Archive for year: 2020

Wujudkan Lumbung Ternak, Gubernur NTT Siap Dukung Transformasi Polbangnak

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam setiap kesempatan mengatakan bahwa pembangunan pertanian harus selalu ditingkatkan. “Selama lima tahun ke depan fokus utama Kementan adalah pengembangan komoditas strategis melalui peningkatan produksi komoditas utama, salah satunya adalah peternakan, melalui upaya peningkatan ekspor 300%, dan pemanfaatan KUR pertanian Rp. 50 Trilyun per tahun”, papar Syahrul.

Sebagai salah satu komoditas utama, sektor peternakan menjadi fokus utama Kementan. Upaya peningkatan produksi ternak dan modifikasi genetik ternak pun perlu dilakukan guna mencapai swasembada daging. Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu provinsi yang siap mendukung peningkatan produktivitas peternakan. Hal ini telah dibuktikan dengan keberhasilan NTT untuk memenuhi kebutuhan daging nasional.

Sebagai langkah nyata dukungan terhadap peningkatan produksi ternak, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengungkapkan pentingnya dukungan SDM. “Perlu adanya upaya terus menerus menggenjot pembentukan sdm peternakan unggulan, maju, mandiri dan profesional untuk mengelola budidaya ternak dengan baik. Dan yang tak kalah penting adalah mencetak wirausaha ternak berdaya saing melalui lembaga pendidikan”, kata Dedi.

Untuk itu Kementan melalui BPPSDMP melakukan transformasi kelembagaan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Kupang menjadi Politeknik Pembangunan Peternakan (Polbangnak) NTT. “Tranformasi Kelembagaan SMK-PP Negeri Kupang menjadi Politeknik Pembangunan Peternakan NTT merupakan sebuah langkah maju dalam mendukung pengembangan ternak di NTT”, tambah Dedi.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat audiensi terkait transformasi SMKPP Negeri Kupang menjadi Polbangnak NTT bersama Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Idha Widi Arsanti mengingatkan dalam pembentukan Polbangnak harus pastikan output SDM yang lulus dan tamat dari lembaga ini harus mampu mandiri dan mengaplikasikan ilmunya sebagai peternak yang berhasil.

Lebih Lanjut, Viktor mengarahkan supaya tranformasi kelembagaan memperhatikan potensi yang ada di NTT. Desain Program Studi dan output SDM dapat menjawab dan berkorelasi dengan kondisi dan permasalahan di NTT saat ini. “Saya berharap tranformasi SMK-PP menjadi Polbangnak Kupang dengan tampilan yang berbeda dari sisi desain Program Studi dan Output SDM-nya yang bukan sekedar memiliki ilmu tetapi berkarakter kuat dan memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap persoalan yang dihadapi,” tegas Gubernur.

Untuk itu, Gubernur yang lebih sering berada di lapangan ini menginginkan Polbangnak Kupang hadir di NTT harus dengan konsep yang benar. “Saya sering turun ke lapangan, masalah bidang peternakan di NTT bukan saja berkaitan dengan populasi ternak, melainkan pakan ternak. Untuk itu Polbangnak Kupang hadir di NTT mesti dengan konsep yang benar dan sesuai dengan karakteristik NTT.” tegas Viktor.

Selanjutnya, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian mengatakan bahwa tranformasi SMK-PP menjadi Polbangnak Kupang telah siap dari sisi lahan beserta Tenaga Pengajar dan fasilitas infrastruktur pendukungnya. “Kami siap melakukan tranformasi dimaksud, baik dari sisi lahan yang siap seluas 100 ha. Tenaga Pengajar dengan mengoptimalkan tenaga yang ada dan ditambah lagi perekrutan untuk spesifikasi bidang peternakan serta infrastruktur penunjang,” ujar Idha. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Staf Khusus Gubernur Bidang Politik, Imanuel Blegur, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli.

