Archive for month: Desember, 2019

Pusdiktan-PPKMP Gelar Capacity Building

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menggelar pelatihan capacity building (CB) bagi seluruh pegawai di penghujung 2019 ini. Tim fasilitator Pusat Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi dipercaya untuk memfasilitasi kegiatan ini di Komplek Bumi PPMKP Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Secara formal simbolis prosesi pelatihan dibuka Kepala Bidang Program dan Kerja Sama Pusdiktan Setya Budhi Udrayana dengan menyerahkan seluruh pegawai Pusdiktan kepada Tim Fasilitator PPMKP Ciawi, Kamis (26/12).

Kegiatan CB ini dihadiri seluruh pegawai Pusdiktan. Mulai dari kepala pusat, kepala bidang, kepala sub-bidang, hingga staf yang kompak berkaos putih dan celana jins itu tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Pelatihan capacity building ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalime seluruh pegawai Pusdiktan.

Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa kegiatan CB amat bermanfaat membangkitkan kembali energi para peserta. Khususnya, usai melaksanakan beragam kegiatan Pusdiktan yang amat padat sejak awal 2019. Arsanti berharap, seluruh pegawai akan bersiap kembali bekerja menyambut berbagai agenda kegiatan di tahun mendatang.(Ageng Hasanah Sulaiman/EPN)

Pusdiktan Pantau Peserta Tugas Belajar di Undip

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian berkunjung ke Universitas Diponegoro (Undip) dalam rangka membina dan mengawal peserta tugas belajar. Wakil Dekan I Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Limbang Kustiawan Nuswatara dan perwakilan dari Program Studi Magister Ilmu Ternak, wakil dari Program Studi Magister Agribisnis, dan mahasiswa peserta tugas belajar menyambut kehadiran Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti yang didampingi Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Tugas Belajar Pusdiktan Abdul Roni Angkat di Ruang Rapat Pascasarjana Fakultas Peternakan dan Pertanian, Kampus Undip, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/12).

Kepala Pusdiktan mengapresiasi dukungan dan upaya yang dilakukan lembaga Pascasarjana Undip yang turut mendorong peserta tugas belajar untuk menyelesaikan studi. Santi, begitu dia biasa disapa, meminta agar peserta tugas belajar lebih fokus lagi pada penelitian dan termotivasi untuk segera menyelesaikan studi tepat waktu. Pada kesempatan ini, para peserta tugas belajar S2 dan S3 pun menyampaikan tantangan dan kendala yang dihadapi dalam proses penyelesaian studi.

Limbang mengamini harapan Santi. Dia menyumbang saran, sebaiknya persiapan publikasi jurnal justru sudah dilakukan sejak semester 1. Alasannya jelas, supaya tidak mengganggu proses penyelesaian studi dan mengurangi permasalahan yang mungkin timbul dalam publikasi jurnal terindeks scopus, yang dapat meningkatkan reputasi di kancah komunikasi ilmiah secara internasional.

Santi juga menengarai bahwa sebenarnya hasil penelitian peserta tugas belajar dapat menjadi bahan masukan bagi kebijakan program di Kementerian Pertanian. Namun dengan catatan, tetap berkomunikasi dengan instansi asal untuk menindaklanjuti hasil penelitian.
Sedianya, akan dirancang bantuan penelitian sesuai dengan pengajuan proposal penelitian peserta tugas belajar di masa mendatang. Lulusan S2 dengan predikat cum laude berpeluang mengikuti program lanjutan S3 jika mendapat rekomendasi dari perguruan tinggi negeri dan izin instansi asal.(Ristiani/AHS)

Program Kostratani Maksimalkan Penggunaan Drone

Pelaksanaan program Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas, komoditas, kualitas, dan kuantitas produk pertanian telah merambah ke berbagai penjuru Tanah Air. Khususnya menyoal ketersediaan data bidang pertanian yang meliputi luas lahan, kondisi dan tekstur lahan, jenis tanah pertanian, dan lainnya. Konsolidasi persepsi kebijakan Kostratani tersebut di antaranya seperti yang berlangsung di Provinsi Sulawesi Tengah, pertengahan Desember 2019 silam di Aula Pertemuan Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Sulteng.

