Polbangtan Yo-Ma Terapkan Tefa Biofarmaka

Peningkatan kualitas pendidikan tinggi vokasional di lingkup Kementerian Pertanian terus dilakukan demi peningkatan regenerasi petani dan terciptanya petani-petani generasi milenial. Satu di antaranya melalui pengembangan Teaching Factory (Tefa). “Sarana dan prasarana sudah mulai digunakan untuk pembelajaran mahasiswa Polbangtan [Politeknik Pembangunan Pertanian] Yo-Ma [Yogyakarta-Malang],” kata Direktur Polbangtan Yo-Ma Rajiman, saat mendampingi Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Inneke Kusumawaty yang berkunjung ke Tefa Sempu, Polbangtan Yo-Ma, Yogyakarta, menjelang akhir September 2019.

Rajiman menambahkan, ada beberapa kelengkapan fasilitas Tefa setempat yang sudah berjalan penggunaannya. Sebut saja lahan praktik khusus untuk tanaman biofarmaka. Selain itu, ada ruang transit mahasiswa, gudang alat mesin pertanian, dan berbagai sarana dan prasarana penunjang lainnya.

Penerapan Tefa diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa dan mencetak SDM pertanian yang dapat diandalkan.(Miasari Maharta Dewi/FIK)

Pusdiktan Ikuti Jambore Petani Muda 3 Petrokimia

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) melalui mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang ikut berpartisipasi di Jambore Petani Muda 3. Acara yang diselenggarakan Petrokimia Gresik bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut bertema “Agrosociopreneur untuk Kemajuan dan Kelangsungan Pertanian Indonesia” di Kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (25/9).

Pertemuan akbar kali ini dihadiri Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Jamhari, Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Inneke Kusumawaty, Co-Founder dan CEO Tanijoy Nanda Putra serta Founder dan CEO Agradaya Andhika Mahardika. Selain mahasiswa Polbangtan Yogya-Malang, Jambore Petani Muda 3 ini pun diikuti perwakilan mahasiswa dari Fakultas Pertanian UGM.

Menurut Rahmad Pribadi dalam paparannya, regenerasi petani adalah topik utama Jambore Petani Muda 3. Petrokimia Gresik berupaya melakukan regenerasi petani, lantaran ada penyusutan tenaga kerja pertanian hingga 15 juta orang petani dalam 10 tahun terakhir. Sementara, dia menambahkan, kehidupan Petrokimia Gresik di masa mendatang sangat bergantung pada sektor pertanian.

Mengamini soal regenerasi petani, Nanda Putra dan Andhika Mahardika melontarkan pandangan dari sisi lain dunia pertanian. Menurut mereka, bertani dapat dilakukan dengan cara yang modern, bahkan tidak harus memiliki lahan. Misalnya, bidang pendukung pertanian seperti fintech (financial and technology) serta pengembangan sosial yang memiliki tujuan sama: meningkatkan produktivitas pertanian Tanah Air.

Kementerian Pertanian memang sudah memiliki konsep regenerasi petani. “Dukungan pemerintah sangat berpengaruh,” kata Inneke. Cakupan strategi regenerasi petani tersebut di antaranya transformasi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi politeknik, dengan program studi yang berorientasi pada agribisnis dan mekanisasi pertanian. Seluruh Eselon 1 lingkup Kementan telah bersinergi dalam program regenerasi petani untuk menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang andal.

Tak hanya itu, Inneke merinci. Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) sudah menjalin kerja sama dengan 33 perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa, alumni, pemuda tani, juga terlibat langsung dalam pendampingan program Kementan. Upaya penumbuhan Kelompok Usaha Bersama (KUB) terfokus di bidang pertanian, dengan akses pelatihan dan magang bagi serta optimalisasi penyuluh bagi pemuda tani di bidang pertanian.(Miasari Maharta Dewi/FIK)

Pusdiktan-UGM Intensif Kerja Sama Bidang Pendidikan

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian gencar mempersiapkan berbagai persiapan pascapenandatanganan kerja sama di bidang pendidikan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Langkah tersebut di antaranya adalah kehadiran Tim Pusdiktan yang diwakili Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawaty dan Kepala Sub-Bidang Kelembagaan Pendidikan Siti Samsiah ke Kampus UGM di Yogyakarta, Rabu (25/9).

