Pusdiktan Teken MoU Penguatan Kurikulum Polbangtan

Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) meneguhkan komitmen sebagai institusi pencipta generasi baru SDM sektor pertanian yang unggul dalam agrosociopreneur. Satu strategi penguatan tersebut adalah melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan sejumlah lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan perusahaan nasional. Penandatanganan MoU itu dilaksanakan antara Kepala Pusdiktan Idha Widi Arshanti dengan Direktur Pendidikan Akademi Militer TNI Angkatan Darat Kolonel (TNI) Ade Adrian, Dekan Sekolah Tinggi Manajemen PPM Ningky Sasanti Munir, Rektor Institur Pertanian Stiper Yogyakarta Purwadi, dan Kepala Divisi SDM Holding Perseroan Terbatas Perkebunan Nasional (PTPN) III Amalia Nasution di Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/1). “Kita harapkan dengan kerja sama ini alumni polbangtan [politeknik pembangunan pertanian] tidak menganggur, tapi siap kerja menjadi wirausaha,” kata Santi kepada pers.

Kerja sama Pusdiktan dengan beberapa institusi tadi merujuk target penting. Dengan Akmil TNI, misalnya, bertujuan untuk meningkatkan disiplin mahasiswa polbangtan, karena ada kesamaan dalam pola pendidikan bersistem asrama. “Dengan pola asuh di Akmil, saya rasa cukup baik digunakan untuk membina mahasiswa polbangtan,” cetus Santi.

Kemitraan dengan Sekolah Tinggi Manajemen PPM diharapkan dapat membantu mutu kurikulum polbangtan dalam pengembangan pelajaran manajemen. Pasalnya jelas, mutu Sekolah Tinggi Manajemen PPM sudah cukup dikenal di perusahaan swasta dan BUMN. “Kita harapkan Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini memberikan sumbangsih dalam kurikulum manajemen, bimbingan entrepreneur dan akses pasar,” ujar Santi. Sementara kerja sama dengan Holding PTPN III, Santi menengarai peluang buat mahasiswa polbangtan untuk magang atau praktik kerja di seluruh lingkup PTPN di Indonesia.

Saat ini ada enam polbangtan yang dikelola Kementerian Pertanian. Yakni Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari. Tahun ini, Santi menambahkan, ditargetkan berdiri polbangtan lain yang merupakan transformasi dari Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) di Sembawa (Sumatra Selatan), SMK-PP Banjar Baru, dan SMK-PP Kupang. Dan yang khusus lainnya adalah Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang akan berdiri di kawasan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan.

Amalia Nasution mengamini harapan Santi. Menurut dia, tranformasi PTPN menjadi holding yang memiliki 14 anak perusahaan yakni PTPN 1 hingga PTPN 14, membutuhkan calon karyawan yang siap pakai. Selama ini Amalia mengakui, lulusan non-vokasi (S1) sulit bekerja di lapangan, terutama pekerjaan yang terkait dengan teknis. “Kami membuka kesempatan untuk mahasiswa polbangtan untuk magang di lingkup pekerjaan perkebunan, meski bukan jaminan bakal menjadi karyawan PTPN tanpa seleksi,” kata Amalia.

Purwadi juga angkat bicara. Menurut dia, selama ini Instiper telah banyak bekerja sama dengan perusahaan perkebunan sawit swasta dan sebagian alumni akhirnya bekerja di perusahaan tersebut. “Sebab susunan kurikulum kita melibatkan mereka [perusahaan], sehingga ada sinergi,” ujar Sang Rektor. Dia berharap, MoU ini akan membangun sistem SDM polbangtan yang siap kerja.(Tabloidsinartani.com/EPN)

Kapusdiktan: Polbangtan Menuju Go Internasional

Transformasi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian dan Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (polbangtan) adalah jawaban atas kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) sektor pertanian. “Polbangtan ini juga diarahkan go internasional, agar juga mampu menjawab tantangan kebutuhan pasar luar negeri,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti, di acara pembukaan Koordinasi Teknis Pendidikan Vokasi Pertanian 2019 di Arch Hotel, Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/1).

