Michael Böhme Berbagi Ilmu Holtikultura Versi Jerman

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kedatangan tamu penting, Selasa (4/12). Dalam acara kuliah umum bertema holtikultura, kampus di kawasan Cibalagung, Bogor, Jawa Barat itu berkesempatan mendapat paparan langsung dari sang pembicara utama, Michael Henry Böhme dari Humboldt University of Berlin, Faculty of Life Sciences, Horticultural Plant Systems Department. Acara kuliah umum itu dibuka Wakil Direktur I Tri Ratna Saridewi, seraya memperkenalkan keberadaan dan kiprah Polbangtan Bogor kepada Profesor Böhme.

Dalam paparannya, Böhme mempresentasikan sejarah ilmu hortikultura. Penyandang gelar profesor dan doktor ilmu pertanian plus doktor peraih gelar honoris causa bidang multimedia itu pun membeberkan fakta perkembangan holtikultura dan permasalahan seputar konsumsi sayuran beserta fakta-fakta hasil penelitiannya di Negeri Tembok Berlin.

Para peserta kuliah umum yang terdiri dosen dan mahasiswa jurusan Pertanian tampak antusias. Di acara yang dipandu dosen jurusan Pertanian Yull Harry Bahar itu, mereka melontarkan sejumlah pertanyaan. Termasuk, kiat bila mau mengaplikasikan ilmu ala Michael di Polbangtan Kota Hujan.

Di penghujung acara, Böhme bertestimoni di hadapan sejumlah awak media massa. Ahli hortikultura itu mengaku bangga dan gembira, telah berbagi ilmu di Polbangtan Bogor. Menurut dia, antusiasme peserta layak mendapatkan apresiasi.

“Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP)”, Semangat Baru Para Generasi Muda Bidang Pertanian

Inilah saatnya membangkitkan kembali pertanian di Indonesia, Petani Indonesia terancam punah. Saat ini rata-rata usia petani nasional mayoritas berumur 45 tahun ke atas. Bahkan, rata-rata usia petani di tiga desa pertanian padi di Jawa Tengah mencapai 52 tahun.

Namun, kaum muda yang bersedia melanjutkan usaha tani keluarga di sana hanya sekitar 3 persen. Ini artinya, ke depan tidak ada lagi generasi baru petani. Tragisnya, ketika banyak orang meninggalkan desa maka kebutuhan pangan akan diimpor dari luar. Apalagi jika lahan tersebut diubah menjadi lahan perkebunan untuk keperluan ekspor, seperti sawit dan lain-lain. Desa yang dulunya eksportir pangan akan berubah menjadi importir. Tak cuma itu, jika lahan produktif berubah fungsi menjadi properti komersial, bayangan tentang masa depan kawasan itu menjadi kawasan bencana alam bakal tak terhindarkan. Air bersih akan menurun drastis, keseimbangan alam akan rusak oleh tatanan gedung bertingkat, dan kemiskinan sudah pasti akan kian merebak.

Keberadaan pemuda untuk melanjutkan usaha tani sangatlah penting dalam mendukung program pemerintah menjadikan Indonesia lumbung padi dunia tahun 2045. Selain untuk menjaga keberlanjutan pertanian, juga sebagai generasi penerus yang diharapkan melanjutkan usaha pertanian, melalui program yang diluncurkan Kementerian Pertanian tahun 2016 yaitu PWMP dilaksanakan dalam 3 tahapan selama 3 (tiga) tahun. Tahap pertama, dimulai dari penyadaran dan penumbuhan minat dan bakat, ini merupakan tahapan awal dengan melakukan program penyadaran akan pentingnya kewirausahaan pemuda. Tahapan awal ini juga merupakan tahapan untuk memberikan motivasi membentuk sikap dan mental serta semangat untuk berwirausaha, menggali ide-ide dan minat untuk berusaha yang sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki, dan mulai merumuskan perencanaan usaha yang akan dikembangkan berdasarkan ide-ide yang sudah muncul. Selanjutnya tahap kedua, mengembangkan usaha yang dimulai dari Rencana usaha yang telah dibuat baik secara rinci maupun global, tertulis maupun tidak tertulis selanjutkan akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha.

Rencana usaha akan menjadi panduan bagi pelaksanaan usaha yang akan dilakukan seorang wirausahawan. Dalam kegiatan implementasi rencana usaha, seorang wirausahawan akan mengerahkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan seperti modal, material dan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan usaha. Setelah

itu tahap ketiga, yaitu tahap pemandirian, dimana keadaan ketika kelompok mampu memutuskan dan melakukan sesuatu secara bersama dengan anggota kelompoknya. Pada tahapan ini kelompok peserta PWMP memiliki sikap mandiri, hampir selalu bisa mengusahakan keperluan usahanya dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Kelompok peserta PWMP merupakan alumni Perguruan Tinggi Mitra yang menerima manfaat bantuan operasional sebesar Rp. 35,000,000,-/per-kelompok, selanjutnya untuk mahasiswa/i Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, dan siswa/i Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan menerima manfaat bantuan beasiswa sebesar Rp. 15,000,000,-/per-kelompok.

Pelaksanaan PWMP di tahun 2017 merupakan proses pengembangan wirausaha yang mana kelompok peserta sudah siap mengembangkan produk-produknya dari segi kualitas dan kuantitasnya. Melalui Tahap Pengembangan Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian, Generasi Muda Pertanian diberikan kesempatan untuk mengembangkan usahanya dibidang pertanian, peternakan dan perkebunan baik budidaya, pengolahan maupun sampai pemasarannya. Tahap ini diarahkan untuk scaling up start up kemikro, mikro keusaha kecil dan usaha kecil ke menengah melalui proses inkubator, mentoring, coaching, accelerator, kolaborasi, dan partnership. Kemudian, Tahap ini dilakukan melalui bantuan promosi dalam berbagai event dan kesempatan. Untuk tahap pengembangan ini dibutuhkan pendamping dengan kompetensi lebih khusus lagi sebagai coach, certifified trainer, livelihood adviser, ahli klaster dll.
-Fika Artarini-