Petani Milenial Banjarbaru ‘Road to Taiwan’ Diseleksi

Kementerian Pertanian menggelar program magang peningkatan keterampilan dan kualitas petani muda Indonesia untuk mendongrak kemampuan berkompetitif dan berinovatif dalam bidang pertanian. Itulah yang tengah dilaksanakan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Banjarbaru, selaku unit pelaksana teknis pendidikan di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pekan silam, sebagai tempat seleksi bertahap program magang petani milenial ke Taiwan, Republik Rakyat Tiongkok. Seleksi angkatan pertama yang diikuti 160 orang akan memperebutkan 75 kuota magang ke Taiwan selama satu sampai dua tahun.

Menurut panitia seleksi dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Wiweko Setiawan, program magang ini adalah upaya riil peningkatan SDM bidang pertanian. Caranya, dengan mengirim peserta magang ke negara yang terbukti maju di bidang teknologi pertaniannya. Dengan begitu, Wiweko menambahkan, para generasi muda yang terlibat langsung tersebut bakal mampu meningkatkan wawasan dan kemampuan teknis di bidang usaha pertanian. Dia berharap, angkatan pertama magang ke Taiwan bakal mengantongi segudang pengalaman dalam hal teknologi, pemasaran produk, etos kerja, dan inovasi pertanian.

Proses seleksi magang yang dilaksanakan tim Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) BPPSDMP Kementerian Pertanian melalui tahapan seleksi administrasi dan seleksi teknis pertanian.
Peserta magang pun akan menerima pembekalan pengetahuan seperti minimal bahasa Inggris sebelum diberangkatkan. Maklum, bahasa Inggris adalah bahasa pengantar internasional yang dipakai narasumber atau pakar untuk menyampaikan materi pembelajaran ke peserta magang.(Willy Darmawan/WHT)

Pusdiktan Siapkan Kurikulum Sawit Sesuai Kebutuhan Industri

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) menunjukkan keseriusan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang berkompeten dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Langkah konkretnya terlihat dalam pertemuan dengan perwakilan PT Cargill Indonesia, Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro), Pusat Pelatihan Pertanian (Puslattan), dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Sembawa di Ruang Rapat Pusdiktan Jakarta, Selasa (26/2).

Pertemuan kali ini membahas persiapan pemantapan penyusunan kurikulum pendidikan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, khususnya kelapa sawit. Government Relations Director PT Cargill Indonesia Zulham Koto menuturkan, sinergitas antara pemerintah, pengusaha, profesi atau planter, dan akademisi sangat diperlukan. Ada dua poin yang perlu diterapkan untuk menghasilkan kurikulum tersebut: melibatkan beberapa perusahaan dan fokus pada vokasional komoditi. “Sebab, ketahanan dan passion generasi muda bekerja di kebun masih rendah,” kata dia.

Bak gayung bersambut, Mona Nur Moulia merespons. Menurut guru SMK-PP Sembawa di Sumatra Selatan itu, memang sudah ada rencana program studi (prodi) budi daya perkebunan dan pengolahan hasil perkebunan. Di SMK-PP Sembawa, misalnya.

Executive Director PISAgro Martini pun angkat bicara. Menurut dia, banyak perusahaan yang paham praktik sektor kelapa sawit, tetapi perlu orang yang ahli untuk menuangkannya menjadi sebuah kurikulum. “[Contoh], sebaiknya dibentuk tim sawit,” ujar Martini.

Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Tugas Belajar Pusdiktan Abdul Roni Angkat mengamini. Bahkan menurut dia, rencana tindak lanjut dari pertemuan ini memang membentuk tim vokasional kelapa sawit. Short term-nya adalah kompetensi kelapa sawit yang disisipkan ke dalam pokok bahasan mata kuliah Budi Daya Perkebunan. Sementara long term, Roni menambahkan, adalah pembentukan Program Studi Budi Daya Kelapa Sawit atau Pengolahan Hasil Kepala Sawit.

Sedianya, pertemuan selanjutnya akan mengundang lebih banyak praktisi dunia usaha dan industri khusus di bidang perkebunan kelapa sawit.(Ageng Hasanah/FIK)

Pusdiktan Kunjungi Yogya Cermati Pajale dan LTT

Rapat Koordinasi Padi, Jagung, dan Kedele (Pajale) digelar di Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/2). Rakor tersebut dipimpin langsung Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti selaku Penanggung Jawab Upaya Khusus (upsus). Dia didampingi Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY Joko Pramono, serta rombongan penyuluh, mantri tani, dan jajaran kodim dari empat kabupaten setempat.