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan menjadi penyelenggara acara sosialisasi program Kostratani, sekaligus menyediakan dan memberi pelatihan pengoperasian pesawat tanpa awak dengan kendali jarak jauh (drone) untuk balai penyuluhan pertanian (BPP) dalam meningkatkan kualitas data pertanian. Pertemuan ini dihadiri perwakilan Pusdiktan BPPSDMP, wakil BPTP Sulteng, perwakilan dari Badan Karantina Sulteng, wakil Dinas Pertanian Provinsi Sulteng, serta sedikitnya 50 kepala balai penyuluhan pertanian (BPP), serta operator wilayah.

Peserta workshop perwakilan BPP penerima bantuan paket drone antusias dan penuh semangat mengikuti setiap alur kegiatan. Satu di antaranya saat teleconference menggunakan aplikasi di Android untuk melaporkan kondisi nyata perkembangan pertanian di kawasan masing-masing. Di ruang lainnya peserta workshop diajarkan pengenalan drone, cara pengoperasian drone, serta teknik mengaktifkan aplikasi, dan teknik perawatan drone. Para peserta tampak termotivasi untuk segera mengoperasikan alat bantu baru ini di wilayahnya.

Pusdiktan BPPSDMP optimistis melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan seperti ini dapat mendukung program dan kebijakan pemerintah untuk mendapatkan data akurat dalam mengidentifikasi berbagai macam potensi pertanian di Tanah Air. Harapannya jelas, demi mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan pada 2045.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)

Tim AWR Kementan Patok Target Kostratani

Kegiatan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kementerian Pertanian mulai gencar dilaksanakan. Satu di antaranya seperti yang dilaksanakan Tim Substansi Agriculture War Room (AWR) Kementan melalui rapat pengembangan di Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Jawa Barat, Senin (16/12). Rapat tersebut membahas target Kostratani hingga Maret 2020, terkait konsep, data, dan pengguna (user) khususnya dalam AWR Kementan. Rapat yang dihadiri Kepala Pusat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Leli Nuryati dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) BPPSDMP Idha Widi Arsanti ini juga diikuti Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Banun Harpini.

Rapat Tim AWR Kementan membahas kesepakatan soal data yang akan dibangun dari user di tingkat kecamatan. Data tersebut meliputi potensi lahan, luas tanam, luas panen, produktivitas, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), hingga alat mesin pertanian (alsintan). Data lainnya juga meliputi populasi ternak, harga produksi di level petani, informasi pasar, serta benih dan pupuk berikut harganya. Sementara untuk user level pimpinan, memerlukan ketersediaan data produksi, kredit usaha rakyat (KUR), investasi, jumlah dan nilai ekspor, jumlah kostratani, komoditas unggulan, hingga tenaga kerja.

Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti menengarai bahwa sebenarnya pengembangan AWR tidak harus dimulai dari nol. Sebab, Kementan dapat menyelenggarakan kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi yang sudah meluncurkan sistem berbasis Informasi Teknologi (IT) dalam bentuk aplikasi (start up). “Seperti Desa [Digital Extension Society for Agriculture] Apps dari UGM [Universitas Gadjah Mada], SPARS [Smart and Precision Agriculture Research Station] dari IPB (Institut Pertanian Bogor), sehingga dapat saling mendukung dan melengkapi,” kata Idha optimistis.

Sementara Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Retno Sri Hartati menekankan bahwa sesungguhnya konteks pemberdayaan masyarakat tak hanya di Kostratani, tetapi juga harus dibuka melalui peluang-peluang lainnya. Seperti di antaranya melalui koperasi atau sekolah menengah kejuruan pertanian, dengan memberdayakan unggulan lokal, atau penyuluh swadaya, dan lainnya.

Pusdiktan Dalami SPI demi Good Governance

Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (good government) adalah kalimat kunci yang tak bisa ditawar lagi. Pun demikian halnya yang diberlakukan di lingkup Kementerian Pertanian secara umum, dan khususnya Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP). Strategi pendalaman konsep itulah yang menjadi pembahasan penting dalam acara Sinkronisasi dan Implementasi Sistem Pengendalian Internal (SPI) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Pertanian yang dilaksanakan Pusdiktan di Bogor, Jawa Barat, pertengahan Desember silam.