Kehadiran Tim Pusdiktan disambut langsung Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yudi Pranoto. Pembahasan bergulir menyoal tindak lanjut bidang pengembangan pendidikan politeknik di lingkup Kementan.

Pertemuan tersebut menyepakati implementasi selanjutnya yang akan dilakukan secara berkala. Di antaranya, pengiriman dosen tamu dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM sebagai pengajar di politeknik di bawah Pusdiktan.(Miasari Maharta Dewi/FIK)

Kapusdiktan: Tefa SMKN 1 Pacet Bisa Jadi Referensi

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Pacet sukses melaksanakan pola kurikulum Teaching Factory (Tefa) bidang makanan dan minuman, plus menjadi tempat pembelajaran dunia industri bagi siswanya. “Kegiatan Tefa di SMKN 1 Pacet ini dapat dijadikan referensi bagi pengembangan SMK Pertanian di beberapa wilayah di Indonesia,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti saat berkunjung ke SMKN 1 Pacet, Desa Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (20/9).

Dalam kunjungan di SMKN 1 Pacet ini, Kapusdiktan yang didampingi Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusdiktan Inneke Kusumawaty disambut Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana (Waka Sarpras) SMKN 1 Pacet Kankan Sukanda. Rombongan berkeliling melihat langsung aktivitas Tefa SMKN 1 Pacet seperti kegiatan on-farm yang meliputi budi daya tanaman pangan dan hortikultura di lahan maupun greenhouse. Sementara kegiatan off-farm, Kapusdiktan pun didaulat memantau pengolahan hasil kedelai menjadi susu kedelai, keripik paru, keripik singkong, jus sayur dan buah, yoghurt keju, mozzarella, serta pembuatan roti.

Menurut Kankan, sistem Tefa SMKN 1 Pacet telah berjalan cukup baik dan telah menjalin kerja sama dengan berbagai dunia usaha dan dunia industri (DU/DI). Di antaranya, PT Known-You Seed dan CV Bambang Family Dairy.
Selain itu, Kankan menambahkan, kegiatan Tefa SMKN 1 Pacet telah sampai di tingkat internasional. “Beberapa waktu yang lalu kami berhasil mewakili Indonesia di Jepang dalam acara eksebisi produk makanan dan minuman,” kata dia.

SMKN 1 Pacet adalah satu dari sejumlah sekolah berbasis vokasional yang diundang dalam the 44th International Food and Beverage Exhibition (FoodEx Japan 2019) yang berlangsung di Hall Makuhari Masse, Chiba, Jepang, di awal Maret 2019. Dalam eksibisi yang diikuti 90 negara peserta tersebut, SMKN 1 Pacet menampilkan hasil Tefa, utamanya di bidang makanan dan minuman. Berbekal upaya peningkatan mutu pendidikan vokasional tersebut, khususnya pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan, SMKN 1 Pacet telah mengirimkan guru produktif pertanian ke Korea Selatan pada Maret 2019 lampau.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melalui Pusdiktan senantiasa terus memperkuat jejaring pendidikan vokasional pertanian Indonesia. Tujuannya tentu, untuk mempersiapkan SDM pertanian yang profesional, mandiri, dan berdaya saing.

Saat ini Pusdiktan telah menyelenggarakan program pendidikan tinggi vokasional di tujuh politeknik dan tiga sekolah pendidikan menengah kejuruan pertanian. Yakni SMK Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Sembawa, Banjarbaru, dan SMK-PP Kupang. Selain itu Pusdiktan juga bergandengan tangan buat membina 84 SMK-PP dan SMK Bidang Keahlian Agribisnis dan Agroteknologi milik pemerintah daerah dan swasta atau yayasan di Tanah Air.(Kodrad Winarno/FIK)

Perluas Jejaring Magang, Pusdiktan Kunjungi Balithi Cianjur

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti dan rombongan mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Pacet, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (20/9). Kunjungan ini adalah satu dari sejumlah upaya memperluas jaringan magang, khususnya bagi dosen, pranata laboratorium pendidikan, dan mahasiswa politeknik Kementerian Pertanian. Balithi menyambut baik rencana magang mahasiswa dari polbangtan dan siap berkolaborasi dalam rangka meningkatkan minat dan keterampilan mahasiswa.