Angkat Tema Smart Urban Agriculture, BPPSDMP Hadirkan Jakpreneur pada Milenial Agriculture Forum

Kementerian Pertanian berkomitmen serius melakukan percepatan regenerasi petani. Seperti yang ditegaskan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) hidupnya pertanian adalah hidupnya bangsa termasuk generasi milenial. Senada dengan Mentan Syahrul, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Dedi Nursyamsi pada Millennial Agriculture Forum (MAF) bertemakan Pengembangan Smart Urban Agriculture dan Manajemen Rantai Pasok dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (7/11), menyampaikan    “Petani milenial itu cerdas, inovatif, cocok sekali mengelola smart urban agriculture.”

Lebih lanjut Dedi menjelaskan bahwa Jakarta memiliki prospektif yang tinggi. Metode urban farming mempunyai potensi yang luar biasa untuk pembangunan pertanian. Populasi Jakarta yang padat berarti permintaan tinggi terhadap pangan. “Kalau teknologi dan pengelolaannya tepat pasti menguntungkan,” yakin Dedi.

Dedi menyambut baik kegiatan MAF yang menghadirkan narasumber dari akademisi, pemerintah, dan petani milenial di Jakarta yang tergabung dalam Jakpreneur. Narasumber tersebut adalah Guru Besar FEM Institut Pertanian Bogor Prof. Muhammad Firdaus, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti, Ketua Kelompok Usaha Tani New Garden Hydro Tebet La Ode Hardian, dan Ketua Kelompok Tani Kemang 02 Edy Purwanto.

Prof. Firdaus dalam paparannya menyampaikan prospek bisnis sayuran dan smart urban farming. “Pada saat dan pasca covid, hortikultura sangat prospektif, karena sebagai boost immunity, feel at home (menjadi hobi), pengembalian ekonomi yang tinggi, dan menyerap banyak tenaga kerja,” jelasnya. Ia menyampaikan ada dua hal sasaran perbaikan rantai pasok dalam urban farming, yaitu menurunkan kesenjangan harga di produsen dan mengurangi food losses di sepanjang rantai nilai.

Dari sisi pemerintahan, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti menyampaikan materi optimalisasi peran Jakpreneur melalui smart urban agriculture. Idha menegaskan bahwa Kementen serius melakukan percepatan regenerasi petani.  “Bonus demografi 65 juta tenaga kerja produktif pada tahun 2028-2035, tentunya kita berharap bisa mengarahkan tenaga kerja produktif ini bekerja di sektor pertanian,” paparnya. Ia juga menjelaskan tentang mengubah mindset dengan pemanfaatan teknologi.

 

Petani milenial dari Jakarta, yaitu La Ode Hardian dan Edy Purwanto berbagi kisah sebagai Jakpreneur di bidang pertanian. Ketua Kelompok Usaha Tani New Garden Hydro yang berlokasi di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan menyampaikan bahwa mereka mempunyai misi sosial yaitu pemberdayaan masyarakat khususnya anak-anak muda yang ada di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. “Kami konsisten mengubah perilaku anak-anak muda agar memiliki kegiatan yang produktif dan kreatif. Berkat program yang dinisiai Pemprov DKI Jakarta, dimulai dengan pengadaan 1 rak hidroponik. Alhamdulillah, saat ini kami memiliki 5000-an lubang tanam,” ungkap La Ode.

Jakpreneur lainnya, Ketua Kelompok Tani Kemang 02 Edy Purwanto mengatakan saat ini pihaknya mengelola hidroponik  200m² di Kawasan Kemang Jakarta Selatan, hidroponik dan budidaya ikan seluas 5.400m² di Sawangan Depok, dan pertanian konvensional seluas 10 hektar di Mega Mendung, Bogor. Ia bekerja sama dengan berbagai restoran dan swalayan di Jakarta untuk memasarkan produk. Edy membuktikan, tanpa latar belakang pendidikan pertanian pun tetap bisa menjadi agropreneur.  “Bertani adalah pilihan, maka menjadi petani yang sukses harus penuh perjuangan.” tutup Edy pada paparannya. (AHS)

 

