bihalal Pusdiktan Patuhi Protokol Kesehatan

Tradisi halal bihalal pasca libur Idul Fitri di lingkungan Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Kegiatan dilakukan baik secara virtual maupun tatap muka di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (26/5).  Pegawai yang berhalangan hadir dan bekerja dari rumah mengikuti halal bihalal secara daring melalui video conference. Sementara bagi pegawai yang sehat dan menggunakan kendaraan pribadi menghadiri kegiatan dengan menggunakan masker dan menjaga jarak minimal 1 meter.

Acara ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti. Ia menyampaikan selamat Idul Fitri kepada seluruh jajarannya beserta staf Pusdiktan. Tradisi yang rutin dilakukan pasca Lebaran ini menjaga silaturahmi keluarga besar Pusdiktan. Meskipun pandemi Covid-19, kegiatan ini tetap dilakukan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Pada kesempatan ini juga digelar acara pisah sambut Pejabat Eselon IV lingkup Pusdiktan.  Idha melepas Siti Syamsiah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Kelembagaan Pusdiktan untuk mutasi tugas ke Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. Idha juga menyambut Yoyon Haryanto yang mengemban amanah sebagai Kepala Sub Bagian Kurikulum dan Sistem Pembelajaran Pusdiktan. Sebelumnya, Yoyon bertugas di Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). (Ageng Hasanah)

Manfaatkan PWMP Kementan, Petani Milenial: Kembangkan Usaha dengan Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Program inisiasi Kementerian Pertanian, yaitu Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) telah menetaskan banyak pengusaha muda pertanian. PWMP merupakan salah satu program untuk mewujudkan target 2,5 juta petani milenial dalam 5 tahun. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), meyakini anak muda yang mau terjun di bidang pertanian mempunyai peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik.

Mendukung SYL, Dedi Nursyamsi selaku Kepala BPPSDMP mengatakan, “penumbuhan wirausahawan muda pertanian menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan minat generasi milenial akan dunia pertanian.” Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan banyak pihak, termasuk Perguruan Tinggi Mitra, yang salah satunya adalah IPB, Bogor.

Salah satu pengusaha yang saat ini sudah berhasil adalah Tekad Urip Sujarnoko dan Ardiansah. Keduanya merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB yang merintis usaha produksi pakan ternak yang diberi nama PT. Agro Apis Palacio. “Awalnya memang dedicated untuk domba dan kambing, tapi sekarang sudah mulai banyak jenis lain. Mulai dari sapi, kelinci dan ada juga untuk lele. Lele ini ada di fasilitas kami yang ada di Lebak, Banten,” ujar Ardiansah, saat ditemui di salah satu lokasi usahanya di Bogor. Rabu, 20 Mei 2020, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti, dan tim PWMP Polbangtan Bogor mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana, didampingi Iwan selaku dosen pembimbing PWMP Fakultas Peternakan IPB. Selain di Bogor dan Banten, PT. Apis juga memiliki pabrik di Magetan.

 

Usaha ini dirintis pada tahun 2015. Saat itu, Ardiansah dan Tekad melihat adanya peluang bisnis di pakan ternak kambing dan domba. “Ketika tidak banyak pabrik pakan lain yang berfokus ke situ. Mungkin masih dirasa kurang ekonomis ke domba dan kambing,” lanjut Ardiansah. Saat ini kapasitas produksi PT. Apis per bulan mencapai ± 300 ton. Ardiansah mengaku, untuk pasar terbesar masih di Jawa Barat dan Jabodetabek, walaupun di Jawa Timur sudah mulai besar statistik permintaannya. Omzet PT. Apis periode ini sudah mencapai 1,5-2 M per bulannya.
5 tahun berjalannya usaha, PT. Apis terus berkembang dan saat ini sudah memiliki unit usaha lain, seperti farm, pengolahan limbah, dan produksi susu. Bahkan sudah menembus pasar ekspor ke Oman, Somalia. Selain produksi pakan, terdapat unit usaha lain. Dalam pengembangannya, Ardiansah dan Tekad merangkul banyak pengusaha muda lainnya untuk bekerjasama dengan sistem joint venture, di antaranya Richard yang memiliki usaha peternakan domba dan Praselta yang memiliki usaha aqiqah.