Santi menegaskan, rakor tersebut bertujuan untuk memacu pencapaian target percepatan luas tambah tanam (LTT). Upsus Pajale juga berarti upaya optimalisasi alat mesin pertanian, khususnya di wilayah Yogyakarta. Yakni, Kabupaten Sleman, Gunungkidul, Bantul, dan Kabupaten Kulonprogo. “Perkembangan hasil pantauan di lapangan ini akan dijadikan data laporan ke Kementan,” tegas Santi.

Di hari kedua kunjungan, Santi bersama tim juga meninjau potensi percepatan LTT di enam lokasi. Wilayah tersebut adalah Kecamatan Sedayu, Srandakan, dan Kecamatan Imogiri untuk wilayah Kabupaten Bantul, dan Kecamatan Nanggulan, Kalibawang, serta Kecamatan Panjatan di wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawati yang ikut menghadiri kunjungan mengaku optimistis percepatan LTT menjadi kenyataan. “Insya Allah target musim tanam periode ini tercapai,” kata dia.(Asnuri/FIK)

Kurikulum Peternakan Diselaraskan buat Penyerapan Dunia Kerja

Peningkatan kompetensi lulusan politeknik pembangunan pertanian (polbangtan) yang langsung diserap di dunia kerja adalah target utama Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Kementerian Pertanian. Langkah strategis untuk mewujudkannya adalah bekerja sama dengan sejumlah institusi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman. Satu cakupan yang termaktub dalam Memorandum of Understanding (MoU) tersebut adalah pengembangan kurikulum polbangtan, yang sesuai dengan ‘kebutuhan pasar’. Pembahasan penyelarasan kurikulum bidang peternakan yang dihadiri tim penyusun kurikulum bidang peternakan dari Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta – Magelang, dan Polbangtan Malang ini digelar di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur, menjelang akhir Februari 2019.

Menurut Direktur Polbangtan Malang Bambang Sudarmanto di sesi sambutan pembukaan pertemuan, wilayah Malang tepat dijadikan lokasi penyusunan pengembangan kurikulum bidang peternakan, khususnya sapi perah. Pasalnya jelas, 65 persen—dan terus meningkat—produk susu di Indonesia berada di wilayah Jawa Timur. Sementara, produksi wilayah pemasok susu di Jawa Tengah seperti Banyumas dan Boyolali, serta Pengalengan di Jawa Barat mulai menurun. Fokus produksi industri ternak di wilayah itu bergeser ke sapi potong.

“Di forum ini diharapkan, tim penyusun kurikulum bidang peternakan dapat menyisipkan pokok bahasan sapi perah di dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS), seperti yang dibutuhkan PT Nestle dan PT Indolakto [mitra MoU Pusdiktan],” ujar Bambang. Dengan begitu, dia menambahkan, polbangtan bakal mampu menyiapkan lulusan siap pakai di dunia usaha dan dunia industri.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Pendidikan Pusdiktan Ismaya Parawansa sepakat dengan Bambang. Namun dia menggarisbawahi, setiap tahunnya mahasiswa polbangtan harus memiliki satu jenis kompetensi yang dikuasai. Sehingga memiliki kompetensi utuh yang mencerminkan profil lulusan pada masing-masing program studi setelah lulus.

Dalam momentum perumusan kurikulum yang berlangsung selama tiga hari itu, tim diminta mencermati mata kuliah yang dapat diubah atau ditambahkan untuk mengakomodir kebutuhan perusahaan. Tentunya, tanpa harus mengabaikan ketentuan penetapan satuan kredit semester (SKS) yang ditetapkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Khusus soal kebutuhan PT Nestle dan Indolakto, para perumus kurikulum didaulat merangkum substansi kebutuhan kedua perusahaan sebagai penyedia sarana magang dan penyedia lapangan kerja. Pada saat yang sama, hasilnya akan disandingkan dengan yang telah dimiliki polbangtan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja.(Lena Puspa Aswara/EPN)

Mentan: Ribuan THL Diharapkan Lolos Seleksi ASN

Sebanyak 14.924 tenaga harian lepas tenaga bantu penyuluh pertanian (THL-TBPP) binaan Kementerian Pertanian RI dinilai bakal memenuhi syarat menjadi aparatur sipil negara kategori pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (ASN-P3K). “Penyuluh adalah garda terdepan pertanian nasional,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di acara sosialisasi ASN-P3K di Jakarta, Senin (11/2) petang. Dia berharap belasan ribu THL itu akan lolos seleksi yang digelar Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada 23-24 Februari 2019. Sedianya, hasil tes tersebut akan diumumkan pada 1 Maret 2019.