Pusdiktan dan PSP Pantau Pembangunan Smart Screen House Polbangtan Bogor

Kementerian Pertanian berkomitmen tinggi dalam mencetak job seeker maupun job creator di bidang pertanian yang mandiri, modern, dan profesional, serta dapat bersaing di era industri 4.0. Salah upaya yang dilakukan adalah mengembangkan Teaching Factory (TEFA) Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) dengan smart screen house.  Sebagai sistem pertanian modern, smart screen house memanfaatkan teknologi yang dapat mengatur dan memantau kelembaban tanah dan suhu udara pada greenhouse, serta dapat dimonitor melalui smartphone. Smart screen house sendiri merupakan sinergi antara Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), dalam hal ini Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan).

Untuk melihat progress pembangunan Smart Screen House Polbangtan Bogor, Staff Ahli Menteri Bidang Investasi Sumarjo Gatot Irianto melakukan kunjungan ke Polbangtan Bogor didampingi oleh Sekretaris Ditjen PSP dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian pada Sabtu, (10/10).  “Polbangtan Bogor tidak boleh hanya memiliki smart screen house ini, tetapi juga harus bisa mengelola dan mengembangkan agar bisa dijadikan sarana improve kemampuan mahasiswa maupun dosen dalam pengelolaan pertanian modern,” pesan Gatot. Sekretaris Ditjen PSP Gunawan menambahkan, “Saat ini banyak masyarakat kita haus akan tempat rekreasi. Selain sebagai sarana pembelajaran mahasiswa dan dosen, smart screen house ini diharapkan juga bisa mewadahi itu.”

Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti turut menjelaskan, “Kita punya BPP model pembelajaran, sawah, tambak, dan sekarang smart screen house. Kita akan mengintegrasikan semua itu sehingga Polbangtan Bogor ke depannya akan menjadi kawasan agroeduekowisata. Adapun pembangunan smart screen house diperkirakan selesai pada akhir Oktober 2020.”  Idha melanjutkan, “Sementara ini kita membangun smart screen house seluas 2.400 m2 di atas lahan bekas kebun rambutan yang sudah tidak produktif dengan luas lahan 1 ha. Tidak menutup kemungkinan, smart screen house ini akan kita kembangkan lagi di lahan-lahan yang tidak produktif. Dan tahun depan kita sudah komunikasi dengan PSP untuk membangun smart screen house di Polbangtan Yogyakarta – Magelang.”

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam setiap kesempatan mengungkapkan, perlu adanya Lembaga Pendidik Pertanian yang berfungsi sebagai wadah untuk mencetak tenaga SDM Pertanian yang andal, profesional, maju, mandiri, dan modern karena pengelolaan pertanian saat ini harus dilakukan dengan melibatkan teknologi. SYL menegaskan, pertanian harus bergerak secara maju, mandiri, dan modern. Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Mengamini pernyataan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa lembaga pendidikan merupakan mesin cetak SDM unggulan yang berperan penting membentuk generasi muda milenial sebagai pelaku pertanian yang maju, mandiri, dan modern. “SDM pertanian unggul dapat tercetak dan link and match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) apabila didukung oleh sarana dan prasarana dalam hal ini TEFA yang memadai agar mahasiswa Polbangtan dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan dalam melakukan praktik produksi pertanian di lokasi Smart Screen House.” (VRS/AHS)