“Kita kemarin sudah supply ternak sepulau Jawa ya,” ungkap Ardiansah terkait kerjasamanya dengan Richard. Richard juga merupakan salah satu alumni IPB yang menerima manfaat PWMP pada tahun 2019. Saat ini, ternak di kandangnya mencapai 200 ekor domba untuk tujuan perbesaran. Sumber pakan untuk ternaknya berasal dari PT. Apis dan fermentasi rumput yang diproduksi mandiri.

Berbeda dengan Ardiansah dan Ricard, Praselta bersama kedua temannya (Andi dan Dzaky) menekuni usaha di bidang aqiqah yang diberi nama Aqiqah Dinar. Domba yang digunakan berasal dari kandang sendiri, yang didukung oleh kedua rekanannya. “Per bulannya bisa potong domba sekitar 80 ekor,” ungkap Praselta. Demi menjaga kualitas produknya, domba dan kambing yang digunakan berada di bawah pengawasan dokter hewan, serta pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) berstandar ISO. “kami melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi produksi dan memberikan pelatihan kepada SDM yang kami miliki.”

“Itulah bedanya pengusaha jaman dulu dan pengusaha muda. Kalau jaman dulu, usaha dianggap sebagai kompetisi. Kalau pengusaha muda ini, justru menghilangkan kata kompetisi, yang ada kolaborasi, sinergi,” ujar Iwan. Menurutnya, baik Ardiansah, Praselta, maupun Ricard, tidak pernah pelit membagikan ilmunya untuk sesama alumni IPB. “Tentu saja keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan PWMP Kementerian Pertanian.”
“Kami akan mendukung petani milenial ini untuk terus berkembang. Tidak hanya yang sudah besar saja, tetapi juga yang masih merintis. Kami akan hubungkan dengan pihak-pihak lain yang bisa membantu, seperti misalnya market place, atau bantuan modal, pelatihan juga bisa,” ujar Idha dalam kesempatan tersebut. (Wara Pawesri)

Yuk Hadiri MAF II Bahas Akses KUR Bagi Petani Milenial

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) II pada 27 Mei 2020 mendatang. Topik yang diangkat adalah Akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Petani Milenial dan Penulisan Business Plan yang Bankable.

Forum ini akan dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr (Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian). Sebagai narasumber yaitu Chandra Bagus Sulistyo, SE, Ak, S.Sos, MM, CFP (Pt. Bank Negara Indonesia). Berperan sebagai moderator adalah Dr. Idha Widi Arsanti, SP, MP (Kepala Pusat Pendidikan Pertanian).

Acara akan dilaksanakan pada Rabu, 27 Mei 2020 pukul 09.00 WIB melalui zoom meeting, ID 872 6255 6695, password 719032. Pendaftaran melalui https://bit.ly/36kPE5x

Yuk daftar sekarang, karena tempat terbatas!

 

Produktif di Tengah Pandemi, Petani Milenial Polbangtan Garap Sawah Tadah Hujan dengan Teknologi IPATBO

Pandemi Covid-19 memberi dampak pada kegiatan perkuliahan di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan PEPI. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti menginstruksikan semua aktivitas perkuliahan di kampus dilakukan dengan daring (online/e-learning) dan atau bentuk penugasan lainnya kepada mahasiswa. “Segera laporkan ke kami apabila ada hal-hal yang berkaitan dengan virus Corona, himbau kepada seluruh sivitas akademika untuk membiasakan hidup bersih,” tegasnya.

Instruksi Kapusdiktan ditindaklanjuti oleh Direktur Polbangtan Bogor Siswoyo dengan menerbitkan Surat Edaran No B-689/TU 020/I 7/03/20 tentang Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Infeksi COVID-19 di Lingkungan Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor. “Perkuliahan teori dilakukan dengan memaksimalkan e-learning atau penugasan terstruktur, sedangkan praktik tidak dilakukan semenjak semester genap berjalan,” tuturnya.