Menurut Kepusdiktan, kolaborasi dapat dilakukan dengan politeknik di bawah Pusdiktan dalam mengembangkan tanaman hias. “Mahasiswa politeknik pertanian, baik polbangtan maupun Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), dapat melakukan magang di Balithi untuk mengembangkan keterampilan teknis mereka dalam menghasilkan tanaman hias yang bernilai ekonomi tinggi,” kata Santi. Kapusdiktan yang didampingi Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pusdiktan Inneke Kusumawaty, sejumlah pejabat struktural, dan perwakilan peneliti tanaman hias Balithi meninjau fasilitas kebun penelitian seperti screen house dan ruang aklimatisasi anggrek.

Balithi adalah Unit Pelaksana Teknis Bidang Penelitian Tanaman Hias. Tugas Balithi ini adalah menghasilkan penelitian dan pengembangan, khususnya tanaman hias varietas unggul di bawah tanggung jawab Badan Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Kementerian Pertanian. Beberapa hasil penelitian Balithi adalah varietas unggul tanaman hias seperti anggrek, daun leatherleaf fern, anthurium, bunga krisan, alpinia purpurata, mawar, dan masih beragam jenis lainnya.

Balithi juga menawarkan paket teknologi dan pupuk yang dapat diakses langsung oleh masyarakat berkat hasil penelitiannya. Termasuk, paket pelatihan seperti bimbingan teknis dan magang. Selain di Pacet Cianjur, instalasi penelitian Balithi berada di Cipanas dan Serpong, yang menjadi satu kompleks dengan PEPI di bawah binaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP).(Kodrad Winarno/FIK)

Polbangtan Medan Gelar Bimtek Kelompok PWMP 2019

Wilayah Koordinasi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelompok Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) Tahap Penyadaran dan Penumbuhan 2019 di Swiss Bell in Hotel, Medan, Sumatra Utara. Acara yang berlangsung sejak 11 hingga 14 September 2019 tersebut adalah pembekalan bagi calon pengusaha muda pertanian yang diikuti 70 orang peserta yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi Mitra (PT-M). Yakni, Universitas Syiah Kuala (Aceh), Universitas Sumatra Utara (Medan), Universitas Andalas (Padang), Universitas Jambi, Universitas Bengkulu, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (Padang), Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Saree (Aceh) , SMK-PP Kutacane (Aceh), SMK-PP Bireun (Aceh), SMK-PP Padang, SMK-PP Padang Mangatas (Padang), dan alumni Polbangtan Medan.

Direktur Polbangtan Medan Yuliana Kansrini membuka secara resmi kegiatan Bimtek Kelompok PWMP. Dalam paparan soal kebijakan Program PWMP 2019, dia menggarisbawahi bahwa para lulusan sarjana pertanian memiliki tugas yang mulia. Contohnya, harus mampu menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang dan pada dasarnya bisa dilakukan. “Hanya bermodal smartphone saja sudah bisa buka toko, sudah bisa promosi usaha. Dengan syarat, harus mengikuti perkembangan teknologi,” kata perempuan baya yang akrab disapa Yuli itu.

Walau demikian, melek teknologi bukanlah segalanya. Ada tiga ciri pengusaha muda di era digitalisasi. Pertama, harus bisa melihat peluang bisnis. Selanjutnya, harus ada inovasi baru yang membuat bisnis tersebut berbeda. Dan yang tak kalah penting, Yuli menambahkan, harus ada kreativitas dan keberanian untuk mengembangkan dan memajukan usahanya. Dengan bekal itulah, agripreneur mesti memiliki sikap mental yang mumpuni: harus berani mengambil risiko, berani mencoba hal baru, dan tekad yang kuat serta pantang menyerah.

Hadir dalam bimtek ini sejumlah narasumber wirausahawan muda nasional seperti perwakilan dari Wirausahawan Muda Nusantara (Wimnus), Pengusaha Sayur Box, serta beberapa praktisi dan akademisi di bidang pertanian. Mereka memaparkan fakta dan strategi dalam rangka mendorong percepatan partisipasi generasi muda dalam pembangunan pertanian era 4.0.

Menurut Ketua Panitia Bimtek Kelompok PWMP 2019 Dwi Febrimeli, kegiatan kali ini diharapkan mampu memberikan penyadaran dan penumbuhan wirausahawan muda pertanian melalui pemanfaatan teknologi. “[Agar] siap memajukan usaha pertanian Indonesia hingga pasar internasional,” kata Dwi.(Puji/Fika)