Kapusdiktan Wisuda 105 Lulusan SMK-PP Kupang

“Wisuda adalah momentum pelepasan lulusan kepada masyarakat untuk berkiprah dan memberikan andilnya dalam pembangunan pertanian,” kata Kepala Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti, mewakili kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di acara pengukuhan dan pelepasan 105 siswa Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Kupang Angkatan XXXV Tahun Ajaran 2018/2019, pertengahan Mei 2019.

Santi menegaskan, berkiprah di masyarakat dan turut andil dalam pembangunan adalah langkah wajib setiap para lulusan SMK-PP. “Wisuda bukan sekadar kegiatan pengukuhan dan pelepasan yang dilaksanakan di setiap akhir masa pendidikan,” kata dia, di acara bertema “Lulusan SMK-PP Negeri Kupang Siap Menjadi Job Creator dan Job Seeker yang Kompeten dalam Menunjang Kedaulatan Pangan dan Meningkatkan Kesejahteraan Petani” tersebut.

Ke-105 lulusan yang diwisuda berasal dari tiga program studi (prodi) yaitu Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura, Agribinis Ternak Ruminansia, serta Prodi Perawatan Kesehatan Ternak. Santi menambahkan, Kementerian Pertanian bangga menyambut alumni sebagai tenaga teknis menengah baru di bidang pertanian.

Sebanyak 85 persen lulusan SMK-PP pada 2018 terdata sudah bekerja kerja di sejumlah perusahaan, dan sisanya menjadi entrepreneur. Sementara sebagian lainnya melanjutkan ke jenjang pendidikan berkuliah di politeknik pembangunan pertanian.(Ageng Hasanah S./EPN)

Polbangtan Bogor-Nestle Tanam Bareng Sistem Tumpang Sari

Kolaborasi menjadi solusi yang nyata. Aksi bergandeng tangan itulah yang dilaksanakan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor bersama PT Nestle Indonesia. Kedua institusi ini bersama-sama melakukan penanaman serempak beberapa jenis tanaman dengan sistem tumpang sari (intercropping) di lahan Teaching Farm (Tefa) Demoplot Coffee Intercropping di Kota Batu Luhur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/5).

Ketua Program Studi Agribisnis dan Hortikultura Polbangtan Bogor Wasissa Titi Ilhami menuturkan bahwa model intercropping di lahan Polbangtan Bogor ini terdiri atas komoditas kopi tiga klon: BP42,  BP 308, dan BP 409 dengan jarak tanam 2 X 3 meter. Tanaman yang ditanam lainnya adalah lada dengan jarak tanam 4 X 6 m, dan alpukat Cipedak yang menjadi border plant ditanam dengan jarak per enam meter. Jumlah tanaman kopi Robusta yang ditanam mencapai 600 pohon, lada 150 pohon dan alpukat sebanyak 48 pohon. “Rencananya komoditas hortikultura cabe rawit akan dijadikan tanaman sela,” kata Wasissa.

Model pertanian percontohan ini juga direkomendasikan PT Nestle Indonesia, yang terdiri dari tanaman kopi, lada, alpukat, dan cabai. Menurut Director Sustainability Agricultural Development and Procurement PT Nestle Indonesia Wisman Djaja, model intercropping ini sudah pernah diterapkan di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Sistem penanaman tumpang sari tersebut diyakini memiliki profitabilitas usaha tani yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanam tunggal. Wisman berharap, model penanaman seperti ini dapat ditiru petani yang sebelumnya terbiasa menanam secara konvensional.

Selain perwakilan PT Nestle Indonesia, momentum penanaman serempak ini juga dihadiri perwakilan Direktur I dan Direktur II, Bagian Umum, perwakilan jurusan Pertanian, perwakilan program studi (prodi), dan penanggung jawab Tefa tiap prodi dari Polbangtan Bogor. Sedianya, kegiatan ini akan dilaksanakan langsung seluruh mahasiswa dari tingkat I hingga IV.(Ageng Hasanah S./EPN)

Polbangtan Malang Siap Menjadi Pusat Model Farm

Kesungguhan kerja sama antara dunia usaha dan dunia pendidikan menjadi nyata. Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Jawa Timur, dan PT Nestle Indonesia berkomitmen bersama untuk membangun kandang percontohan (model farm) sapi perah di areal Polbangtan Malang. Kehadiran model farm ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan di masa mendatang, khususnya kehadiran lulusan polbangtan yang menjadi changing agent, sekaligus sebagai bentuk transformasi peternakan sapi perah rakyat di Tanah Air.