Arsanti meyakini, satu cara mewujudkan harapan tadi adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang andal, mandiri, profesional, dan berdaya saing. Misalnya, dengan memperkuat pendidikan pertanian yang kredibel untuk membentuk generasi muda terdidik, terlatih, kompeten, serta unggul sebagai agrosociopreneur. Dia menambahkan, Pusdiktan pun mengembangkan kelembagaan pendidikan sesuai standar vokasional pertanian, serta memperbanyak jejaring kerja sama dengan DU/DI dan pemangku kepentingan lainnya.

Sistem pendidikan polbangtan mengusung penerapan konsep Teaching Factory (Tefa), pembelajaran yang berorientasi produksi dan bisnis dengan proses penguasaan keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya, untuk menghasilkan produk atau jasa kebutuhan sesuai konsumen. “Sehingga dunia usaha dan dunia industri bisa menangkap semua lulusan polbangtan,” ujar Arsanti. Dan dalam fokus pengembangan kejuruan pertanian tersebut, Pusdiktan pun sudah menjalin kerja sama dengan universitas, swasta, atau badan usaha milik negara.

Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah membentuk enam polbangtan, yang akan menjadi 10 polbangtan pada 2019 ini. Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) adalah pilot project polbangtan bertaraf internasional, melalui Program Pengembangan Kewirausahaan dan Ketenagakerjaan Pemuda di Sektor Pertanian (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services, YESS). “Misalnya dengan menyiapkan sistem pembelajaran, komunikasi, dan kurikulum yang berstandar internasional,” ucap Arsanti.

Transformasi Pendidikan Pertanian di Era Milenial

Perubahan zaman modern yang terus mengikuti di era milenial merupakan pendorong perkembangan bangsa dan negara untuk menyejahterahkan kehidupan rakyatnya, hal ini merupakan sikap nasionalis setiap individu, di mana kita berpijak disitulah bumi dijunjung, maka dimana kita dilahirkan di situlah kita dibesarkan. Indonesia adalah negara tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, merupakan negara yang kaya, dari segi jumlah penduduk maupun sumber daya alamnya. Pertama kita lihat dari SDM nya, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha dan dunia industri. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan yang teramat besar di bidang kehidupan seperti perdagangan, pertanian, transportasi, pemerintahan hingga dunia pendidikan. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam pengembangan pendidikan nasional saat ini menjadi sesuatu yang wajib. Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan konvensional (tatap muka) ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat dua arah, kompetitif, multidisipliner, serta tingginya produktivitas. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu? Kerena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisi lain, berpotensi menyebabkan dekadensi moral dan spiritual.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian – BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti mengungkapkan bahwa peran orangtua, guru, dan dosen sebagai pengawas dan pengarah, menjadi sangat penting agar generasi muda memiliki pondasi moral yang kuat di dalam diri, dalam arti bisa membedakan mana yang baik dan buruklah yang bisa menjamin masa depan generasi muda Indonesia tetep cerah. Selain itu, dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan yang mampu menangkal dan menyaring pengaruh buruk yang berpotensi masuk ke dalam diri generasi muda. Elemen-elemen tersebut seperti: Penguatan Pendidikan Karakter, dimana semenjak 2017 Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Akademi Militer Magelang – Jawa Tengah, berupaya memaksimalkan implementasi pendidikan karakter tersebut dengan menyelenggarakan “Pelatihan Bimbingan Teknis dan Bimbingan Asuh bagi Pengasuh Taruna Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan 2019”. Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain dan juga membentuk karakter peserta didik menjadi SDM yang tangguh, handal dan professional. (Fka)

Kapusdiktan BPPSDMP: Kerja Keras dan Loyalitas Tinggi Akan Menciptakan SDM Berkualitas

Tahun 2019 adalah tahun pembangunan SDM, oleh karena itu lokomotif terdepan adalah pusat pendikan pertanian. Tetkait dengan hal tersebut Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti mengungkapkan, pengembangan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan SMK PP di tantang untuk bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan siap pakai, baik di Dunia Usaha maupun Dunia industri.

Untuk mewujudkan semua itu, Kapusdikta terus membangun dan fokus menjalin berbagai kerjasama dengan pihak luar terutama perusahan perusahaan untuk membangun SDM, pengembangan kurikulum dan perbaikan sarana prasarana.