Menurut Amran, Kementan masih membutuhkan 74 ribu orang penyuluh pertanian. Sementara saat ini, baru tersedia 31.500 orang sehingga masih membutuhkan 42.500 orang yang diprioritaskan dari THL lingkup Kementan RI. Dia merinci, pemerintah pernah mengangkat 6.000 THL menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada September 2017. Untuk periode kali ini, Amran pun sudah mengusulkan 17.691 THL yang terdaftar untuk mengisi formasi ASN-P3K 2019 ini. Namun berdasarkan hasil validasi, hanya 14.924 yang lolos memenuhi syarat.

Para THL yang lolos validasi rata-rata memiliki pengalaman lapangan minimal 10 tahun. Sebagai pelaku di lapangan, mereka tentu mafhum urusan tanaman luar kepala. Tak heran bila usianya pun di atas 35 tahun. “Tanpa tes juga sudah lulus. Tolong jangan dipersulit,” kata Amran.

Kegiatan sosialisasi ASN-P3K yang dibuka Mentan ini dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Momon Rusmono, sejumlah pimpinan terkait di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), beberapa pejabat terkait Badan Kepegawaian Negara (BKN), dan wakil Kementerian Pendidikan Nasional. Tak ketinggalan, sedikitnya hadir pula 600-an orang kepala dinas pertanian tingkat provinsi/kabupaten/kota dan perwakilan THL Kementan dari seluruh Indonesia.

Momon mengamini. Dia berharap, sosialisasi ASN-P3K dapat disampaikan kembali kepada THL di daerah masing-masing. Khususnya tentang syarat pendaftaran, cara mendaftar, hingga proses mengikuti tes yang digelar BKN.(bppsdmp.pertanian.go.id/EPN)

Solusi Krisis Pakan ala Mahasiswa Polbangtan Manokwari

Bagi para petani di wilayah Papua Barat, keberadaan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari sangat diperhitungkan dan terbukti bermanfaat. Itulah yang terlihat saat sejumlah mahasiswa Polbangtan Manokwari terjun langsung memberikan penyuluhan ke Kampung Aimas, Satuan Perumahan (SP) 3, Distrik Prafi (TDKPP), Manokwari, Papua Barat, Sabtu (23/2). Kunjungan itu adalah tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Polbangtan Manokwari dan peternak kambing setempat. “Mahasiswa kami libatkan dalam membantu peternak untuk menangani krisis pakan,” kata Wakil Direktur I Polbangtan Manokwari yang sekaligus sebagai dosen pembimbing lapangan Susan C. Labatar.

Berdasarkan temuan di lapangan, peningkatan jumlah populasi ternak sempat membuat peternak kesulitan memperoleh pakan dengan jumlah yang lebih besar lagi. Contohnya, seperti yang dirasakan Samio. Awalnya, lelaki pemilik 36 ekor kambing peranakan etawa (PE) itu mengaku tak bermasalah dalam proses penggemukan piaraannya. Namun seiring berkembang usaha, dia mulai kerepotan mencari pakan. Apalagi kini, populasi kambing PE Samio sudah sebanyak 48 ekor.

Kondisi Samio tentu tak bisa diabaikan. Berbekal itulah Susan mendaulat para mahasiswa semester tujuh Program Studi Peternakan dan Kesejehteraan Hewan untuk berbagi ilmu pemanfaatan batang dan kulit pisang sebagai pakan alternatif ternak kambing kepada Samio dan peternak lain di Kampung Aimas.

Di sesi penyuluhan terlihat proses pembuatan pakan yang cukup mudah. Batang dan kulit pisang dicampur ampas tahu serta dedak yang difermentasi menggunakan suplemen organik cair (SOC). Setelah proses fermentasi usai, Samio diajak memberikan pakan tadi pada ternaknya. Terlihat jelas, pakan fermentasi tersebut disantap lahap kambing-kambing milik Samio. “Saya sangat terbantu dengan kedatangan rekan-rekan dari Polbangtan Manokwari, khususnya dalam mengatasi masalah kekurangan pakan,” ujar Samio. Dia berkeyakinan pengembangan usaha pertaniannya sudah bisa teratasi hingga di masa mendatang dengan solusi pemanfaatan batang dan kulit pisang.

