Program YESS Bakal “Serbu” Empat Provinsi

Ada kabar baik buat kaum muda milenial di perdesaan di Tanah Air. Sedianya, tak kurang dari 340-an ribu generasi muda di kawasan perdesaan bakal menjadi target bergabung dengan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang diluncurkan Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program selama enam tahun yang diresmikan pada 11 Oktober 2019 itu akan dilaksanakan di empat provinsi, pada 15 kabupaten. Yakni di Provinsi Kalimantan Selatan (Kabupaten Banjarbaru, Tanah Laut, dan Kabupaten Tanah Bumbu); Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Bantaeng, Bone, Bulukumba, dan Kabupaten Maros); Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Kabupaten Subang); serta di Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Kabupaten Pacitan).

Sasaran Program YESS ini adalah kaum muda di perdesaan, khususnya dari keluarga kurang mampu serta generasi milenial yang berisiko besar terhadap kemiskinan. Indikator hasil kegiatan program di sektor pertanian tersebut meliputi lima bagian utama. Pertama, 32.500 orang memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian. Kedua, 33.500 orang pedesaan meningkat pendapatannya. Ketiga, 50.600 orang mengembangkan usaha di bidang pertanian. Keempat, seratus ribu orang sudah mampu menggunakan jasa keuangan, yang 4.300 di antaranya adalah rumah tangga migran muda. Yang terakhir, sebanyak 120 ribu pemuda dan pemudi memperoleh pendidikan keuangan.

Menurut perencanaan, seluruh indikator tersebut akan dicapai melalui empat kegiatan utama. Yakni, Peningkatan Kapasitas Pemuda Perdesaan di Bidang Pertanian (Rural Youth Transition to Work), Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan (Rural Youth Entrepeneurship), Fasilitasi Akses Permodalan (Investing to Rural Youth), dan Membangun Lingkungan Usaha yang Kondusif (Enabling Environment fo Rural Youth).(EPN)

Kapusdiktan: Program YESS Pas buat Petani Milenial

Kehadiran wirausaha milenial di sektor pertanian menjadi perhatian penuh Kementerian Pertanian. Di antaranya melalui Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang diluncurkan beberapa waktu lampau. Dan kini, Kementan bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) kembali fokus melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). “Program ini dibuat untuk menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas serta siap menghadapi era milenial,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Idha Widi Arsanti, sesaat setelah acara peresmian Program YESS di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (11/10).

Santi merinci, Program YESS sangat mendukung upaya pengembangan SDM pertanian. Caranya dengan memberdayakan para pemuda tani untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian di pedesaan, secara optimal, profesional, menguntungkan, dan berkelanjutan. “Mereka akan siap menghadapi era milenial,” ujar Santi optimistis.

Kementan memang selalu memfasilitasi generasi milenial untuk bisa terjun menjadi wirausaha pertanian. Mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, upaya mengedukasi generasi milenial gencar dilaksanakan dengan memberi pemahaman bahwa berusaha di sektor pertanian sangatlah menguntungkan. Pengembangan pembangunan pertanian di Tanah Air pun bisa mendongkrak nilai tambah ekonomi bila proses pengolahan dapat dilakukan sendiri. Jika di hulu, budi daya pertanian dilakukan secara modern dan pengolahan di hilir menggunakan teknologi canggih seperti pengemasan, bisa meningkatkan nilai komoditas hingga 200 persen.

Dana yang digelontorkan IFAD untuk Program YESS mencapai US$ 55,3 juta untuk pelaksanaan selama enam tahun, 2019-2025. Menurut Manager IFAD Program YESS Nicholas Syed, sektor pertanian di seluruh dunia menghadapi persoalan senada: jumlah petani muda yang mau turun di sektor pertanian semakin berkurang. Padahal, melalui teknologi dan daya kreativitas generasi milenial, peluang menjadi wirausaha sektor pertanian justru terbuka lebar. Dan IFAD hadir memberikan stimulan dalam bentuk dana pengembangan bagi wirausahawan di Indonesia. “Program wirausaha yang dirintis Kementan sudah sangat baik dan bisa menjadi contoh,” kata dia.(EPN)

Pusdiktan Jajaki Kerja Sama dengan SEAMEO BIOTROP

Persoalan peningkatan produktivitas pertanian di lahan terbatas seperti perkotaan menjadi persoalan tersendiri. Satu di antara solusi tersebut adalah kegiatan kultur jaringan dan urban farming, yang mampu memanfaatkan lahan sempit untuk tetap produktif dan menghasilkan produk pertanian yang maksimal. Usulan tersebut mengemuka dalam kunjungan Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pendidikan Pertanian Inneke Kusumawaty ke South East Asian Ministry Education Organization for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP), Bogor, Jawa Barat, awal Oktober 2019.

Dalam kunjungannya, Inneke menekankan kembali perhatian utama Kementerian Pertanian untuk mewujudkan sektor pertanian yang maju, modern, berkualitas, dan berdaya saing global. Termasuk sektor pertanian Indonesia yang diharapkan mampu meningkatkan kreativitas, berbarengan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian Indonesia. Di antaranya dengan upaya kerja sama dalam bidang pertanian di area perkotaan (urban farming) dan kultur jaringan, khususnya untuk sistem pendidikan dan kurikulum yang tepat.

Menurut Inneke yang diamini Kepala Sub Bidang Ketenagaan Pusdiktan Kodrad Winarno yang ikut hadir dalam pertemuan itu sistem pendidikan dan kurikulum yang tepat akan turut mendorong hasil lulusan pendidikan yang mampu menciptakan lahan pekerjaan (job creator). Kodrad pun berharap rencana kerja sama tersebut juga menyentuh program pengembangan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)