Dengan tantangan ini, menurutnya bisa diwujudkan bila semua karyawan bisa kompak, kerja keras, dan semangat tinggi. SY/LTU

Mahasiswa dan Dosen Polbangtan Bisa Magang di PTPN

Kerjasama yang dilakukan yakni dalam hal rekruitment alumni polbangtan, magang mahasiswa dan dosen, penyempurnaan kurikulum, pembangunan teaching farm, sekaligus sebagai dosen tamu.

Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian (Pusdiktan) bekerja sama dengan PT Perkebunan Nasional (PTPN) III sebagai holding PTPN untuk pengembangan Politeknik Pembangunan pertanian.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Dr. Idha Widhi Arshanti melakukan sejumlah terobosan dan perubahan di Polbangtan.  Salah satunya membangun kerjasama dengan berbagai dunia usaha yang ditindaklanjuti dengan MoU.   Kerjasama yang dibangun antara lain PisAgro, Prasmulia, Pusat Pelatihan Management, PT Indofood, Cacao suistainable partnership Koltiva SCOPI PT Nestle Kibif

Dunia usaha dan dunia industri lanjut Idha merupakan tujuan akhir Politeknik Pembangunan Pertanian dalam mengembangkan pendidikan vokasi untuk menciptakan lulusan yang siap berkompetisi di dunia kerja (baik sebagai job creator maupun sebagai job seeker).

 

Kerjasama yang dilakukan yakni dalam hal rekruitment alumni polbangtan, magang mahasiswa dan dosen, penyempurnaan kurikulum, pembangunan teaching farm, sekaligus sebagai dosen tamu.

Kapusdiktan mengunjungi PT. PN III  di Kuningan Jakarta Selatan dalam rangka membangun kerjasama (9/1) dan salah satu yang langsung direspon oleh Kepala divisi Sumberdaya Manusia, PT. PN III Hj. Amalia Nasution. Program yang dikerjasamakan adalah Magang Mahasiswa dan Dosen yang akan dilaksanakan dalam tahun ini, dengan lama magang 6 bulan.

Reporter : Hasan L

sumber berita: https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/7590-Mahasiswa-dan-Dosen-Polbangtan-Bisa-Magang-di-PTPN?fbclid=IwAR0VgBQZAG6HaLF6f4UOrtfKjUsavpCBqQ2Flh7ukozYt6DAuDcVoWswi8A

PEPI Serpong: Sinergi Pendidikan, Penelitian dan Rekayasa Teknologi Pertanian

Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) di Serpong, Tangerang merupakan bukti sinergi pendidikan, penelitian, dan rekayasa teknologi pertanian yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian RI untuk mendukung modernisasi pertanian dan menghasilkan petani milenial di seluruh Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro mengatakan sinergi pendidikan, penelitian, dan rekayasa teknologi pertanian untuk menyiapkan SDM pertanian dan pengembangan engineering pertanian terstruktur dan berkelanjutan, dari hulu sampai hilir.

“Modernisasi pertanian melalui pendidikan tinggi bukan lagi mimpi bagi Kementan. Saat ini telah berkoordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah,” kata Sekjen Kementan Syukur I usai visitasi di kampus PEPI Serpong dalam kesatuan lahan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian – BBPMektan, Senin (7/1).

Kementerian yang dimaksud adalah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dan Pemprov Banten serta Pemkab Tangerang.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono menargetkan PEPI Serpong akan menerima mahasiswa baru tahun ajaran 2019/2020 dari seluruh Indonesia, sebagai komitmen mencetak petani milenial terdidik dan berdaya saing.

“BPPSDMP Kementan akan mengerahkan kemampuan untuk mempercepat dan pembangunan kampus PEPI, dan penyiapan proses pendidikannya,” kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) Idha Widi Arsanti melalui keterangan tertulis. (Inneke)

Mentari, Sinarkan Polbangtan Sukseskan Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian di Era Milineal

Mulai hari ini kalian harus punya mimpi besar. Setelah punya mimpi besar harus yakin bisa jadi pemimpin besar, konglomerat dunia. Setelah yakin, buang kebiasaan yang buruk, buang mulai hari ini”, ujar Andi Amran Sulaiman.

Polbangtan adalah institusi pendidikan tinggi vokasi, di bawah binaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), yang merupakan transformasi dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP).