Mentan SYL Sampaikan Kunci Sukses Kepada 1.258 Mahasiswa Politeknik Kementan

Jakarta – “Indonesia adalah negara agraris dengan sumber daya alam melimpah mulai dari pantai, dataran rendah maupun dataran tinggi yang bisa menjadi resource dan dimanfaatkan anak bangsa khususnya generasi milenial yang memiliki pengetahuan serta kemampuan untuk mengolah sumberdaya alam tersebut”, ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo pada penutupan masa orientasi mahasiswa baru (Mabidama) pendidikan vokasi lingkup Kementerian Pertanian (Kementan), Jumat (09/10).
Meningkatkan kualitas dan kuantias sumberdaya manusia (SDM) di sektor pertanian, Kementan terus berupaya melalui beragam cara, salah satunya adalah membuka kesempatan bagi lulusan SMU dan sekitarnya untuk melanjutkan pendidikannya di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI). Di tahun 2020 pendidikan vokasi Kementan menerima 1.258 mahasiswa/i baru yang terdiri dari 155 mahasiswa/i Polbangtan Medan, 224 mahasiswa/i Polbangtan Bogor, 245 mahasiswa/i Polbangtan Yogyakarta Magelang, 196 Mahasiwa/i Polbangtan Malang, 261 mahasiswa/i Polbangtan Gowa, 105 mahasiswa/i Polbangtan Manokwari dan 72 orang mahasiswa/i PEPI.
“Selamat datang, selamat bergabung dengan keluarga besar Kementan. Selamat belajar, selamat menempuh pendidikan di Polbangtan dan PEPI. Kalian adalah orang-orang pilihan Tuhan yang berada di jalur yang tepat, dimana pertanian merupakan sektor yang dibutuhkan oleh semua pihak dan sektor pertanian sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan sebuah negara. Manfaatkan kesempatan ini jangan kamu sia-siakan. Jangan kamu permalukan orang tuamu, jangan permalukan bangsamu. Banyak orang yang menginginkan masuk di sini dan kamu yang terpilih,” ungkap Mentan SYL lagi.
Mentan SYL juga memberikan kunci keberhasilan yang bisa diikuti oleh para Mahasiswa, “Ada 5 kunci keberhasilan yang bisa kalian ikuti. 1. Fokus belajar yang baik di Polbangtan agar terampil dan menjadi petani milenial dan wirausaha handal dibidang pertanian. Belajar dari teori dan konsep serta jangan malu untuk belajar dari pengalaman dan kesuksesan orang lain, 2. Miliki cita-cita, impian, harapan, dan visi untuk mencapainya, 3. Jujur, jangan suka berbohong dalam segala hal, 4. Tingkatan kepedulian terhadap sesama serta berlaku sesuai dengan budaya dan etika yang berlaku, 5. Disiplin, jangan sia-siakan kesempatan ini.”
Di kesempatan ini Mentan SYL pun menyempatkan diri untuk menyapa dan berdialog secara virtual dengan beberapa mahasiswa dari Polbangtan Bogor, Polbangtan Manokwari, Polbangtan YoMa dan Polbangtan Medan.
“Mari kita jadikan Polbangtan dan PEPI sebagai pendidikan vokasi berkelas nasional hingga internasional. Aku tunggu kalian menjadi pemuda-pemuda yang memiliki frame akademik intelektual yang baik, memiliki agenda-agenda manajemen pertanian yang kuat, sekaligus orang yang berkarakter nasionalis, orang yang menjunjung tinggi bangsanya dan bangga dengan Pancasila, orang-orang yang pandai bersyukur dan tak lupa akan jasa orang tua,” pesan Mentan SYL.
Saphira mahasiswa baru Polbangtan Medan mengungkapkan rasa bahagia dan harunya dapat berbicara langsung dengan Mentan walau secara virtual “Saya ingin menjadi orang berhasil yang bisa membanggakan orang tua dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar dengan dedikasi saya di sektor pertanian”, ungkap Saphira. Senada dengan Saphira, Selfi mahasiswa baru dari Polbangtan YoMa pun mengungkapkan kebahagiaannya dapat terpilih menjadi salah satu bagian dari pendidikan vokasi Kementan. “Motivasi saya masuk di Polbangtan, saya ingin menjadi wirausaha sukses dibidang pertanian dan ingin membantu ekonomi keluarga untuk membiayai ibu dan adik-adik”, ujarnya penuh haru.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menyatakan ada yang berbeda pada mabidama tahun ini, semua dilakukan secara online dan virtual dikarenakan pandemi. “Namun hal ini tidak akan mengurangi semangat kami untuk tetap berkomitmen menyiapkan mahasiswa untuk menjadi wirausahawan muda pertanian (Job Creator) dan tenaga siap kerja di bidang pertanian (Job Seeker ),” jelas Dedi.
Lebih lanjut Dedi menjelaskan selama pelaksanaan mabidama mahasiswa/i dikenalkan dengan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan vokasi, program-program strategis Kementan serta pembinaan karakter melalui kedisiplinan dan rasa cinta pada tanah air. “Saat ini kami juga sedang melakukan proses transformasi 2 Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP) menjadi Polbangtan. Semoga di tahun depan kita akan memiliki 9 Politeknik yakni Polbangtan Medan, Bogor, Gowa, YoMa, Malang, Manokwari, PEPI serta Banjarbaru dan Sembawa”, papar Dedi. (NL)