Kesempatan ini juga dijadikan momentum penting para mahasiswa untuk melihat langsung aktivitas Samio, sang peternak. Selain beternak kambing, Samio pun menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system) di lahan seluas dua hektare miliknya. Seluruh kotoran kambing diolah menjadi pupuk sebagai sumber nutrisi beragam tanaman. Mulai dari kelengkeng, labu madu, buah naga, hingga pohon kapuk. Sebagai penyangga buah naga, Samio sengaja menggunakan pohon kapuk sebagai media lilitan batang buah naga.(Nurtania Sudarmi/EPN)

Ngudi Rahayu Bertandang ke Polbangtan YoMa

Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Yogyakarta Magelang Jurusan Peternakan kedatangan 30 orang anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti, pertengahan Februari 2019. Kunjungan rombongan pelaku peternakan dari wilayah Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu adalah untuk mempelajari Sapta Usaha Peternakan yang diterapkan di Polbangtan YoMa. Para tamu disuguhi beragam materi penjelasan dan diskusi tentang Sapta Usaha Peternakan oleh Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Akimi, plus agenda berkeliling lapangan di sejumlah kandang pendidikan peternakan milik Polbangtan YoMa.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu Giyanti Sumantri, kehadiran mereka kali ini adalah untuk melihat dan menerima informasi langsung perihal Sapta Usaha Peternakan. Yaitu mulai dari persoalan bibit unggul, pemberian dan jenis pakan ternak yang baik, kandang, kesehatan hewan, reproduksi, manajemen, hingga langkah pemasaran ternak. “Kesempatan ini sangat menguntungkan, dan kami ingin lebih paham,” kata Sumantri.

Para petani ternak asal Magelang ini pun berkesempatan berkeliling melihat kandang ternak besar dan kecil. Bahkan, rombongan yang juga didampingi sejumlah ketua jurusan dan dosen bidang Kesehatan Hewan, Reproduksi Hewan, dan Pakan Ternak itu diajak menengok langsung sosok sapi unggulan yang diberi nama Roro Mendut. Field trip kelompok tani ini juga didampingi Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) dari masing- masing laboratorium ternak kecil, ternak besar, unggas, dan Lab Pakan.

Para peserta terlihat antusias dan kerap mengajukan sederet pertanyaan. Selain menyoal materi, mereka pun menggali informasi seputar kegiatan usaha peternakan yang digeluti sehari-hari.(Tantyanuar/EPN)

Polbangtan Bogor Gandeng Swasta buat Wujudkan Tefa

 

Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) Bogor, Jawa Barat membuat gebrakan. Dalam rangka pelaksanaan nyata sistem belajar Teaching Factory (Tefa)–model pembelajaran yang mengintegrasikan suasana kerja industri ke dalam proses belajar, Polbangtan Bogor menggalang kerja sama dengan tiga perusahaan besar nasional, belum lama berselang. Tujuan kerja sama ini adalah untuk meningkatkan kualitas lulusan dan mengintegrasikan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi di tempat kerja dan menghasilkan produk lulusan polbangtan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketiga perusahaan yang digandeng bersama untuk Tefa ini adalah PT Sido Muncul, PT Nestle Indonesia, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Kepala Unit Tefa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan dan Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor Dedy Kusnadi menyatakan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) dengan dunia industri tersebut sangat membantu dan mendukung pelaksanaan pembelajaran Tefa pada jurusan pertanian. Berbekal itulah Polbangtan Bogor berkomitmen dengan menyiapkan lahan seluas empat hektare. “Kita siapkan lahan dua hektare untuk tanaman jahe merah dengan PT Sido Muncul. Satu hektare lagi kita tanami kelapa sawit bekerja sama dengan PTPN VIII,” kata Dedy.

Achmad Musyadar mengamini. Kepala Unit TEFA Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor itu menambahkan bahwa sudah menjalin komitmen dengan PT Nestle Indonesia bernama “Nestle Intercropping Program” dalam bentuk penanaman kopi, cabe, dan sayuran di lahan seluas satu hektare. Tujuan penggalangan kerja sama ini diharapkan mampu mewujudkan generasi muda lulusan pertanian milenial yang berdaya saing global, berkualitas, dan berdedikasi tinggi. Para lulusan polbangtan itu pun harus mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator), bukan sebagai pencari kerja (job seeker).

Kehadiran era Revolusi Industri 4.0. memang mengubah tatanan pola pikir generasi muda pertanian. Kementerian Pertanian memahami konsekuensi ini dengan upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui sektor pendidikan pertanian. Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pun berbenah melalui transformasi kelembagaan pendidikan. Transformasi kelembagaan dilakukan kepada enam sekolah tinggi penyuluhan perrtanian (STPP) menjadi polbangtan, tiga sekolah menengah kejuruan pembangunan pertanian (SMK-PP), serta Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI). Polbangtan Bogor adalah institusi pendidikan hasil transformasi kelembagaan yang mulai melakukan revolusi institusi melalui kerja sama industri.(Wahyu Hadi Trigutomo/EPN)

SMK-PP Sembawa Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0.