Dalam persiapannya menjelang pertengahan Mei 2019 ini, Tim Teknis PT Nestle Indonesia yang dipimpin Wisman Djaya selaku Direktur Sustainable Development PIS AGRO dan didampingi Head of Milk Procurement and Dairy Development Pariatmoko memberikan asistensi dalam rangka membangun kandang percontohan sapi perah tersebut. Kehadiran Nestle Indonesia adalah untuk menjadikan peternakan yang memenuhi syarat dan kualifikasi, dengan memperhatikan aspek kesejahteraan dan produktivitas hewan. Berdasarkan desain terperinci yang telah disetujui, pembangunan Model Farm terbagi untuk delapan ekor dan 50 ekor.

Menurut perhitungan, hasil pendapatan dari target produktivitas 16-18 liter atau 5.000 liter per jarak beranak (calving interval) dari susu segar bagi peternak kecil pemilik delapan ekor saja bisa mencapai Rp 8 juta per bulan. Dengan kondisi harga saat ini ditambah target pendapatan dari kandang dengan 50-an ekor, ditaksir mampu mencapai keuntungan hingga Rp 50 juta per bulan.

Dalam rangka persiapan pembangunan Model Farm, Direktur Polbangtan Malang Bambang Sudarmanto akan menyiapkan lahan jagung dengan luas sekitar dua hektare. Lahan tersebut merupakan sarana yang harus disediakan untuk pelatihan pembuatan silase jagung sebagai pakan ternak. Nantinya, PT Lunar Champlast—yang berpengalaman luas di dalam pembangunan beberapa peternakan berskala besar (large scale farming) di Indonesia–pun akan mendampingi pelaksanaan proyek Model Farm itu.(Fika Artharini/EPN)

Jangek Tulang ala PWMP Jani

Predikat kaum muda penuh karya, tampaknya pas disandangkan buat Rizka Angelya. Perempuan muda satu ini menjadi motor penggerak Jani (Jangek [kerupuk] Warna Warni), sebuah kelompok Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang bergerak di usaha pengolahan hasil pertanian. Bersama Jani yang mendapatkan bantuan modal dari kegiatan PWMP Kementerian Pertanian, Rizka menjadikan tulang ikan sebagai bahan utama bisnis di bidang kuliner makanan ringan sejak 2017.

Ketertarikan berwirausaha bukanlah jauh panggang dari api. Maklum, Rizka terlahir dari keluarga yang acap menerapkan pola hidup dengan selalu bekerja keras untuk hal apapun. Pundi-pundi keuntungan pun mulai diraih.

Kebetulan, di tempat tinggalnya di Palembang, Sumatra Selatan, ikan adalah konsumsi primer bagi penduduk sekitar. Itu masih ditambah sederet lagi beragam produk makanan berbahan dasar ikan yang terdapat di Bumi Sriwijaya. Tak pelak, meski kadang dianggap sebelah mata, jumlah tulang ikan pun dijamin berlimpah. Bahan dasar itulah yang kemudian dikemas ulang Rizka melalui produk Jani.

Selalu bergiat, ulet, serta telatenlah yang akhirnya membuat Jani ala Rizka mulai memiliki pangsa pasar khusus: online maupun offline. Pemasaran berupa pengenalan produk dan penawaran dilakukan melalui akun di Facebook, Instagram, dan daring koran setempat. Momentum offline dilaksanakan dengan menitipkannya di beberapa tempat gerai warung, atau dipasarkan bila bazar tiba. Inspiratif.(Dahlia Murwaningsih/EPN)

Pusdiktan dan Universitas Indonesia Bakal Teken MoU

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian menjajaki peluang kerja sama dalam penyaluran peserta tugas belajar dengan Universitas Indonesia. Pasalnya jelas, Pusdiktan bertugas sebagai penyalur tugas belajar aparatur sipil negara yang memenuhi syarat untuk untuk program pendidikan magister dan doktor. Kunjungan Tim Pusdiktan yang dipimpin Kepala Bidang Program dan Kerja Sama Pendidikan Pusdiktan Hasan Latuconsina itu disambut Direktur Kerja Sama UI Dodi Sudiana di Gedung Science Park, Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (8/5).

Pusdiktan telah bermitra dengan 11 perguruan tinggi di Tanah Air. Walau demikian, langkah bergandeng tangan dengan banyak kampus lainnya pada tahun ini untuk menambah jaringan perguruan tinggi mitra. “Satu di antaranya dengan Universitas Indonesia,” kata Hasan.