BPPSDMP Dukung Food Estate di Sumut

Kementerian Pertanian saat ini sedang menggencarkan salah satu program prioritas untuk ketahanan pangan yaitu Program Food Estate yang dilaksanakan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Provinsi Sumatera Utara serta di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau di Provinsi Kalimantan Tengah.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL), Food Estate merupakan program pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan. “Food Estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi, mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan. Tujuannya untuk menjaga ketahanan pangan nasional.”

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) sebagai pihak yang membidangi pengembangan SDM pertanian mendukung kegiatan tersebut melalui kegiatan pembinaan oleh penyuluh, pelatihan serta pendampingan petani oleh mahasiswa dan petani milenial (alumni pendidikan tinggi pertanian). Dalam arahannya, Kepala Badan PPSDMP Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa Badan PPSDM harus total mendukung Food Estate, kegiatan ini harus sukses, karena tujuannya untuk menjaga ketersediaan pangan nasional.

“Kami akan memastikan pendampingan yang dilakukan terhadap petani di lokasi Food Estate bisa berjalan maksimal. Oleh karena itu kami akan maksimalkan kinerja pusat-pusat di BPPSDMP termasuk juga Sekretariat Badan sebagai penyedia logistik untuk memastikan petani di Food Estate mendapatkan pendampingan yang maksimal, khususnya dalam hal korporasi,” terang Dedi.

Idha Widi Arsanti selaku Kepala Pusat Pendidikan Pertanian hadir di Humbahas beserta tim SDM untuk melaksanakan survey dan identifikasi lapang untuk kebutuhan pengembangan SDM pada Kamis, (03/09). Kegiatan Food Estate di Humbahas difokuskan pada komoditas bawang merah, bawang putih dan kentang dalam skala luasan 1000 Ha yang dilaksanakan pada tahun 2020.

Dukungan BPPSDMP pada Food Estate di Kabupaten Humbahas yang dikoordinasi oleh Direktorat Jenderal Hortikultura tersebut adalah pendampingan penyuluhan di bidang on farm dan off farm dengan target terbentuknya korporasi petani. Di bidang pelatihan akan melaksanakan pelatihan peserta program terhadap komoditas mulai hulu sampai hilir, sedangkan di bidang pendidikan akan menghadirkan mahasiswa pertanian (Polbangtan, Universitas Tapanuli, dan Universitas Sumatera Utara) serta petani milenial untuk mendampingi petani dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari selama tiga bulan ke depan. Diharapkan melalui kegiatan ini, peningkatan produksi pangan melalui Food Estate dapat tercapai. (Setya Budhi Udrayana)

 

Cetak Wirausawahan Muda Pertanian, Program YESS-Kementan Susun Rencana Kerja Tahunan

Dalam rangka koordinasi pelaksanaan program Youth Entrepreneurship and Employment Support (YESS) tahun 2020, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Peratanian (BPPSDMP) melakukan penyusunan Annual Work Plan and Budget (AWPB) Program YESS Tahun 2021. AWPB adalah rencana kerja yang disusun setiap tahun oleh pelaksana program.