Menurut Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti, SPI adalah proses pengawasan integral yang dilakukan secara terus menerus oleh pemimpin dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi. Di antaranya, melalui berbagai kegiatan yang efektif dan efisien, pengamanan aset negara, keandalan pelaporan keuangan, hingga ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. “Bila seluruh kegiatan di pemerintahan berjalan bersih dan transparan, tentunya akan membawa dampak positif bagi masyarakat luas pada umumnya dan pelaku dunia pertanian khususnya, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Idha. Penerapan SPI ini pun sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang selanjutnya dijabarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian No.23/Permentan/OT.140/5/2009 tentang Pedoman Umum SPI di Lingkungan Kementerian Pertanian.

Wujud nyata komitmen pelaksanaan SPI adalah melalui pembinaan peningkatan kinerja, akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, dan transparansi, yang mampu menumbuhkan tekad antikorupsi di lingkungan Kementan. Dukungan seluruh unsur di UPT Pendidikan—mulai dari pimpinan, pejabat struktural, pejabat fungsional, dan staf—sangat diperlukan. “Saya harap semua pihak bersinergi membangun sistem pengendalian intern agar menjamin semua kegiatan berjalan baik dan tercapai sesuai tujuan, serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme,” kata Idha tegas.

Kegiatan pendalaman SPI yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri peserta dari unit di bawah Pusdiktan. Yakni politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) seluruh Indonesia, Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI), Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Kupang, SMK-PP Sembawa, dan SMK-PP Banjarbaru. Wakil dari Pusdiktan dan Inspektorat Jenderal Pertanian menjadi narasumber pertemuan tersebut.

PWMP SMK-PP Negeri Kupang Unjuk Penerapan Ilmu

Tulisan “Jual Ayam Potong” boleh jadi menyita perhatian siapa pun yang berlalu-lalang di depan pagar Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Negeri Kupang di Jalan Timor Raya Kilometer 39. Kalimat pendek dan tegas itu pun hanya dibuat secara sederhana pada sebuah papan kayu berwarna merah dan hijau. Beberapa menduga, ada yang iseng menempel iklan berjualan. Maklum, tentu tak sembarang informasi bisa bebas terpampang di areal sekolahan. Dan memang, jarang pula ada lembaga pendidikan yang mengizinkan siswa buat menerapkan ilmu yang didapat, langsung di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan vokasional sektor pertanian yang satu ini sepertinya mau menegaskan, bahwa teori dan praktik bakal efektif bila dijalankan berbarengan. Dan itu terbukti, di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para pencetus aksi pemelihara ayam broiler tersebut adalah tiga anggota kelompok Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) asal SMK-PP Negeri Kupang Tahun Angkatan 2018. Jino, Riki, dan Haji–begitu mereka biasa disapa–memang aktif serius berkutat dengan urusan ayam. Kiprahnya dimulai dengan 200 ekor ayam broiler sejak Mei 2019. Terhitung hingga pertengahan November silam, ketiganya sudah memasuki periode keempat pemeliharaan bisnis unggas. Total hingga saat itu, jumlah ayam broiler yang dipelihara sudah mencapai seribu ekor.

Karena memang ‘berilmu’, mereka tak mengalami kendala berarti dalam memelihara ayam broiler tadi. Produk ayam peternakan kelompok bernama Unggas Makmur dan Ternak Maju Bersama ini selalu mencapai target bobot badan dan habis diborong pelanggan. Belakangan PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mulai membudidayakan ayam buras beberapa bulan belakangan. Bahkan, mereka pun mengembangkan usaha sebagai broker, membeli ayam dari peternak untuk dijual kembali.

Belum lama berselang, ide melebarkan pasar ayam peliharaan mengemuka. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang mulai mencoba menjual ayam broiler di Pasar Lili, di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Sepuluh ekor ayam pertama yang sedianya dijual hari itu. “Alhamdulillah, semua ayam habis terjual saat menjelang siang,” kata Haji, yang bernama lengkap Mahdi Saleh Ajizi Lenamah, senang bukan kepalang.