Merespon surat edaran tersebut, Tia Maudi Julia, mahasiswi Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan terpaksa menghentikan aktivitas Tugas Akhirnya di Kecamatan Mande Cianjur. Ia pun pulang ke rumahnya di Desa Gobang Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Desa Gobang yang merupakan salah satu desa yang berpotensi tanaman pangan terutama padi. Akan tetapi sekitar 90% lahan di Desa Gobang merupakan lahan tadah hujan, sehingga petani selalu mengalami kekeringan karena adanya keterbatasan ketersediaan air, apalagi tidak ada saluran irigasi. “Inilah yang menyebabkan tingkat produktivitas pertanian lahan sawah tadah hujan juga secara umum rendah,” ungkap Tia.

Petani milenial ini pun mulai berpikir keras, mencari solusi atas permasalahan petani di desanya. Akhirnya ia temukan ide untuk mengenalkan teknologi IPATBO kepada petani agar lahan sawah tadah hujan dapat berproduksi secara optimal. “IPATBO adalah kependekan dari Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik,” jelasnya.
IPATBO merupakan paket teknologi khusus untuk budidaya padi di lahan tadah hujan dengan menerapkan sistem produksi yang memanfaatan potensi biologis, manajemen air dan tanaman serta penggunaan bahan organik dalam pemupukannya untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi dan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) per tahun suatu lahan sehingga lahan sawah tadah hujan tersebut dapat berproduksi secara optimal.

Tia pun mendapat dukungan dari Penyuluh Desa Gobang, Dedi Satria. “Saya sangat terbantu dengan kehadiran Tia, dia benar-benar menerapkan ilmu pertaniannya yang pernah dipelajari selama di kampus,” ucapnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad Sarwan dan Maemunah anggota Kelompoktani Bina Sugih Desa Gobang Kecamatan Rumpin. Keduanya baru saja didatangi Tia saat bertani di lahan tadah hujannya. Sarwan sangat puas dengan penjelasan Tia. “Neng Tia sangat kreatif. Penjelasannya tentang IPATBO sangat rinci, apalagi sambil bagi-bagi leaflet ke kami. Jadi bisa kami bawa pulang untuk dibaca lagi,” ucapnya. Maemunah berharap, teknologi IPATBO ini semoga berhasil diterapkan di sawah miliknya. “Kalau ini berhasil akan saya sebarkan ke teman-teman petani lainnya,” pungkasnya.

Dalam setiap kesempatan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo selalu menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian bangsa Indonesia, ditengah keresahan bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi wabah virus Covid-19. Menghadapi kondisi pandemi Covid-19, Mentan Syahrul melihat semakin banyak orang yang membutuhkan pertanian. “Pertanian yang dibutuhkan, adalah pertanian yang efektif, efisien dan transparan. Hal itu bisa dilakukan melalui petani milenial yang modern,” tutur Syahrul.

Pernyataan Mentan senada dengan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi. Dirinya menuturkan bahwa pertanian harus didukung kalangan milenial sebagai generasi muda.
“Mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia,” tegasnya. (Arif Pastiyanto)

Petani Milenial PWMP Kementan “NGOPI” Ngobrol Pintar Bareng TaniHub

Kementerian Pertanian berkomitmen serius untuk menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia di tengah pandemi covid-19. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tak hentinya menegaskan pertanian tidak boleh berhenti. Salah satu upaya yang dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan adalah percepatan regenerasi petani. “Dalam masa Covid-19 ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha pertanian milenial khususnya di bidang produksi on-farm,” ujar Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi.