Bertempat di Bogor, pertemuan yang diselenggarakan secara tatap muka dan juga virtual ini dihadiri oleh pelaksana program YESS, baik di tingkat National Programme Management Unit (NPMU) maupun Provincial Project Implementation Unit (PPIU). Hadir dalam pertemuan ini PPIU Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan yang menjadi lokasi pilot project program YESS.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti dalam arahannya mengatakan ada empat komponen Program YESS, antara lain transisi pemuda perdesaan ke pekerjaan, kewirausahaan muda perdesaan, permodalan bagi pemuda perdesaan, dan dukungan kebijakan bagi pemuda perdesaan. “Keempat komponen ini saling berkaitan,” ujar Idha melalui zoom meeting pada Selasa (25/8). Dalam arahannya, Idha berpesan agar pelaksanaan YESS dapat terkoordinasi dengan mempertimbangkan keterkaitan kegiatan di tahun sebelumnya (tahun 2020) dan kegiatan lanjutannya.

Project Manager Program YESS Inneke Kusumawaty menjelaskan lebih lanjut bahwa Duta Petani Milenial dapat dijadikan mentor bagi para peserta program YESS karena sudah memiliki pasar dan jejaring yang luas. “Mentor adalah praktisi, tidak harus perusahaan besar, tetapi bisa anak muda yang memiliki bisnis dengan jejaring pasar dan mitra usaha yang luas,” kata Inneke.

Program YESS dilaksanakan sebagai proyek percontohan pengembangan generasi muda dan regenerasi petani di perdesaan melalui fasilitasi dan bimbingan kepada generasi muda. Proyek yang didanai oleh International Fund For Agricultural Development (IFAD) ini bertujuan untuk menghasilkan wirausahawan atau tenaga kerja yang profesional di sektor pertanian.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi dalam beberapa kesempatan mengatakan, berdasarkan data BPS, tiap tahun jumlah petani muda yang berumur 19-39 tahun terus menurun. Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi oleh Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini tongkat estafet pembangunan pertanian ada pada pundak generasi muda. Generasi milenial adalah penentu kemajuan pembangunan pertanian di masa depan. (Ageng Hasanah)

P4S Cilangkap Sukabumi Siap Bermitra dengan YESS

Kementerian Pertanian melakukan sejumlah langkah dalam upaya percepatan regenerasi petani. Salah satunya dengan terus mengajak generasi milenial ikut terjun di sektor pertanian. Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) adalah salah satu program yang sedang digencarkan. Bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), Program YESS bertujuan menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas di sektor pertanian.

Untuk melatih generasi milenial agar memiliki kemampuan sehingga akan menghasilkan pendapatan yang sangat menguntungkan bagi dirinya maupun lingkungannya, YESS pun bersinergi dengan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya). Project Manager YESS Inneke Kusumawaty beserta tim pun menyambangi P4S Cilangkap Sub-1 Cikembar Sukabumi pada Rabu (19/8). Inneke menyampaikan bahwa  program YESS ini sangat membantu untuk memberdayakan generasi muda atau pemuda tani  untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian atau peternakan di pedesaan secara optimal dan menguntungkan.

P4S Cilangkap Sub-1 Cikembar Sukabumi adalah salah satu P4S yang siap bermitra dengan YESS. Kabupaten Sukabumi memang menjadi salah satu lokasi pilot project Program YESS.  P4S Cilangkap banyak melatih kelompok tani dan generasi muda milenial yang ingin mengetahui lebih banyak tentang manfaat dan hasil burung puyuh. Ketua P4S Cilangkap Sub-1 Cikembar Sukabumi Slamet Wuryadi mengatakan, visi dari P4S Cilangkap Sub-1  adalah menjadi pemain utama dalam wirausaha agribisnis peternakan puyuh di Indonesia dan sejalan dengan usaha peningkatan pendapatan dan kesejahteraan hidup masyarakat.

Tidak hanya memasarkan telur puyuh yang kaya akan protein, Slamet juga mengolah daging puyuh menjadi makanan enak siap saji. Produk-produk tersebut tidak hanya menjangkau pasar di wilayah Sukabumi, tetapi juga Jakarta dan berbagai wilayah lain di Indonesia.  Bahkan telur puyuh yang masuk dalam kemasan mie instan sudah ada yang di ekspor ke luar negeri.

Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengapresiasi Program YESS sebagi upaya untuk menghasilkan wirausahawan milenial yang berkualitas di sektor pertanian. Apalagi negara-negara yang berhasil membangun pertanian, ternyata sangat banyak pengusaha agrobisnisnya. “Karena dengan adanya mereka, ekonomi di sektor pertanian bisa bergerak dan menggeliat,” ujarnya.

Melalui program YESS, Dedi berharap akan terwujud regenerasi pertanian, meningkatnya kompetensi sumberdaya manusia dari perdesaan, meningkatnya jumlah wirausaha muda di bidang pertanian.  Sehingga pertanian akan menjadi lapangan kerja menarik, prospektif dan menguntungkan, dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi. (Dahlia M/Ageng H)

Kementan Sambangi BPP Nagrak Sukabumi Sosialisasikan Program YESS

Kementerian Pertanian melakukan sosialisasi Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.  Sukabumi menjadi salah satu lokasi pilot project kegiatan YESS di provinsi Jawa Barat. Selain Sukabumi, lokasi lainnya di Jawa Barat adalah di Cianjur, Tasikmalaya dan Subang.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti memperkenalkan program YESS kepada peserta pertemuan yang terdiri dari Perangkat Desa, Babinsa, Kelompok Tani, Penyuluh yang berasal dari Desa Paweunang, Nagrak Utara dan Nagrak Selatan. “Perkembangan pertanian khususnya di masa Pandemi Covid-19 menunjukkan tren yang sangat baik, ditunjukkan dengan usaha yang tetap beroperasi dan memiliki omset serta asset yang baik,” kata Idha, Jumat (14/8).

 

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Quail Farm Slamet Wuryadi. Ia menyampaikan budidaya burung puyuh yang dirintis telah menjalin kerjasama dengan supplier mitra dan pemasar. Dengan cakupan produksi yang luas, Slamet mengakui omzet yang diraup setiap bulannya mencapai 3 Milyar.

Sebagai informasi, Program YESS adalah salah satu terobosan yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama IFAD untuk percepatan regenerasi petani. Program ini dijalankan untuk menghasilkan wirausahawan muda perdesaan di bidang pertanian dan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten di bidang pertanian.

BPP Nagrak yang berada di wilayah lokasi sasaran YESS diharapkan mampu berperan aktif sebagai pusat pembelajaran pengembangan pertanian dan pelayanan masyarakat di wilayah kecamatan. Hal ini sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh Kementerian Pertanian dalam lima tahun mendatang yakni memiliki petani milenial sebanyak 2,5 juta orang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini generasi milenial yang terjun di sektor pertanian berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Sejalan dengan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa untuk mencapai target dan kondisi ideal bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional, maka dituntut tersedianya SDM pertanian yang professional, mandiri, berdaya saing, dan jiwa wirausahawan. (Lesti Nadia/Ageng Hasanah)

Kepala BPPSDMP Kementan Ajak Petani Milenial Manfaatkan Marketplace

Kementerian Pertanian secara rutin menggelar forum diskusi bagi para petani milenial secara online. Rutin diselenggarakan setiap pekan, Millenial Agriculture Forum (MAF) telah berjalan hingga forum ke-7. MAF VII mengangkat tema mengenai pemanfaatan marketplace untuk agribisnis, pada Jumat (7/8).

Dalam arahannya, Dedi Nursyamsi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 mengalami minus. Tetapi kemerosotan ini tidak terjadi di semua sektor, justru pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian memberikan kontribusi positif. “Itu artinya sektor pertanian adalah sektor yang menggiurkan di pandemi covid ini, karena hanya sektor pertanian yang mampu memberikan pangan bagi masyarakat Indonesia,” jelas Dedi.
Ia pun mengajak para petani milenial untuk memanfaatkan marketplace. “Saat ini inovasi teknologi utamanya 4.0 sangat menguntungkan untuk kita semua,” kata Dedi. Ia menyambut baik petani milenial untuk belajar marketplace. Saya melihat para petani milenial semua bangkit dan bahu membahu mendustribusikan pangan ke seluruh lapisan masyarakat melalui online, jelasnya.