Transformasi ini diharapkan akan melahirkan kembali tenaga terampil di bidang pertanian yang punya semangat wirausaha atau agrisociopreneur, sehingga mampu memberikan terobosan untuk mendukung kedaulatan pangan. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti mengungkapkan kebutuhan tenaga terampil yang memiliki kompetensi di bidang pertanian kembali menunjukkan peningkatan. Ini dapat dilihat dari minat dunia usaha dan dunia industri yang banyak membutuhkan mahasiswa/siswa lulusan dengan kompetensi keahlian pertanian.

Contohnya Mentari, salah satu mahasiswi lulusan Polbangtan Magelang Jurusan Peternakan yang diberikan kepercayaan oleh kelompoknya untuk mengelola usaha ”Green Farm” Budidaya Ayam Pedaging/Broiler, sudah menunjukan keberhasilan usahanya sejak mengikuti kegiatan Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang diluncurkan Kementerian Pertanian tahun 2016 dengan bantuan beasiswa sebesar Rp. 15.000.000,- membuktikan hasil berwirausahanya mendapatkan penghargaan Nasional Juara I kelompok PWMP Berprestasi tahun 2018 dengan kategori Penerima Dana Bantuan Beasiswa tahun 2016.

Pengembangan Usaha yang dilakukan kelompok Green Farm ini tidak terlepas dari bimbingan seorang dosen pembimbing jurusan peternakan, Hj. Suharti yang selalu mendorong Green Farm lebih semangat lagi dalam berwirausaha, melakukan inovasi baru dan melakukan diversifikasi produknya dalam pencapaian kepuasan konsumen itu sangat penting, apabila konsumen puas terhadap produk yang digunakan, berarti Green Farm memiliki kinerja yang baik sehingga akan menciptakan loyalitas bagi konsumen.

Budidaya Ayam Pedaging/Broiler suatu prospek yang menjanjikan di Kota Salatiga, bagi kelompok Green Farm, usaha ini berkembang dalam pemenuhan kebutuhan mitra usaha dan masyarakat sekitar. Berawal dari usaha Green Farm, dengan populasi awalnya 1.500 ekor mendapatkan keuntungan bersih Rp. 1.500.000,-/bulan, sampai dengan tahun 2019 populasi bertambah hingga 5.000 ekor, wah…wah…bayangkan saja berapa keuntungannya? Menyenangkan sekali jika menekuni dan menggeluti usaha di usia muda apalagi di era milineal yang mana pemasarannya sangat mudah menggunakan teknologi dan informasi serba digital.

Semakin memasuki era digital dan keberhasilan usahanya, kini Green Farm merambah usahanya dengan brand produknya “Kampoeng Soesoe” yaitu Pengolahan Susu yang diolah menjadi Kefir, Yoghourt, dan Susu Pasteurisasi. Produk Kefir dibuat dalam bentuk kemasan kosmetik untuk wajah supaya bersih dan bersinar, sedangkan Yoghurt manfaatnya sebagai minuman kesehatan untuk menurunkan tekanan darah, sumber protein yang baik, menggantikan energi setelah. SY/LTU

Pendidikan Vokasi Pertanian Harus Seiring dengan Dunia Usaha dan Industri

Pendidikan dan Dunia Usaha Dunia Industri (DU/DI) bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, tak dapat dinafikan bahwa kesenjangan kompetensi antara dunia pendidikan dan dunia kerja masih terasa. Hingga banyak yang belum mendapatkan pekerjaan karena tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Dr. Idha Widi Arsanti, SP, MP mengatakan, saat ini penyesuaian kurikulum pendidikan vokasi pertanian dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Industri (DU/DI) memang harus selaras. “Karena kampus tidak dapat lagi kita pikirkan sebagai suatu lembaga sosial yang berdiri sendiri. Kampus harus kita pandang sebagai suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lokal, daerah maupun nasional,” katanya, Senin (14/1) saat rapat pertemuan dengan semua pejabat eselon 3 dan 4 Pusat Pendidikan Pertanian.

Lanjutnya, kurikulum pendidikan vokasi pertanian saat ini harus diselaraskan dengan kebutuhan kompetensi oleh DU/DI. Hal ini sejalan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pusat Pendidikan Pertanian yang mempunyai 6 Politeknik Pembangunan Pertanian (POLBANGTAN) yang tersebai di enam lokasi (Bogor, Medan, Malang, Yogyakarta-Magelang , Gowa dan Manokwari) dengan menjalin kerjasama dengan DU/DI yang bergerak di bidang pertanian.