Dodi menyambut baik rencana kerja sama yang rupanya juga sejalan dengan visi, menjadikan UI sebagai guru bangsa. “Hampir semua prodi [program studi] sudah terakreditasi, dan kami punya 250 prodi di seluruh UI,” kata Dodi.

Karyasiswa Kementan yang akan melanjutkan studi di UI harus dinyatakan lulus ujian melalui SIMAK UI, yang dilaksanakan dengan dua gelombang. Gelombang pertama pada April 2019 dan gelombang kedua akan berlangsung pada Agustus 2019. Sedianya, kedua institusi ini akan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) usai libur Idul Fitri 1440 Hijriah.(Ageng Hasanah S./EPN)

First Resources Rekrut Mandor di SMK-PP Sembawa

Kolaborasi kini tengah gencar dilaksanakan di berbagai instansi di bawah koordinasi Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Buktinya, Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Sembawa, Sumatra Selatan, menjadi tempat pelaksanaan perekrutan tenaga mandor untuk perusahaan perkebunan kelapa sawit grup First Resources, PT Ketapang Agro Lestari (KAL) di Kalimantan Timur. Ajang perekrutan yang diselenggarakan di akhir April silam tersebut mendapat animo positif dari generasi muda pertanian dan sekolah kejuruan lainnya di Bumi Sriwijaya.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMK-PP Negeri Sembawa Zulkipli yang membuka acara perekrutan tersebut, ada 21 orang peserta seleksi mandor. Mereka terdiri dari siswa tingkat XII dan alumni SMK-PP Negeri Sembawa, SMK Unggulan Negeri 2 Banyuasin III, dan SMKN 1 Muara Telang. Di acara ini juga dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding – MoU) yang diwakili Suharto Sitompul, Human Resource Department PT KAL dan Zulkipli dari SMK-PP Negeri Sembawa.

Perekrutan tenaga mandor tersebut menjadi langkah lanjut dari pembicaraan sebelumnya antara Government Relations Director PT Cargill Indonesia Zulham Koto dan jajaran pendidik di SMK-PP Negeri Sembawa, menyoal pengembangan kerja sama, beberapa waktu lampau. Penerimaan tenaga kerja khusus mandor itu merupakan wujud misi SMK-PP Negeri Sembawa untuk mengembangkan kerja sama dengan instansi terkait, masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri baik, di dalam negeri maupun di luar negeri. “Proses seleksi calon mandor untuk diterima di First Resources ini diharapkan akan membuka peluang untuk adik tingkat di perekrutan di tahun mendatang,” kata Zulkipli.(Mona Nur Moulia/EPN)

Pusdiktan Jalin Kerja Sama dengan Kadin Indonesia

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Jakarta, Kamis (2/5). Penandatangan PKS tersebut disaksikan Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Medan, Direktur Polbangtan Bogor, Direktur Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Direktur Polbangtan Malang, Direktur Polbangtan Gowa, dan Direktur Polbangtan Manokwari. Acara ini juga disaksikan peserta acara Seminar Kelayakan Perusahaan Pendidikan Kejuruan yang digelar BPPSDMP.

BPPSDMP yang diwakili Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti mengungkapkan, perjanjian kerja sama ini adalah tindak lanjut dari perjanjian sejenis antara Kementerian Pertanian dan Kadin Indonesia. Kerja sama antara BPPSDMP dan Kadin Indonesia ini terfokus di bidang pendidikan, khususnya pendidikan vokasi. BPPSDMP berharap kerja sama dengan Kadin Indonesia membuka peluang ketersediaan tempat praktik kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa di bawah binaan Kementan.

Santi menambahkan, kerja sama ini pun tak boleh bersifat formalitas, namun harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata peningkatan kapasitas dosen, mahasiswa, dan Pusat Latihan Pertanian (PLP) melalui magang di perusahaan yang menjadi anggota Kadin Indonesia.

Menurut Kepala Pusdiktan, kerja sama dengan Kadin dirasakan sangat penting untuk pengembangan sekolah vokasi di bawah Kementan dalam rangka menuju World Class University. Selain itu tentunya, sekaligus menunjukkan komitmen Kementan dalam mengembangkan pendidikan vokasi di Tanah Air.

Hal senada juga diungkapkan Kadin Indonesia yang diwakili Ketua Kadin Bidang Ketenagakerjaan dan Industri Antonius J. Supit. Menurut dia, pendidikan vokasi menjadi primadona di masa mendatang. Pasalnya jelas, perusahaan membutuhkan tenaga siap pakai, artinya tidak perlu mengadakan pelatihan untuk calon pekerjanya.(Muhammad Zacky/EPN)