Dedi menekankan agar protokol covid tetap diperhatikan salah satunya dengan menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Karena itu, kata Dedi, online system sangat menggiurkan di masa pandemi ini, terutama bagi sektor pertanian yang ada di hilir agar menjual produk secara online. “Pemasaran online selain cocok di masa pandemi, juga lebih cepat, bisa order kapan saja,” ujar Dedi. Pada akhir paparannya, ia menyampaikan harapannya agar webinar ini bisa mendorong dan memberi semangat untuk support pembangunan pertanian.

Sejalan dengan arahan Kepala BPPSDMP, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti juga mengimbau para petani milenial agar dapat mengajak petani-petani di sekitarnya untuk memanfaatkan marketplace. “Petani milenial ini dekat dengan teknologi, karena itu rekan-rekan milenial ini bisa sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk mengatasi berbagai permasalahan,” kata Idha. Ia juga menjelaskan platform website e-commerce pertanian yang diinisiasi Kementerian Pertanian yaitu www.agrindotrade.com dimana pengelolaannya dilakukan oleh para petani milenial. “Harapannya petani milenial ini tumbuh lebih banyak lagi dan mengembangkan pertanian di Indonesia,” tutup Idha mengakhiri paparannya. (Ageng Hasanah)

Ditunjuk Sebagai Model BPP Kostratani, BPP Mandalawangi Pandeglang Akan Difungsikan Sebagai Rumah Pintar Petani

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus menggalakan program Komando Strategis Pertanian (Kostratani) untuk mengoptimalkan tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dalam menggerakkan pembangunan pertanian di tingkat kecamatan.

“Kementan akan terus memperkuat peran Kostratani. Sebab, Kostratani mengimplementasikan program-program Kementerian Pertanian. Kegiatannya langsung bersinggungan dengan petani di lapangan. Di Kostratani ini juga petani bisa mendapatkan informasi atau mendapatkan penyuluhan agar hasil pertaniannya lebih maksimal,” jelas SYL, Rabu (5/8).

Menanggapi Mentan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan, “Kostratani akan menjadikan BPP sebagai pusat pembangunan pertanian yang melibatkan seluruh pelaku pertanian yang ada di Kecamatan. Kostratani berbasis teknologi dengan dukungan big data memiliki skala besar. Mengingat data pertanian nasional begitu besar dan kompleks. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan tugas, fungsi dan peran Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan, BPPSDMP akan mentransformasi BPP untuk menjadi Model BPP Kostratani, salah satunya di BPP Mandalawangi, Pandeglang, Banten.”

Untuk mengawal proses transformasi BPP Mandalawangi menjadi Model BPP Kostratani dan memberikan motivasi bagi penyuluh pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) didampingi oleh Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi serta Kepala Pusat Pendidikan Pertanian melakukan kunjungan ke BPP Mandalawangi pada Rabu, (05/08). Kunjungan BPPSDMP tersebut disambut baik oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Penyuluh Pandeglang, dan Dinas Pertanian Provinsi Banten.

“Kita terus mengawal proses transformasi BPP Mandalawangi menjadi Model BPP Kostratani sebagai benchmark bagi BPP lain yang akan bertransformasi menjadi BPP Kostratani. BPP sebagai center of knowledge diharapkan dapat menjadi sarana transfer ilmu dari penyuluh pertanian kepada petani di wilayah kerjanya,” ujar Dedi.

Dedi menyampaikan bahwa “Di era orde baru, penyuluh dan BPP sangat diperhatikan sehingga kegiatan optimalisasi produksi dapat berjalan dengan baik. Itu sebabnya kita bisa swasembada pangan bahkan ekspor beras.”

“Saat ini di BPP Mandalawangi ada enam penyuluh dan akan menjadi pilot project sebagai BPP Kostratani. BPP Mandalawangi sebagai Kostratani juga akan difungsikan sebagai rumah pintar petani yang mendorong para petani untuk tidak hanya melakukan produksi, namun juga kegiatan pasca panen dan pemasaran,” pungkasnya. (Vanelly Rahutami S)