BPPSDMP juga memberikan dukungannya kepada para petani milenial dalam mengembangkan bisnis pertaniannya di masa-masa sulit seperti saat ini. Salah satunya dengan menggelar NGOPI (Ngobrol Pintar) bersama TaniHub secara virtual (7/5). TaniHub adalah Ecommerce Pertanian Indonesia yang bertujuan mengatasi permasalahan rantai pasokan dan distribusi hasil pertanian. Hadir dalam pertemuan tersebut Duta Petani Milenial (DPM), Duta Petani Andalan (DPA), dan para Petani Milenial Peserta Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP). Tampak hadir pula Direktur Politeknik dan Kepala SMK-PP lingkup Pertanian, serta Panitia PWMP.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti mengatakan, diskusi ini sebagai tindak lanjut hasil kerja sama yang telah dilakukan dengan TaniHub sebelumnya. “Kita ingin menindaklanjuti kerja sama kita dengan langkah konkrit” tutur Idha. Ia mengharapkan produk PWMP yang memenuhi kualifikasi dapat terhubung dengan TaniHub. PWMP adalah program terobosan Kementan untuk meningkatkan peran generasi milenial di sektor pertanian. Tujuannya adalah mencetak agropreneur yang mampu menjadi penggerak dan pencipta lapangan kerja di sektor ini. Sejak diluncurkan tahun 2016, saat ini telah terdapat ribuan kelompok PWMP yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Head of Partnership and Social Impact TaniHub Deeng Sanyoto mengungkapkan bahwa TaniHub memiliki target 1juta petani pada 2022, saat ini baru memiliki 1.500 petani. “Ini masih sangat jauh sekali, dan kami cukup senang dengan adanya petani-petani milenial,” ujarnya. Ia pun melanjutkan, ada 2 hal yang bisa dilakukan sebagai langkah konkrit kerja sama ini, yang pertama TaniHub membeli produk yang lolos seleksi dan yang kedua adalah ada potensi untuk funding. Tim TaniHub akan menyeleksi produk PWMP yang didaftarkan melalui link registrasi https://about.tanihub.com/register/farmer. Begitu pula untuk funding, verifikasi data akan dilakukan oleh tim TaniHub.

Yuk Hadiri Diskusi Online: Menyiapkan SDM Pembangunan Pertanian dan Peternakan Unggul

Semangat pagi! Dengan gelora semangat generasi muda,

Yayasan CBC Indonesia (@yayasancbcindonesia) dan Indonesia Livestock Alliance (@indonesialivestock) berkolaborasi dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, dan Partnership Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) mempersembahkan Diskusi Online Zoom #Edisi7 dengan tema berbeda!

Diskusi diadakan pada🔽🔽🔽
🗓: Sabtu, 9 Mei 2020
⏱: 09.00 WIB – 12.00 WIB

Tema: Menyiapkan SDM Pembangunan Pertanian dan Peternakan Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045
Pembicara: Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. (Kepala BPPSDMP) |Dr. Arif Daryanto, M.Ec (Dekan Sekolah Vokasi IPB) | Dr.Idha Widi Arsanti,SP,MP (Kepala Pusat Pendidikan Pertanian) | Sri Hastuti Widowati (Sampoerna Entrepreneur Training Center) | Suaedi Sunanto (Direktur Nutricell Pacific)
Pembahas: Dasril Rangkuti (Wakil Ketua Komtap Pelatihan dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia) | Prof. Ali Agus (Dekan Fakultas Peternakan UGM)

Cara mengikuti acara ini? Registrasi terlebih dahulu melalui link: www.bit.ly/SDM-unggul.
Link akses zoom akan tertera setelah Anda selesai melakukan registrasi.

Mari merintis regenerasi dalam menjamin ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Hidup pertanian! Hidup peternakan! Hidup Rakyat Indonesia!

____
Narahubung: 082115803424 (Aliva)

Instagram: www.instagram.com/yayasancbcindonesia
Linked in: www.linkedin.com/in/indonesialivestock
Facebook: https://web.facebook.com/agropustaka.id/
Youtube: www.youtube.com/livestockreview
Website: www.yci.or.id

BPPSDMP Kementan Gelar FGD Bahas Implementasi Closed Loop

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara virtual pada Rabu (6/5). Diskusi ini membahas implementasi Closed Loop dalam memperbaiki supply chain komoditas pertanian. FGD ini sebagai respon yang dilakukan BPPSDMP terhadap arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang menegaskan pertanian tidak boleh berhenti. Penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia menjadi program utama Kementan terlebih dalam masa pandemi covid-19.