 

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Sembawa, Sumatra Selatan, menerima kunjungan perwakilan PT Cargill Pusat Zulham Koto dan rombongan Indonesia Planters Society (IPS), di pertengahan Februari 2019. Kunjungan tersebut adalah langkah lanjut dari pertemuan perdana yang membahas upaya peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian. Khususnya bagi guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik untuk dapat memenuhi persyaratan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Para tamu disambut Kepala SMK-PP Negeri Sembawa Mattobi’i, Wakil Kepala Sekolah Sarana Prasarana Yoniar Effendi, dan guru program studi Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian Mona Nur Moulia. Rombongan PT Cargill Sekayu yang diwakili Hadi Suryanto, Yontano Maros, dan Joko hadir untuk melihat langsung SMK-PPN Sembawa. Mereka juga didaulat melanjutkan pembahasan rencana pengembangan SDM dalam bentuk model pelatihan atau kesempatan magang bagi guru. Model pelatihan tersebut setara dengan pelatihan calon asisten, baik di bidang budi daya sawit maupun pengolahan sawit demi menciptakan SDM pertanian yang kompeten dan profesional di era Revolusi Industri 4.0. “Kami siap menerima dan memfasilitasi praktik kerja lapangan (PKL) siswa,” kata Hadi.

Langkah kemitraan antara SMK-PP Negeri Sembawa dan Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro) ini juga menjadi penegasan atas konsep besar menciptakan SDM yang berkualitas dan berkompetensi menghadapi Revolusi Industri 4.0. Pusdiktan meyakini bahwa setiap SDM pertanian mesti memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan saat ini, yakni pemakaian teknologi komputerisasi berbasis digital seraya melihat peluang usaha dalam menciptakan inovasi baru.(Mona Nur Moulia/FIK)

Generasi Muda Terdidik Terlatih Solusi Pembangunan Pertanian

Satu cara mewujudkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang andal dan profesional adalah memperkuat pendidikan pertanian yang kredibel melalui penyiapan generasi muda terdidik, terlatih, kompeten unggul dalam agrosociopreneur. Termasuk di antaranya, mengembangkan kelembagaan pendidikan pertanian sesuai standar vokasional pertanian, serta memperbanyak jejaring kerja sama dengan dunia usaha dan industri, serta pemangku kepentingan lainnya. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti dalam acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Vokasional Pendidikan Pertanian 2019 di Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/1) menyatakan bahwa di masa mendatang, SDM yang akan semakin terdidik dan terlatih menjadi penting untuk pembangunan pertanian yang kian dinamis.

Menurut Idha, pengembangan pendidikan pertanian yang sesuai standar vokasional pertanian dilakukan untuk menarik minat generasi muda agar mau kembali ke sektor pertanian. Dengan begitu, generasi muda akan lebih mengetahui dan melihat langsung peluang bisnis pertanian yang sangat produktif. “Transformasi dari STPP [Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian] dan SMK-PP [Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan] menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) tidak sekadar berganti nama. Tapi harus dikuti dan bisa menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri pertanian,” kata Idha. Berbekal itu pula polbangtan akan diarahkan menuju go internasional, agar juga mampu menjawab tantangan kebutuhan luar negeri. Mulai dari sistem pembelajaran, komunikasi, kurikulum, hingga fasilitas, yang semuanya berstandar internasional.

Idha mengutip Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa lulusan polbangtan tak hanya pandai dan terampil, tetapi juga harus bisa berperilaku positif. Solusinya, polbangtan akan bekerja sama dengan Akademi Militer (Akmil) TNI Angkatan Darat untuk membantu mengarahkan kedisiplinan sehingga nantinya mahasiswa bisa menjadi generasi penerus sektor pertanian yang patut diandalkan. Dalam penerapannya, sistem pendidikan polbangtan juga mengarah pada pola Teaching Factory (Tefa): mahasiswa tidak lagi melulu diberikan pembekalan bersifat teoritis, tetapi 70 persen praktis. Tujuannya jelas, agar dunia industri dan usaha bisa “menangkap” semua lulusan polbangtan.

Walau demikian, tentu Kementerian Pertanian tak bisa berjalan sendiri mengembangkan vokasional pertanian di Tanah Air. “Perlu menjalin kerja sama dengan universitas, perusahaan swasta, maupun BUMN [badan usaha milik negara],” ujar Idha.

Saat ini Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah membentuk enam polbangtan, dan sedianya akan menjadi 10 polbangtan pada 2019 ini. Satu polbangtan yang disiapkan bertaraf internasional adalah Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI).(Tiara dan Bayu/AGN)