Sebenarnya, trio pencetus ide memelihara dan menjual ayam broiler tak sendirian. Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang terdiri dari Claris Fransiska Tanmenu, Kristofel Nathan Maliti, Nikolaus Oemolos, Anwar Ricardo Bees, Dominggus Jino Antonius Parera, dan Mahdi Saleh Ajizi Lenamah. Dalam usaha budi daya ayam broiler pun mereka dibantu sang pembimbing, Yusuf Mozes.

Kiprah PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran pimpinan sekolah. “Kalau bisa, ketika lulus mereka terus berwirausaha sehingga dapat berkontribusi untuk pembangunan pertanian di NTT,” ujar Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stepanus Bulu.

Kelompok PWMP SMK-PP Negeri Kupang juga menggandeng kerja sama dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) RAN28. KUB RAN28 adalah kelompok PWMP alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang yang berbasis di Kupang, yang juga berwirausaha komoditas ayam broiler, khususnya pemotongan ayam. Kerja sama yang diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) antara KUB RAN28 dan Kepala Sekolah SMK-PP Negeri Kupang tersebut meliputi penyediaan bibit, pakan, persiapan kandang, manajemen pemeliharaan, hingga pemasaran.

Nikodemus Luku Usfinit dan Matheus Mado dari KUB RAN28 mengamini Stepanus. Mereka berharap, melalui wirausaha ini siswa-siswi SMK-PP Negeri Kupang tidak lagi mencari kerja ketika lulus (job seeker), tapi justru hadir sebagai pembuka lapangan pekerjaan (job creator).(Aisy Karima Dewi/EPN)

Gebrakan Mentan: Humas Pilar Informasi Kedaulatan Pangan

Penyebarluasan informasi menjadi permasalahan penting menyoal beragam kebijakan yang dilaksanakan pemerintah demi memakmurkan negeri, khususnya dari Kementerian Pertanian. Pasalnya jelas, berbagai terobosan tengah gencar dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan, tepatnya sebagai bagian dari Program 100 Hari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Misalnya tentang konsep Single Data buat mengembangkan Agriculture War Room (AWR), membangun Komando Strategis Pertanian hingga ke tingkat kecamatan, serta membangun ketersediaan komoditas pangan. Sang penyebar informasi adalah pelaku internal kementerian yang memang ditunjuk selaku ujung tombak sosialisasi program, di setiap lini kementerian.

Merujuk hal itulah, Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menyelenggarakan pelatihan dengan jendela besar soal sosialisasi kebijakan kepada 10 instansi di bawah Pusdiktan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan. Acara yang berlangsung di Hotel Platinum Adisucipto, Yogyakarta, yang dilaksanakan selama tiga hari di pertengahan November silam itu dihadiri sejumlah perwakilan dari politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) dan sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP) se-Indonesia.

Perubahan pola komunikasi yang terjadi di era digital ini menjadikan arus informasi mengalir deras dan masif. Pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola komunikasi simetris. Pemanfaatan teknologi informasi pun semakin mempercepat akses berita ke berbagai elemen media komunikasi di masyarakat. Pola komunikasi yang telah berubah di kalangan masyarakat inilah yang mesti diikuti juga dengan strategi yang sama yang dilakukan Tim Hubungan Masyarakat (humas) Kementerian Pertanian.

Menurut Kepala Bagian Humas Kementan Moch. Arief Cahyono, membangun keterlibatan publik (public engagement) bisa dilakukan dengan cara membangun kepercayaan publik dan menumbuhkan sifat kemanusiaan. “Dengan begitu, publik akan lebih respect (menghargai) dan positive thinking (berpikir positif) terhadap citra pemerintahan,” kata dia.

Arief berharap, nantinya Tim Humas Kementan bisa menjadi pemberi sinyal pertama kepada para petani yang ada di sekitar instansi. Utamanya, agar proses sosialisai program Kementan bisa cepat tersalurkan. Dan, Menteri Syahrul, Arief menambahkan, amat mengapresiasi jika Tim Humas Kementan sukses membuat dan menginformasikan content kreatif dan positif yang bertemakan pertanian kepada publik.(Rohman Jaya Anwari/EPN)