Salah satu upaya yang dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian adalah percepatan regenerasi petani. “Dalam masa Covid-19 ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha pertanian milenial khususnya di bidang produksi on-farm,” ujar Dedi. Ia pun mengingatkan seluruh jajarannya agar di era disrupsi akibat pandemi Covid-19 ini, bersinergi dengan instansi terkait adalah sebuah solusi. FGD dihadiri oleh para Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) Nasional. Tampak hadir pula para Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Direktur Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI), dan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

Kementan mengundang Ketua Kompartemen Hortikultura KADIN Karen Tambayong dan Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Banun Harpini sebagai narasumber dalam FGD tersebut. Selain itu, narasumber juga didatangkan dari pihak swasta antara lain PT. East West Seed, PT. Ranko, PT. Pupuk Kujang, serta Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia. FGD ini dimoderatori langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti.

“Closed loop agribusiness menjadi jembatan untuk petani dan pasar sehingga supply lebih maksimal dan produk/harga menjadi stabil,” ujar Karen. Ada sebuah action model pada closed loop yang bisa direplika dimana saja. Ia mengungkapkan bahwa kuncinya adalah sinergi antara BUMN dengan swasta. Dalam kondisi seperti sekarang, lanjutnya, swasta harus diajak dan turut berperan, selain petani, universitas, dan pasar. Ia pun menegaskan keterlibatan swasta jelas harus ada. “Bagi milenial, lapangan pekerjaan baru terbuka ketika mereplika program closed loop tadi,” jelas Karen.

Pada sesi selanjutnya, Banun Harpini menyampaikan closed loop bisa menjadi alternatif dalam mengatasi berbagai permasalahan sistem agribisnis produk pertanian. Kata beberapa pengamat, lanjutnya, bahwa masa covid-19 ini membawa blessing untuk subsekstor hortikultura. Ia pun menekankan “bagaimana kita memperbanyak champion-champion dari closed loop ini dan para champion ini membutuhkan dukungan.”

Ketika menutup forum ini, Idha menyampaikan “Sinergi sudah dimulai dan akan terus diperkuat”. Secara parsial, lanjutnya, beberapa permasalahan di lapangan sudah tersalurkan. Ia pun menegaskan akan memberikan dukungan dan juga memfasilitasi para petani milenial. “Ke depannya, forum akan lebih difokuskan lagi per komoditas.” tutur Idha.

(Ageng Hasanah)

Imbas Corona, Pemberkasan Calon Mahasiswa Baru Politeknik Milik Kementan Diperpanjang

Kementerian Pertanian memperpanjang batas waktu pemberkasan calon mahasiswa baru Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) tahun akademik 2020/2021 lantaran adanya virus corona jenis baru (covid-19). Dari semula yang ditetapkan 1 Mei 2020 diperpanjang menjadi 14 Mei 2020.

Pandemi covid-19 berimbas pada sejumlah kendala dalam melengkapi dokumen sebagai syarat pendaftaran mahasiswa baru. Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) memberikan kelonggaran dengan memperpanjang waktu pemberkasan. Untuk mempermudah kelengkapan administrasi, calon mahasiswa baru dapat menggunakan surat keterangan lulus apabila ijazah belum dikeluarkan oleh sekolah asal.

Perpanjangan waktu pemberkasan turut berimbas pada mundurnya pengumuman hasil seleksi administrasi jalur umum dan kerja sama. Dari semula yang ditetapkan 14 Mei 2020 diundur menjadi 28 Mei 2020. Hal ini berlaku untuk seluruh politeknik yang meliputi Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan, Gowa, Polbangtan Mnaokwari, dan PEPI di Serpong.

Pada Indonesian Agriculture Forum 2020 yang diselenggarakan secara virtual (30/4), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menekankan empat faktor penentu keberhasilan pendidikan vokasi. Pertama adalah karakter yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Kedua, kompetensi lulusan yang mampu berkerja sama dengan orang lain. Ketiga memiliki sifat kritis, dan keempat, berfikir kreatif untuk berinovasi melalui dunia digital.

Senada dengan SYL, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menambahkan bahwa pendidikan vokasi yang dilakukan Kementan untuk menghasilkan sarjana terapan kualifikasi job seeker dan job creator. “Pengakuan atas kompetensi petani milenial dan penumbuhan kemandirian pengusaha muda pertanian melalui inkubasi bisnis di Polbangtan sebagai pilot project dan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri atau DuDi,” ujar Dedi.

(Ageng Hasanah)