Pelaksanaan pembelajaran dalam hal ini kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan di kampus harus menyesuaikan dengan kompetensi yang diinginkan oleh DU/DI. Kebutuhan tenaga kerja terampil sangat dibutuhkan oleh dunia kerja, apalagi di era MEA, serbuan tenaga kerja asing akan menjadi momok besar bagi tenaga kerja lokal Indonesia. Untuk itu, kita harus memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum pendidikan vokasi pertanian di kampus yang harus mampu menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja yang terampil ini,” pungkas Santi.

Sementara itu, Kasubbid Kurikulum dan Sistem Pembelajan Pusat Pendidikan Pertanian Yudi Astoni, S.TP, M.Sc membenarkan pendidikan dan DU/DI tidak bisa dipisahkan karena melihat perkembangan yang sampai saat ini semakin maju. “Ketika industri semakin maju itu mencerminkan negera tersebut sudah masuk pada capaian yang diharapkan. Bagaimana konsekuensinya harus terus terpelihara dan berlangsung,” imbuhnya. Dibeberkannya kampus harus dapat memberikan berbagai keterampilan dan pengetahuan dalam bentuk suasana nyata sesuai dengan lingkungan kerja, oleh karena itu, diperlukan suatu kerjasama yang erat antara kampus dan industri, baik dalam perencanaan dan penyelenggaraan, maupun dalam pengolalaan pendidikan,” bebernya. SY/LTU

Putra Subang Magang di Polbangtan Malang

Putra daerah dari Kabupaten Sumba Barat datang ke Polbangtan Malang hari ini Jumat (8/09/2017) didampingi staf dari Bappeda mereka bermaksud untuk melaksanakan magang kerja.

Ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Master of Understanding (MoU) yang sebelumnya telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dengan STPP Malang, keduanya bersepakat untuk saling bekerja sama guna meningkatkan mutu sumberdaya manusia khususnya di bidang pertanian. Enam orang putra daerah akan tinggal di STPP Malang selama enam bulan mulai Senin 11 September 2017, mereka akan mengikuti kegiatan di instalasi dan laboratorium. Harapannya enam orang ini bisa membaur, bekerja bersama para mahasiswa walaupun status mereka magang.

“nantinya enam orang ini akan memiliki skill yang tidak kalah dengan mahasiswa, sehingga ada oleh-oleh yang bisa disampaikan ke Bapak Bupati,“ kata Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si menyemangati para peserta magang. Ketua STPP Malang juga berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian dan jadwal magang dengan sungguh-sungguh.

“Jangan putus asa, kesempatan saat ini manfaatkan sebaik-baiknya. Supaya tahun depan layak mewakili daerah menjadi mahasiswa STPP”. Pesan Munifah diakhir sambutannya. (YF)

Putra Sumba Magang di Malang

Putra daerah dari Kabupaten Sumba Barat datang ke STPP Malang hari ini Jumat (8/09/2017) didampingi staf dari Bappeda mereka bermaksud untuk melaksanakan magang kerja.

Ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Master of Understanding (MoU) yang sebelumnya telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dengan STPP Malang, keduanya bersepakat untuk saling bekerja sama guna meningkatkan mutu sumberdaya manusia khususnya di bidang pertanian. Enam orang putra daerah akan tinggal di STPP Malang selama enam bulan mulai Senin 11 September 2017, mereka akan mengikuti kegiatan di instalasi dan laboratorium. Harapannya enam orang ini bisa membaur, bekerja bersama para mahasiswa walaupun status mereka magang.

“nantinya enam orang ini akan memiliki skill yang tidak kalah dengan mahasiswa, sehingga ada oleh-oleh yang bisa disampaikan ke Bapak Bupati,“ kata Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si menyemangati para peserta magang. Ketua STPP Malang juga berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian dan jadwal magang dengan sungguh-sungguh.

“Jangan putus asa, kesempatan saat ini manfaatkan sebaik-baiknya. Supaya tahun depan layak mewakili daerah menjadi mahasiswa STPP”. Pesan Munifah diakhir sambutannya. (YF)